Generic placeholder image

Tahukah kamu Hari Raya Nyepi jadi Inspirasi dunia?

27 Feb 2021   Berita

Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh pada tanggal 14 Maret 2021. Hari Raya Nyepi dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia. Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi dan masyarakat Hindu berhenti dari semua kegiatan di hari suci ini.

Sebagian besar masyarakat di Pulau Bali menganut agama Hindu, semua aktivitas umum ditiadakan. Bandara internasional Ngurah Rai juga tidak beroperasi selama satu hari penuh. Masyarakat yang menetap di Bali juga diminta untuk berdiam diri di rumah masing-masing sehingga tak akan ada aktivitas di seluruh jalan Pulau Dewata.

Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Saka yang jatuh pada tanggal pertama atau kesatu bulan ke-10 dalam kalender Hindu. Nyepi mengandung sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan selalu seimbang dan harmonis, sehingga ketenangan dan kedamaian hidup dapat terwujud.

Nyepi membuat Pulau Bali gelap gulita karena dalam sehari penuh termasuk pada malam hari tidak ada boleh satu rumah pun yang menyalakan lampu. Hal ini juga berlaku bagi wisatawan yang menginap di hotel dan tempat sejenisnya. Maka dari itu, Hari Raya Nyepi memiliki dampak positif untuk kelangsungan hidup manusia!

Menginpirasi Dunia

Dampak positif yang dihasilkan dari penghentian kegiatan di Hari Raya Nyepi menjadi sumber inspirasi bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menetapkan “World Silent Day” yang dirayakan setiap tanggal 21 Maret.

World Silent Day bertujuan untuk mengurangi kegiatan yang merugikan bumi seperti global warming. Dalam hari tersebut, cukup mematikan segala penggunaan listrik dan menghentikan segala kegiatan sejak pukul 10.00 – 14.00 setiap tanggal 21 Maret.

Hari Raya Nyepi memang berkontribusi besar dalam penghematan sumber daya alam. Pulau Bali bisa menghemat penggunaan listrik sebesar 60% dari biasanya. Apabila dirupiahkan penghematan bisa mencapai sekitar Rp 4 Miliar.

Bali juga mampu menghemat bahan bakar solar kurang lebih 500.000 liter atau sebesar 3 miliar atau 210 megawatt. Hal ini dikarenakan adanya pengistirahatan 2 pembangkit listrik di Bali, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk.

World Silent Day digagas oleh Triple-C, colaboration for climate change, yakni gabungan LSM Bali saat konferensi global warming (UNFCCC) pada tahun 2007. Selama Hari Raya Nyepi diperkirakan mampu mengurangi emisi sebanyak 20.000 ton di Bali. Pemilihan tanggal 21 Maret sebagai World Silent Day juga berkaitan dengan Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret.

Dikutip dari kompas.com, Hari Raya Nyepi mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) di Bali. Rata-rata CO2 yang terbuang ke udara di Bali mencapai 20,183 juta ton per hari.

Sumber yang memberikan kontribusi terhadap pencemaran udara atau emisi CO2 terdapat di beberapa sektor, seperti rumah tangga dengan pemanfaatan listrik, pembakaran minyak, sampah yang memberikan kontribusi pencemaran 3,576 juta ton per hari, sektor industri sebesar 0,09 juta ton per hari, transportasi sebesar 3,156 ton per hari, dan sampah 12,356 juta ton per hari.

Nyepi juga bermanfaat untuk mengurangi paparan radiasi gelombang elektromagnetik. Praktisi penyiaran Bali dari Instruktur Bali Broadcast Academia (BBA), I Nengah Muliarta mengatakan Nyepi bukan hanya sebatas penghormatan lembaga penyiaran terhadap kearifan lokal masyarakat Bali.

“Secara universal, Nyepi juga berkontribusi pada penghematan energi, pengurangan emisi, hingga pengurangan paparan radiasi gelombang elektromagnetik,” katanya dalam pernyataan tertulis pada Republika.

