Generic placeholder image

Lebih Dekat Dengan Alumni STIKI: Asih Astiti

18 Mar 2021   Berita

Tak Kenal Maka Tak Sayang. Ayo kenalan dengan Made Asih Astiti alumni STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang kini berkarir sebagai Personal Banking Officer Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Lestari. Asih, sapaan akrabnya, sudah berkarir di BPR Lestari hampir tiga tahun. Asih merupakan mahasiswa STIKI Indonesia jurusan Teknik Informatika konsentrasi Komputer Akuntansi Bisnis angkatan 2014. Lulus pada tahun 2018, Asih langsung diterima bekerja sebagai Personal Banking Officer atau Marketing di BPR Lestari.

Cewek kelahiran 21 April 1996 ini bercerita bahwa inti dari bekerja sebagai Personal Banking Officer adalah mencari nasabah. Awal mula karirnya tentu tidak mulus. Belum satu bulan bekerja Asih sudah dihadapkan dengan nasabah yang galak. Tentu, Asih sempat ‘down’. Baru mulai kerja langsung dapat cobaan.

“Ketemu nasabah yang galak. Itu sebenarnya nasabah lama dan baru dilimpahin ke aku. Pertama kali kerja saat baru kerja belum satu bulan, pertama kali ketemu nasabah yang super duper galak, marah kesal. Jujur waktu pertama kali dimarahin itu langsung down. Kok susah banget ya jadi Marketing, kok diperlakuin kayak gini kan kita enggak salah,” cerita Asih ke Tim Humas STIKI Indonesia, Selasa (9/3/2021).

Kala itu, Asih ingat hingga berbicara di dalam hati “Ternyata begini ya dunia kerja.” Pengalaman menghadapi nasabah yang super galak merupakan pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan selama berkarir hampir tiga tahun. Dia mengakui berat memang awalnya. Namun, dikarenakan memiliki tekad yang kuat untuk mampu bertahan akhirnya Asih sudah terbiasa menghadapi nasabah yang galak. Asih juga punya tips bagi kamu yang apabila bertemu dengan klien yang galak.

“Tips menghadapi nasabah yang galak yasudah diiyain saja. Kita jawab iya iya saja. Jangan dilawan atau dibantah. Nanti juga berhenti marahnya,” ujarnya sembari tertawa.

Asih juga punya tips bagi kamu yang mungkin pernah mengalami ‘down’ saat menghadapi kendala di dunia kerja. Bagi Asih untuk kembali bangkit adalah percaya dengan diri sendiri bahwa yakin bisa melewati masa sulit sehingga kerja kembali semangat untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh atasan.

41530355_340320609862571_4922083568634768845_n (1)

Tugas utama Asih saat bekerja adalah mencari nasabah. Dia paham betul bakal bertemu orang-orang baru yang berbeda karakter. Untungnya, Asih memang memiliki keinginan dapat berkarir di dunia yang tidak hanya terpaku di meja kantor. Bekerja sebagai Marketing mengharuskan untuk sering berada di lapangan untuk bertemu calon nasabah. Asih juga memiliki trik bagaimana cara menggaet nasabah sehingga bersedia menyimpan uangnya di BPR Lestari.

“Memang perlu waktu yang tidak singkat untuk mencari nasabah. Ada step by stepnya. Cara memberikan trust ke nasabah adalah dengan terus keep contact sama mereka. Tanya kabar, tanya kesehatan. Tiap mengobrol tidak perlu selalu bertanya soal apakah jadi atau tidak menjadi nasabah. Nanti setelah akrab pasti dapat saja klien yang menjadi nasabah,” ujar Asih.

Memiliki minat yang besar untuk banyak menjalin teman atau relasi sudah didapat dan dipelajari oleh Asih sejak masih menjadi mahasiswa. Asih bercerita sistem kelas STIKI Indonesia yang tiap mata kuliah diisi oleh mahasiswa yang berbeda-beda menjadikan pembelajaran tersendiri untuk diterapkan di dunia kerja.

“Aku suka sistem kelas yang tiap mata kuliah mahasiswa beda-beda jadi dapat teman banyak dan enggak monoton. Setiap mata kuliah temanku beda itu yang bikin happy. Nah kebetulan sebagai marketing kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan orang tidak dikenal jadi aku sudah terlatih sejak kuliah sekarang berguna banget buat aku kerja di Bank,” kata Asih.

