Lestarikan Budaya Bali, STIKI Indonesia Segera Bentuk Pusat Studi Digital Culture

Keberagaman budaya menjadi identitas paling berharga untuk bangsa Indonesia. Budaya mengandung ciri khas dan nilai-nilai penting dari berbagai wilayah. Keberagaman budaya juga mampu memelihara kesatuan dan persatuan.

Seluruh lapisan masyarakat harus terus menghargai dan melestarikan budaya bangsa. Sehingga budaya tidak luntur dan dapat diwariskan untuk generasi mendatang. Meski begitu, perlu diakui bahwa kebudayaan nusantara mulai luntur akibat masuknya pengaruh budaya asing baik dari Barat mau pun Asia.

Perkembangan teknologi juga turut memberikan pengaruh besar. Maka ada indikasi krisis karakter dan identitas serta integritas di kalangan generasi muda saat ini.

Demi menjaga kelestarian budaya Indonesia khususnya budaya Bali maka Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) segera membentuk Pusat Studi Digital Culture.

Rencana pembentukan Pusat Studi ini diawali dengan menyelenggarakan Forum Group Discussion yang dihadiri oleh Filolog Bali dan Jawa Kuno Sugi Lanus dan Asisten Profesor Departmen Ilmu Komputer Universitas Udayana Cokorda Pramartha. Forum ini diselenggarakan melalui Zoom Meeting dan streaming via Youtube pada Jumat (19/2/2021).

Ketua LPPM STIKI Indonesia Ida Bagus Ary Indra Iswara yang membuka forum ini menjelaskan bahwa Pusat Studi ini nantinya dapat membantu melestarikan budaya khususnya budaya Bali yang juga memiliki keberagaman. Dia mencontohkan sebagai pusat pariwisata Indonesia, Bali tentu banyak dicari oleh wisatawan lokal mau pun asing yang memiliki minat kebudayaan.

Namun, nyatanya, saat wisatawan mencari informasi tentang budaya Bali terkadang mereka kebingungan mencari kemana. Sehingga cara yang  ditempuh adalah cukup dengan mencari di internet seperti melalui Wikipedia, website, blog dan sebagainya yang belum tentu memiliki validitas.

Lewat Pusat Studi ini nantinya informasi tentang budaya Bali dapat tersedia sesuai dengan koridornya karena akan diolah oleh para akademisi yang tentu melakukan penelitian secara mendalam terlebih dahulu sebelum informasi itu tersebar luas.

“Kita (STIKI Indonesia) bisa dibilang memulai yang pertama untuk kampus IT yang membuat Pusat Studi berbasiskan budaya, di sini besar harapan kami bisa membantu melestarikan kebudayaan Indonesa khususnya budaya bali,” katanya dalam forum.

Sebagai kampus IT di Bali, STIKI Indonesia tentu dapat berkontribusi melestarikan budaya melalui teknologi. Selain itu, pemanfaatan teknologi tentu dapat menjadi jalur yang tepat karena generasi milenial dan generasi Z sangat akrab dengan penggunaan teknologi.

Salah satu yang bisa disediakan oleh STIKI Indonesia adalah dengan berwisata religi melalui Virtual Reality. Sebagai contoh, seorang wisatawan asing akan mengunjungi salah satu pura. Padahal, untuk memasuki pura bagi orang Bali diperlukan berbagai aturan yang telah diwariskan secara turun menurun. Namun, nyatanya wisatawan asing dapat dengan mudah memasuki pura yang seharusnya tidak dapat dimasuki dengan mudah karena pura merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu.

“Misalnya ada Virtual Reality wisatawan asing bisa mengelilingi Pura jadi kesucian Pura itu tetap terjaga,” katanya.

Contoh lain yang bisa dilakukan oleh Pusat Studi ini nantinya adalah terkait rekonstruksi data. Dia menjelaskan semisal adanya candi yang terkena gempa bumi dan ingin dibangun kembali maka ada kesulitan untuk melakukan rekonstruksi karena informasi digital yang ada hanya sedikit. Lewat Pusat Studi nantinya akan menyediakan Augmented Reality (AR) sehingga akan memudahkan kembali untuk membangun candi dengan detail yang serupa.

“Saat Candi runtuh kita bisa mengilustrasikan candi-candinya, titiknya sepeti apa melalui AR,” jelasnya.

Pusat Studi ini nantinya juga bisa mendigitalisasi lontar yang bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha).

Dalam kesempatan sama, Filolog Bali dan Jawa Kuno Sugi Lanus mengapresiasi semangat STIKI Indonesia yang ingin berperan dalam melestarikan budaya Indonesia khususnya budaya Bali. Terlebih, Pusat Studi ini muncul di tengah krisis Pandemi Covid-19 yang membuat banyak lembaga terdampak sehingga harus berhenti beroperasi.

Sugi Lanus yang merupakan pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi ini mengakui masih banyak arsip tentang Bali yang belum tersedia secara digital. Dia menyebutkan arsip yang belum ditemukan di antaranya terkait Pesta Kesenian Bali, arsip video festival, arsip pameran lukisan dan arsip design kerajinan.

“Sementara arsip yang tersedia secara digital adalah prasasti digital, lontar digital, arsip foto kolonial Bali, museum lukisan digital. Tapi tidak ada satu pun berada di Bali,” katanya.

Oleh sebab itu, diharapkan Pusat Studi ini bisa dibantu oleh berbagai pihak untuk dapat mengarsipkan budaya Bali secara digital yang belum ada tersebut. Dalam kesempatan yang sama, Asisten Profesor Departemen Ilmu Komputer Universitas Udayana Cokorda Pramartha menilai langkah STIKI Indonesia membentuk Pusat Studi Digital Culture sangat tepat. Sebab, generasi muda saat ini memang sangat akrab dengan teknologi informasi. Maka, menjadi penting bahwa kebudayaan Bali perlu digitalisasi.

Cokorda dalam pemaparannya mengatakan banyak  persepsi yang menganggap bahwa warisan budaya merupakan sesuatu yang kuno. Padahal definisi yang sebenarnya adalah warisan budaya merupakan pengalaman yang terjadi di masa lampau yang dilanjutkan hingga sekarang dan bisa berubah seiring waktu.

“Sebagai contoh kalau dulu menulis di Lontar. Sekarang mencari Lontar saja sudah susah. Kita meneruskan warisan budaya itu menulis di WhatsApp atau Facebook,” jelasnya.

Informasi tentang kebudayaan Bali memang sangat sedikit. Dia mencontohkan saat berkunjung ke Puri Klungkung ternyata sejarah pura tersebut hanya ditulis dengan satu lembar saja. Tentu, akibat informasi yang minim bagi yang berkunjung tidak dapat mengetahui sejarah Puri Klungkung dengan lengkap.

Forum Group Discussion diikuti oleh dosen STIKI Indonesia yang hadir melalui zoom meeting. Mahasiswa mengikuti melalui via streaming Youtube. Dalam diskusi tersebut disepakati bahwa nilai-nilai luhur harus terus disuarakan untuk menangkal pengaruh eksternal-negatif yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara melestarikan, memajukan, dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan serta menginternalisasinya di masyarakat khususnya generasi muda.

Meski ingin belajar IT, mahasiswa yang kuliah di STIKI Indonesia mendapatkan mata kuliah yang berkaitan dengan Bali yaitu Pariwisata Budaya. Maka, mahasiswa lulusan STIKI Indonesia bisa tetap paham tentang budaya Bali. Ingin tahu informasi lebih lanjut tentang STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT terpopuler di Bali, simak link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id