Muliarta mengatakan jika dilihat pengurangan paparan radiasi gelombang elektromagnetik dari pesawat televisi dan radio pada tiap rumah akibat Nyepi mungkin terbilang kecil, namun dilihat secara luas untuk cakupan Bali tentu cukup signifikan.

Nyepi secara bisnis memang bisa menyebabkan lembaga penyiaran kehilangan pendapatan iklan akibat tidak bersiaran selama satu hari penuh. Meski demikian, besarnya biaya kesehatan para pekerja penyiaran yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan radiasi gelombang elektromagnetik ini tentu lebih tinggi. “Apalagi selama ini gangguan kesehatan para pekerja bidang penyiaran tak pernah dikaitkan langsung atau tidak langsung dengan paparan radiasi gelombang elektromagnetik,” katanya.

Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2000 menyebutkan saat listrik dialirkan melalui jaringan transmisi, distribusi, atau digunakan dalam berbagai peralatan, saat itu juga muncul medan elektromagnetik di sekitar saluran dan peralatan. Medan ini kemudian menyebar ke lingkungan dan menyebabkan polusi.

Penelitian Eunike D Toar, Jimmy Rumampuk, dan Fransisca Lintong dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado menyebutkan televisi bisa berdampak buruk bagi kesehatan mata akibat sinar biru yang dihasilkan. Sinar biru terdapat pada spektrum yang masih dapat diterima oleh mata, namun menyebabkan kerusakan mata akibat radikal bebas yang dihasilkan. Risiko kerusakan mata tergantung pada panjang cahaya dan intensitas paparan.

Muliarta mengatakan kearifan lokal Nyepi pada akhirnya mengingatkan kembali bahwa perlu ada jeda guna mengevaluasi manfaat dan dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi. Nyepi bukan sebatas kearifan lokal masyarakat Hindu, tapi mengandung konsep universal dalam menjaga kehidupan dan menjaga keseimbangan alam di Bumi ini. Suasana spiritual dengan keheningan Nyepi membuat Bali menjadi lokasi tepat bagi untuk refleksi diri.

Generic placeholder image

STIKI Indonesia Masuk 2 Kampus IT Klaster Madya dari Bali

26 Feb 2021   Berita

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN) memiliki hasil penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi periode tahun 2016-2018. Dalam pengumumannya pada November 2019 lalu, STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) naik klaster menjadi Madya dari sebelumnya Klaster Binaan.

Klasterisasi ini dibuat karena perguruan tinggi tidak hanya wajib melaksanakan pengajaran. Namun, juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Klasterisasi ini dibagi menjadi empat kelompok, yaitu Klaster Binaan, Klaster Madya, Klaster Utama, dan Klaster Mandiri.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKI Indonesia, Ida Bagus Ary Indra Iswara menjelaskan, keuntungan masuk dalam klaster Madya adalah dapat mengelola dana penelitian sebesar Rp 7,5 Miliar per tahunnya. Sebelumnya, tiap perguruan tinggi di klaster Binaan hanya mendapatkan dana Rp 2 Miliar per tahun.

“Keuntungan lain kita bisa buat Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) yang dibiayai oleh pemerintah, jadi kita bisa mengajukan proposal ke pusat dengan tema unggulan kita, kalau klaster Binaan enggak bisa mengajukan itu,” kata Ida Bagus Ary ditemui Jumat (18/2/2021).

Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi berdampak pula pada pengelolaan dana desentralisasi sesuai dengan rencana induk penelitian masing-masing perguruan tinggi, peta kebutuhan program penguatan kapasitas per klaster, dan mekanisme pengelolaan penelitian.

Komponen yang dievaluasi meliputi sumber daya penelitian 30 persen, manajemen penelitian 15 persen, iuran atau output 50 persen, dan revenue generating 5 persen. Jumlah kontributor penilaian sebanyak 1.977 perguruan tinggi, meningkat dari periode 2013-2015 yang hanya 1.447 perguruan tinggi.