Asih memang bercita-cita menjadi seorang wanita karir. Namun, di masa depan memiliki keinginan untuk bisa menjadi seorang wirausaha. Untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang wirausaha, Asih telah memiliki online shop yang menjual pijamas. Usaha ini telah dirintis sejak masih duduk di bangku kuliah. Namun, Asih saat ini masih ingin fokus di karirnya. Usaha sendiri yang lebih besar diharapkan dapat diwujudkan dalam beberapa tahun mendatang.

“Aku enggak pengen kerja sampai tua, pengen nikmatin masa tua. kalau nanti sudah berumur, bisa nikmatin waktu sama anak-anak. Aku seneng banget jadi wanita karir tetapi pengen banget punya usaha sendiri nanti,” ujarnya.

Salah satu mata kuliah yang ada di STIKI Indonesia adalah wirausaha. Sebagai kampus swasta di Bali, kurikulum STIKI Indonesia juga fokus mencetak lulusan yang siap berkiprah sebagai wirausaha. Mata kuliah ini membantu Asih untuk mewujudkan cita-citanya di masa mendatang. Saat mata kuliah wirausaha, Asih dan teman-temannya membentuk kelompok dan mendapatkan nilai tertinggi di kelas!

“Wirausaha mata kuliah yang paling aku suka. Kita kan di STIKI banyak praktek kalau dulu kuliah wirausaha kita memang materi di kelas nanti diajak praktek sama dosennya. Itu yang bikin enggak bosen. Dulu ya langsung kita ditugaskan per kelompok buka usaha kita dikasih tugas untuk dagang nanti kalau yang paling laku itu yang dapat nilai tinggi. Nah kebetulan yang dapat nilai tinggi saat itu kelompokku.”

Selain mendapatkan bekal berupa ilmu dan pengalaman, Asih juga bercerita tentang dosen-dosen STIKI yang menurutnya bisa mudah akrab dengan mahasiswa. Memang, rata-rata usia dosen di STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT di Bali berada di usia di bawah 40 tahun. Oleh sebab itu, Asih menilai tidak ada jarak dan harus kaku menjalin hubungan dengan para dosen.

“Enaknya dosennya muda-muda jadi lebih ngertiin up and down mahasiswanya ya memahami karakter sifat remaja yang labil kayak kita. Bahkan saat bimbingan juga kayak bimbingan sama temen bukan kayak sama dosen, mereka juga kasih feedback enak kayak ngobrol sama temen aja,” ujar Asih.

STIKI Indonesia sejak berdiri tahun 2008 memang berniat menjaga hubungan yang kekeluargaan yang erat dengan mahasiswa. Sebagai kampus swasta IT di Bali, STIKI ingin mahasiswa tidak hanya sekadar mencari ilmu. Namun, berharap mereka dapat mengenang STIKI sebagai tempat belajar yang lekat dengan rasa kekeluargaan. STIKI berharap setiap lulusan sama seperti yang dirasakan oleh Asih. Memiliki ikatan kasih dan sayang meski sudah berpisah setelah lulus. Untuk kamu yang baru lulus SMA dan berniat kuliah di STIKI Indonesia bisa melihat informasi lengkapnya di link berikut ini: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Buat kamu yang berada di luar Bali tentu perlu tahu apa keuntungan apabila memutuskan kuliah di Bali. Keuntungan kuliah di Bali bisa kamu simak di link berikut: Keuntungan Kuliah di Bali.

Generic placeholder image

Mereka Animator Kebanggaan Indonesia Namanya Mendunia

17 Mar 2021   Berita

Kehebatan animator Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Mungkin kamu tidak sadar beberapa film favoritmu ternyata ada putra-putri Indonesia berperan di baliknya. Mulai dari Transformers, Avengers, Iron Man, The Adventure of Tintin, Ant Man hingga masih banyak lagi ada nama saudara sebangsa setanah air di dalamnya.

Film animasi adalah film yang merupakan dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambarbergerak. Film animasi pada awalnya dibuat dari berlembar-lembar kertas gambar yang kemudian diputar sehingga muncul efek gambar bergerak.

Seiring berjalannya waktu, komputer dan grafis komputer menyederhanakan semua proses tersebut. Bukan saja lebih mudah, proses pembuatan animasi oleh animator kini berjalan lebih cepat. Tapi tentu saja, tetap bukan perkara sepele. Apalagi yang kemudian bisa dilakukan oleh siapapun.

