Generic placeholder image

Lewat PPBT 2019, Bali 3D 3 in 1 Raih Hibah dari Kemenristek Dikti

14 Mei 2019   Berita

Print 3D dan Hasil Print 3D yang diproduksi oleh Bali 3D 3 in 1.

Print 3D dan Hasil Print 3D yang diproduksi oleh Bali 3D 3 in 1.

Denpasar – Tenan Inkubator Bisnis (Inbis) STMIK STIKOM Indonesia (STIKI Indonesia) pada tahun 2019 ini kembali berhasil memenangkan hibah Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi ( PPBT) yang difasilitasi oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Kali ini pada program yang bertujuan untuk membangun iklim yang kondusif  serta tumbuh dan berkembangnya perusahaan pemula berbasis teknologi, dan mendukung komersialisasi hasil litbang di Indonesia ini Inbis STIKI Indonesia berhasil memperoleh hibah sebesar Rp. 407.048.000 dengan jenis PPBT yang bergerak dibidang produk dan jasa Print 3 Dimensi (3D Printing).

 Adalah Bali 3D 3 in 1 sebuah start up yang di bangun oleh tenant Inbis STIKI Indonesia  dengan struktur founder Putu Ary Widyandatara , Co-founder Dewa Putu Rama  Prabawa, Inventor Edy Toha serta I Made Widyasmara sebagai Pendamping .  Bali 3D 3 in 1 khusus bergerak di bidang produk dan jasa berupa printer 3d serta layanan jasa print 3d seperti pembuatan atau cetak casing hp, figur, dan lainya.

 Menurut Kepala Inbis STIKI Indonesia I Gede Totok Suryawan, S.Kom.,M.T pihaknya sangat bangga oleh karena sejak didirikannya Inbis STIKI Indonesia beberapa tahun yang lalu hingga kini selalu mampu mengantarkan para tenantnya sukses meraih hibah. “Saya sangat bangga, karena berkat keseriusan kita semua di Tim Inbis dan para Tenant selama ini kita selalu lolos mendapatkan Hibah di Kemenristek Dikti. Khusus untuk Bali 3D 3 in 1 ini nilainya cukup besar yaitu diangka 400 juta lebih, tentu ini adalah sebuah prestasi dan yang terpenting adalah dengan hibah ini khususnya Bali 3D 3 in 1mampu menciptakan komersialisasi hasil-hasil inovasi yang memiliki tingkat kesiapan teknologi yang telah matang” Tegasnya.

 Totok juga menambahkan bahwa kesuksesan Bali 3D 3 in 1 tersebut tidak terlepas dari peran Inkubator Bisnis. “Lembaga inkubator bisnis teknologi berperan sangat penting karena pada umumnya perusahaan pemula sangat rentan terhadap kegagalan atau kebangkrutan terutama di fase awal pendirian. Kegagalan tersebut disebabkan antara lain karena kekurangan modal, kesulitan implementasi teknologi, manajemen bisnis yang belum baik, dan minimnya pengalaman di dunia bisnis.Oleh karena itu, melalui proses inkubasi yang diberikan oleh inkubator seperti pendampingan, bimbingan, pelatihan, fasilitasi pengembangan produk dan akses ke lembaga keuangan dan pemasaran yang diberikan kepada para perusahaan pemula berbasis teknologi, maka mereka mampu meningkatkan bisnis dan akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk dan usaha mereka” Imbuhnya.

Generic placeholder image

Duet Dosen Muda STIKI ini Ciptakan IN-SUIT dengan teknologi IoT

03 Mei 2019   Berita

Edy Suardyana (kiri) sedang menjelaskan IN-SUIT.

Edy Suardyana (kiri) sedang menjelaskan IN-SUIT.

Denpasar – Berangkat dari pengalaman pribadi dimana sang nenek terlambat diajak ke Rumah Sakit karena jatuh, akhirnya I Putu Edy Suardiyana Putra berkolaborasi dengan I Gusti Ngurah Desnanjaya memadukan keahliah dalam bidang Internet of Think (IoT) untuk menciptakan Intelligent Suit and Assistive Technology (IN-SUIT).

Dijumpai dalam  acara pendampingan Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) oleh Tim Penilai dan Pendamping CPPBT Kemenristekdikti 2019 pada Kamis (2/5) kemarin, duet Dosen Muda berbakat STIKI Indonesia (STMIK STIKOM Indonesia) ini memaparkan IN-SUIT.  “Jadi, IN-SUIT hadir sebagai salah satu sistem yang menggabungkan teknologi wearable kecerdasan buatan, dan aplikasi cloud yang dipergunakan untuk pasien lanjut usia mendeteksi insiden jatuh dan memanggil pertolongan baik itu ambulance atau dokter secara otomatis. Perangkat wearable itu dipergunakan untuk mendeteksi pergerakan ekstrim dari pengguna yang kemudian mengirimkan data ke aplikasi cloud, selanjutnya aplikasi ini bertugas untuk memvalidasi pergerakan ekstrim. Apabila pergerakan ektrim tersebut adalah insiden jatuh, maka operator IN-SUIT akan menghubungi keluarga pasien dan ambulance” Papar Edy Suardiyana di dampingi Ngurah Desnanjaya.
Edy Suardiyana juga menjelaskan bahwa alat IN-SUIT ini akan secara sempurna dapat digunakan dan di pasarkan nanti pada bulan November 2019. “Mei 2019 ini kita akan mencoba untuk finishing MVP kita 100%, target pada akhir Mei sudah memiliki devicenya yang sudah berjalan walau bentuknya masih sederhana. In cloud dan in tacknya saya pastikan akan selesai pertengahan Mei agar siap untuk dipergunakan. Nanti pada bulan Juni, kita akan testing secara formal ke calon penggunanya yakni pasien di Panti Jompo. Pada Juli nanti testing ke calon pengguna di luar Panti Jompo. Sehingga pada Agustus 2019 nanti akan diadakan revisi terkait kekurangan-kekurangan dari hasil uji coba di bulan Juni dan Juli, agar pada September nanti dapat diuji coba ulang. Harapannya di bulan Oktober atau November nanti sudah ada barang yang bisa dijual,” ucap  Edy Suardiyana.
Sementara itu, Ketua STIKI Indonesia I Dewa Made Krishna Muku, S.T.,M.T menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para Dosen STIKI yang telah mampu mengaplikasikan disiplin ilmunya sehingga mampu bermanfaat bagi masyarakat salah satunya dengan adanya Produk IN-SUIT yang berbasis IoT.
Seperti diketahui, Intelligent Suit and Assistive Technology (IN-SUIT) merupakan penerima hibah CPPBT Kemenristekdikti 2019 senilai Rp.248.100.000 di bawah binaan Inkubator Bisnis (INBIS) dan LPPM STIKI Indonesia. (ker/inwa/yunda)