Sebanyak 47 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Mandiri, 146 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Utama, 479 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Madya, dan 1.305 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Binaan. Dalam peringkat Klaster Madya, STIKI Indonesia berada di peringkat teratas selain ITB STIKOM Bali untuk kampus IT swasta di Bali.

Komponen yang berhasil ditingkatkan oleh STIKI Indonesia adalah jumlah publikasi dosen, baik dari jurnal nasional terakreditasi, internasional, maupun partisipasi dalam konferensi ilmiah. Dalam tiga tahun terakhir, STIKI Indonesia telah mampu  memuat tiga jurnal yang memiliki akreditasi SINTA 3. Lebih jelas terkait Jurnal STIKI Indonesia bisa dibaca di sini.

Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi untuk periode tahun 2016-2018 tersebut dilakukan berdasarkan data yang sudah dikumpulkan oleh masing-masing perguruan tinggi di Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Simlitabmas).

Kemenristek mengingatkan jangan sampai perguruan tinggi hanya fokus pada pengajaran sehingga mengabaikan penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Perguruan Tinggi Negeri mau pun Perguruan Tinggi Swasta diharapkan dapat bekerjasama dalam penelitian dan pemberdayaan masyarakat, sehingga kualitas penelitian dapat menunjang ranking perguruan tinggi itu sendiri.

Kemenristek juga mengajak staf pengajar dan peneliti di perguruan tinggi seluruh Indonesia untuk meningkatkan dan memberikan karya terbaik, dengan kearifan lokal daerah masing-masing dengan penugasan kepada perguruan tinggi yang memang sudah cocok menjadi mitra peneliti untuk beberapa prioritas nasional yang menjadi fokus pemerintah.

Generic placeholder image

Tertinggi di Bali! 3 Jurnal STIKI Terakreditasi SINTA 3 Kemenristek

25 Feb 2021   Berita

Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) membangun Science and Technology Index yang diberi nama SINTA. Diluncurkan pada tahun 2017, SINTA adalah sistem aplikasi yang dibuat untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional dari dosen dan peneliti di Indonesia. SINTA dapat memetakan kepakaran dan pemeringkatan kinerja dari penulis, institusi dan jurnal terbaik di Indonesia.

SINTA diharapkan dapat memotivasi para dosen dan peneliti agar lebih giat menghasilkan publikasi. Sejalan dengan harapan Kemenristekdikti tersebut, STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) terus berupaya menggenjot para dosennya terus aktif dalam publikasi internasional. Baru digenjot sejak tiga tahun terakhir, STIKI Indonesia telah mampu memuat tiga jurnal yang memiliki akreditasi SINTA 3.

“Jurnal kita ada tiga, dan ketiganya ada di SINTA 3, jadi kita lebih unggul kalau dari sisi jurnal. Lebih tinggi grade kita, kalau untuk kampus swasta IT yang lebih tinggi di bali untuk saat ini kita sebagai jurnal IT untuk kampus swasta di Bali,” kata Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKI Indonesia, Ida Bagus Ary Indra Iswara, Jumat (19/2/2021).

Menurut Ida Bagus Ary, hal ini merupakan satu prestasi yang dicapai oleh STIKI Indonesia. Prestasi ini juga sebagai langkah dalam upaya mewujudkan visi STIKI Indonesia yang berkomitmen ingin menjadi Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia Timur.

Lewat akreditasi SINTA 3 ini juga menjadi bukti ke masyarakat khususnya calon mahasiswa bahwa STIKI Indonesia merupakan tempat belajar yang tepat. Mahasiswa juga bisa berbangga bahwa jurnal STIKI Indonesia telah diakui oleh Kemenristek.

