Generic placeholder image

Work for Humanity, Dosen STIKI Bangun Bilik Antiseptik di Tengah Situasi Pandemi

23 Mar 2020   Berita

WhatsApp Image 2020-03-23 at 8.32.40 PM

Denpasar – STMIK STIKOM Indonesia menciptakan sebuah alat sterilisasi dalam upaya mencegah penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19) atau virus corona untuk warga kampus.

COVID-19 yang kini menjadi wabah penyakit mematikan yang pertama kali menyebar di Wuhan, China saat ini telah masuk ke Indonesia. Tercatat lebih dari 500 kasus yang terjangkit virus ini di Indonesia. Berbagai pencegahan dilakukan, mulai dari rajin mencuci tangan, isolasi selama 14 hari, hingga melakukan social distancing (pembatasan interaksi secara disiplin).

Melihat mewabahnya virus Corona di Indonesia, khususnya di Bali, STIKI Indonesia melalui Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kreativitas (LPIK) tergerak untuk melakukan pencegahan lebih. Kepala LPIK, I Gusti Made Ngurah Desnanjaya, M.T. bersama rekan dosen dan mahasiswa merancang dan membangun sebuah alat yang diharapkan mampu mensterilisasi manusia dari virus. Alat ini berupa sebuah bilik yang dikelilingi dinding transparan. Di dalam bilik ini, terdapat spray (alat penyemprot) yang akan menyemprotkan antiseptik. Antiseptik ini akan membunuh atau menghambat pertumbuhan virus.

“Cara kerja alat ini cukup sederhana. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan disemprotkan antiseptik secara otomatis selama 2-3 detik. Kemudian, orang yang telah tersterilisasi bisa keluar dari bilik tersebut. Alat ini tidak akan bekerja jika tidak ada pergerakan dari manusia. Saya rasa sih semua kampus IT khususnya di Bali bisa membuat alat seperti ini ya. Harapannya setelah terbiasa cuci tangan  di rumah, ketika datang di kampus ada tindaklanjutnya, dan bisa mengurangi penyebaran virus corona ini.” Tutup I Gusti Made Ngurah Desnanjaya, M.T. Rencananya bilik ini akan diuji coba lebih lanjut sebelum dipublikasikan ke lingkungan masyarakat.

Generic placeholder image

Purnama Kesanga, Simbolis Penyerahan Bantuan Bedah Rumah Dies Natalis XII

09 Mar 2020   Berita

DSC00975[1]

Denpasar STMIK STIKOM Indonesia melakukan bakti sosial berupa pemberian bantuan bedah rumah dan pemberian tempat sampah. Masih dalam rangka memperingati Dies Natalis XII STIKI Indonesia, penyerahan bantuan bedah rumah dan tempat sampah secara simbolis dilaksanakan pada Senin (9/3/2020) di Dusun Samsaman Alas, Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan.

Dies Natalis merupakan perayaan hari lahir diperingati dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Dies Natalis XII tidak hanya dimeriahkan dengan acara yang bersifat entertaintment atau hiburan semata. Kegiatan sosial dilaksanakan yang diharapkan memberi manfaat kedepannya. Membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan serta kepedulian terhadap lingkungan.

Proses pengerjaan rumah telah dilakukan sejak beberapa waktu sebelumnya. Pada Senin (9/3), Ketua STIKI Indonesia bersama dosen dan panitia mahasiswa berangkat ke Desa Kukuh untuk simbolis penyerahan bantuan bedah rumah kepada satu kepala keluarga dan pemberian tempat sampah kepada Desa Kukuh. Menjadi berkah karena hari penyerahan bantuan bertepatan dengan rahina purnama.

Tempat sampah yang diserahkan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu tempat sampah dengan warna merah, kuning, dan hijau. Tempat sampah ini sudah dibedakan sesuai dengan jenis sampah yang akan ditampungnya. Tempat sampah ini nantinya akan diletakkan di tempat-tempat umum dan pura.

Kepala Desa Kukuh, I Nyoman Widhi Adnyana, S.Kom., M.Pd. menyambut kunjungan STIKI dengan hangat. Pada sesi sambutan yang bertempat di wantilan, masyarakat Desa Kukuh menyampaikan pujian bahwa perbekel adalah orang yang cekatan. Jika ada suatu masalah maka dirinya akan langsung  menyelesaikannya. Hal itulah yang membuat masyarakat bangga terhadap dirinya.

Ketua STIKI Indonesia, I Dewa Made Khrisna Muku, S.T., M.T., berharap agar kedepannya kegiatan seperti ini, terutama pada Dies Natalis STIKI Indonesia selalu dilakukan. Tidak harus berupa bantuan bedah rumah, dapat juga berupa bantuan yang lainnya.

