Bawa Nama STIKI Indonesia, Vivi terlibat TWKM di Kalimantan Selatan

Vivi (Mahasiswa STIKI Indonesia) dalam salah satu aksinya di acara TWKM yang berlangsung di Kalimantan Selatan.

Vivi (Mahasiswa STIKI Indonesia) dalam salah satu aksinya di acara TWKM yang berlangsung di Kalimantan Selatan.

Salah satu mahasiswa STMIK STIKOM Indonesia (STIKI Indonesia), Fransiska Flavina Bhubhu (Vivi), mewakili Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Dama Satya untuk mengikuti TWKM (Temu Wicara Kenal Medan) XXXI di Kalimantan Selatan pada Senin sampai Minggu (21-27/10).

Kegiatan TWKM merupakan kegiatan berskala nasional yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti (Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi). Mapala Meratus Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin berkesempatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan ini yang diikuti oleh perwakilan Mapala seluruh universitas di Indonesia.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua, yaitu TW (Temu Wicara) dan KM (Kenal Medan). Kegiatan Temu Wicara membahas tentang isu-isu lingkungan terutama mengangkat isu “Save Meratus” yang merupakan sebutan untuk perjuangan menyelamatkan seluruh hutan di Kalimantan. Kegiatan Kenal Medan merupakan kegiatan pelatihan, seperti Panjat Tebing, Hutan Gunung, Lingkungan Hidup, dan Arus Jeram.

Kegiatan Panjat Tebing dilakukan di Desa Batu Laki, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tempat ini dinilai berpotensi menjadi lokasi wisata yang berbasis masyarakat. Untuk Hutan Gunung dilakukan dengan tracking menelusuri potensi wisata di puncak Halau-Halau, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kegiatan Lingkungan Hidup dilakukan di Pulau Curiak, Kabupaten Batola dengan pelestarian hewan Bekantan yang merupakan maskot Kalimantan Selatan. Selain itu, Caving merupakan kegiatan menyusuri gua, pengenalan alam, dan pengenalan topografi gua. Namun, untuk kegiatan Arus Jeram dibatalkan karena debit air di air terjun yang menjadi lokasi kegiatan tidak mencukupi.

Menurut Vivi, kegiatan ini sangat menyenangkan. “Dari kegiatan ini, kita bisa belajar potensi-potensi wisata dari berbagai hal. Bukan hanya sungai ataupun laut, tetapi juga dari panjat tebing dan gua dapat dijadikan sebagai tempat wisata. Namun, akan percuma juga jika medianya tidak ikut dijaga.” ujar Vivi antusias. Dari kegiatan ini, Vivi pun berharap agar untuk kedepannya kegiatan ini berjalan sukses dan dari pihak Kampus STIKI Indonesia dapat mengirim orang lebih banyak lagi untuk kegiatan seperti ini. (IGI2/STIKIZen/Humas)