Publikasi ilmiah yang masuk akreditasi SINTA 3 ini juga menjadikan bukti bahwa Perguruan Tinggi yang memiliki semangat ‘Menjadi dan Memberi’ ini bisa bersaing dengan Perguruan Tinggi lain yang telah terlebih dahulu ‘matang’. Apalagi biaya pendaftaran untuk kuliah di STIKI Indonesia tergolong lebih murah dibandingkan dengan Perguruan Tinggi swasta IT lainnya di Pulau Bali.

“Jurnal SINTA 3 ini prestasi luar biasa untuk dilihat mahasiswa. Mahasiswa masuk STIKI tidak hanya lihat biaya pendaftaran. Kalau dari biaya pendaftaran kan STIKI paling rendah dari pesaing tapi dari biaya rendah kita bisa berprestasi seperti ini, itu nilai plus kita. Jadi dengan biaya terjangkau kita bisa berprestasi. Jurnal milik STIKI itu sudah diakui SINTA Kemenristek Dikti,” ujar Bagus Ary.

Jurnal STIKI Indonesia yang masuk akreditasi SINTA 3 ini juga menjadi bukti dari komitmen demi mewujudkan visi menjadi Perguruan Tinggi Swasta IT Terbaik di Indonesia Timur. Untuk mewujudkan hal tersebut, setidaknya ada tiga hal yang harus diutamakan, di antaranya adalah pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dari sisi pengajaran, STIKI Indonesia telah berkomitmen memberikan kurikulum terbaik untuk mahasiswa.

Sisi penelitian telah digenjot sejak tiga tahun lalu dan berhasil diakui oleh Kemenristek melalui SINTA 3. Sementara, di bidang pengabdian, STIKI Indonesia sebagai kampus IT terpopuler di Bali terus mendorong agar para dosennya mampu mengimplementasikan penelitiannya ke masyarakat. Keunggulan lain dari STIKI Indonesia adalah mahasiswa dapat melakukan penelitian dengan dosen. Hal ini dapat menjadi medium bagi mahasiswa yang memiliki minat melakukan penelitian dengan terjung langsung ke lapangan.

STIKI Indonesia saat ini juga tengah merancang sistem agar mahasiswa yang ingin lulus cukup dengan publikasi jurnal tanpa mengerjakan Tugas Akhir. Langkah ini dianggap akan memudahkan mahasiswa karena mereka dapat menjalin kolaborasi dengan dosen.

“Kita juga masih rancang bagaimana caranya agar TA (Tugas Akhir) mahasiswa cukup dengan publikasi jurnal, bisa mungkin nanti masuk jurnal SINTA  bisa kita godok, kalau nanti sudah oke mahasiswa tidak perlu lagi TA,” katanya.

Tiga Jurnal STIKI Indonesia yang masuk akreditasi SINTA 3 di antaranya, SINTECH (Science and Information Technology) Journal, Jurnal Bahasa Rupa dan Jurnal RESISTOR. Untuk lebih jelasnya bisa di cek link ini.

Pemerintah melalui Kemenristekdikti memang tengah gencar berupaya mendongkrak hasil-hasil penelitian dalam bentuk jurnal ilmiah untuk dipublikasikan secara internasional. Jurnal ilmiah yang dapat diakses oleh pengguna internet di dunia merupakan sebuah aset negara yang sangat penting. Tingkat peradaban satu negara saat ini yang dilihat adalah jumlah publikasinya. Oleh sebab itu, setiap negara saling memperebutkan untuk mendapatkan peringkat tertinggi dalam publikasi ilmiah.

Jumlah penduduk di Indonesia relatif lebih banyak dari beberapa negara tetangga. Namun, dalam kenyataannya jumlah publikasi di tanah air masih kalah dengan negara-negara tetangga. Kemenristekdikti mengungkapkan salah satu penyebabnya adalah minimnya publikasi internasional para peneliti.

Berdasarkan hal tersebut, maka untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, pemerintah melalui Kemenristek Dikti membangun Science and Technology Index yang diberi nama SINTA.