“Saya senang ada aktivitas STIKI Indonesia yang langsung terlibat ke dalam masyarakat, sehingga hal ini dapat berguna untuk masyarakat,” ujarnya.

Di Kabupaten Tabanan sendiri, ada pemberian “tugas” yang unik kepada desa. Desa Kukuh mendapat bagian sebagai desa digital. Selain penyerahan bantuan, juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Dengan hal ini diharapkan adanya kerjasama lebih lanjut antara STIKI Indonesia dengan Desa Kukuh dalam pembangunan Desa Kukuh menuju desa digital. Jadi, dosen yang ingin melaksanakan pengabdian atau mahasiswa yang mengambil Tugas Akhir (TA) dapat diarahkan ke Desa Kukuh. (IGI2/Humas)

Generic placeholder image

Aksi Sosial Dalam Rentetan Dies Natalis XII, STIKI Indonesia Bersama UKM Mapala Lakukan Penanaman Pohon

07 Mar 2020   Berita

20200307_100626[1]

Denpasar – STMIK STIKOM Indonesia bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) berpartisipasi dalam aksi sosial penanaman pohon di areal Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan DIES NATALIS XII STIKI Indonesia yang berlangsung pada Sabtu (7/3/2020). Kegiatan ini merupakan program kerja dari UKM Mapala.

Areal TPST dijadikan sebagai lokasi dalam penanaman pohon. Berawal dari inisiasi salah satu subak Desa Pecatu yang bernama Subak Abian Widya Mandala Mekar. Subak tersebut merencanakan melaksanakan penanaman bibit yang cocok untuk daerah desa Pecatu. Terdapat 3 kategori bibit tanaman yang dipilih, antara lain bibit kayu, bibit buah-buahan, dan bibit upakara. Bibit kayu yang dipilih adalah bibit mahoni sebanyak 2000 bibit. Untuk bibit buah-buahan dipilih bibit sawo kecik, jambu biji, dan sirsak yang masing-masing berjumlah 1000 bibit. Bibit upakara yang dipilih adalah cempaka dan intaran.

Ketika sudah dibagikan kepada masing-masing anggota subak, tersisa beberapa ratus bibit. Mereka akhirnya memutuskan untuk menanam bibit di TPST milik Badan Usaha Milik Desa Catur Kuwera Sedana Desa Pecatu. TPST tersebut merupakan salah satu bekas galian C. Di tempat ini pepohonan sangat sedikit dan jarang turun hujan sehingga tempat cocok untuk ditanami pohon. Salah satu dosen, Dr. I Kadek Budi Sandika, S.T., M.Pd., yang juga merupakan salah satu anggota dari subak abian tersebut kemudian mengusulkan agar Mapala bersama kampus ikut berpartisipasi dalam penanaman pohon ini.

“Musim hujan agak lambat di daerah itu. Karena curah hujan pekan ini bagus, maka rencana ada penanaman. Kebetulan ada acara rangkaian dies, kemudian diusulkan tempat ini untuk acara penanaman pohon,” ucap Dr. I Kadek Budi Sandika, S.T., M.Pd. yang akrab disapa Bapak Budi.

Dari para mahasiswa, terutama UKM Mapala sangat antusias dalam program kerja mereka. Terlihat astusiasme mereka sejak 3 hari sebelum penanaman pohon ini dilaksanakan. Mereka pergi ke lokasi untuk melakukan penggalian lubang. Melihat kondisi tanah yang tipis dan merupakan galian bekas kapur yang sudah mengeras, dibutuhkan tenaga ekstra dalam melakukan penggalian lubang. Oleh karena itu, penggalian lubang dilakukan sebelum hari penanaman pohon mengingat juga jumlah bibit pohon yang tidak sedikit.

Dari pihak lembaga kemasyarakatan desa Pecatu dan beberapa subak juga ikut dalam berpartisipasi dalam penanaman pohon ini. Mereka berterima kasih atas partisipasi STIKI Indonesia dan berharap agar desa ini kembali hijau karena banyak orang beranggapan bahwa Desa Pecatu merupakan desa yang kering.

Made Dona Wahyu Aristana, S.Kom., M.Eng yang dipercaya sebagai Koordinator Sie Pengabdian mengatakan, “Dari program ini, kita ikut serta dalam menjaga lingkungan. Harapannya agar nantinya kegiatan seperti ini selalu dilakukan. Semoga pohon-pohon yang sudah ditanam dapat tumbuh dalam beberapa tahun dan dapat bermanfaat untuk masyarakatnya.” (IGI2/Humas)