Menjadi animator tentu tak sekadar mahir komputer melainkan juga bakat dan kemampuan, utamanya dalam menghidupkan gambar. Bakat dan kemampuan ini yang bisa membuat kita sebagai penonton berdecak kagum. Nah, bangga bukan kalau putra putri Indonesia memiliki bakat dan kemampuan yang hebat.

Sejumlah nama berikut ini adalah animator kebanggaan Indonesia namanya mendunia seperti dikutip dari elearn.id:

Chris Lie

Christiawan Lie atau lebih akrab disapa Chris Lie, memang bukan lagi nama baru di dunia animasi. Ia pernah terlibat dalam pembuatan animasi sejumlah film papan atas Hollywood, sebut saja Transformers 3, GI: Joe, Spiderman, Star Wars hingga Lord of the Rings.

Chris sendiri suka menggambar sejak kecil. Hobi dan bakat itu lantas ditunjang pula oleh kecerdasannya yang di atas rata-rata. Asal tahu saja, Chris adalah lulusan terbaik dari Fakultas Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tahun 2003, ia mendapatkan beasiswa dari Fullbright dan melanjutkan S2-nya di Savannah College of Arts and Design (SCAD). Bidang yang dipilihnya saat itu adalah Sequential Art. Dari sini, Chris mulai merintis karirnya. Ia dipercaya Devil’s Due Publishing, sebuah perusahaan penerbitan ternama yang memegang lisensi komik G.I Joe di Chicago, untuk menggarap proyek-proyeknya, kemudian berlanjut dengan keterlibatannya di sejumlah film ternama.

Setelah memutuskan pulang kampung ke Indonesia, pemilik Caravan Studio tetap dipercaya untuk mengerjakan proyek dari Marvel, Hasbro, Mattel, Lego, dan Sony Online Entertainment.

Marsha Chikita Fawzi

Siapa yang tidak tahu Upin Ipin? Film animasi asal Malaysia tentang dua anak kembar yang lucu itu ternyata ada nama Marsha Chikita Fawzi di baliknya. Animator yang akrab disapa Chiki tersebut awalnya hanya magang di Las’ Copaque Production untuk keperluan akademisnya. Namun, berkat kelihaiannya di bidang animasi akhirnya ia diangkat menjadi pekerja full-time di tahun 2010.

Setelah bekerja kurang lebih tiga tahun, Chiki akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia dan mendirikan studio bernama Monso House.

Michael Reynold Tagore

Lulusan Desain Grafis Universitas Tarumanegara dan S2 jurusan desain di University Technology of Sydney ini adalah nama lainnya di dunia animasi Indonesia yang telah mencatatkan prestasi membanggakan di Hollywood. Asal tahu saja, ia adalah salah satu orang di balik layar pembuatan film The Hobbit dan Batman v Superman: Dawn of Justice.

Nama lengkapnya Michael Reynold Tagore. Sama seperti Chris Lie, pria kelahiran Surabaya telah menyukai aktivitas menggambar sejak kecil. Menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA), Reynold yang pindah ke Jakarta lantas mulai membuat animasi untuk game. Ia tertarik mendalami dunia animasi, khususnya iliustrasi tiga dimensi setelah menonton film Lord of The Ring.

Ronny Gani

Penggemar film-film Avengers mungkin tak akan mengeryit heran ketika mendengar nama-nama seperti Robert Downey Jr, Chris Evans, atau bahkan Tom Holland, tapi tidak demikian jika yang muncul adalah nama Ronny Gani. Padahal, dia adalah animator asal Indonesia yang diam-diam sudah memoles tampilan visual Hulk dan kawan-kawan sejak Avengers dirilis.

Ronny Gani merupakan Senior Animator, Industrial Light & Magic’s Singapore. Ia bergabung dengan Industrial Light & Magic pada 2008 dan telah bekerja di film-film blockbuster Hollywood. Di antara beberapa film yang telah melibatkan tangan dinginnya, sebagian dari kita tentu tidak asing dengan Ant-Man, Warcraft, Pacific Rim, dan banyak lagi.

Rini Sugianto

Sosok animator hebat lainnya di dunia animasi Indonesia adalah seorang perempuan bernama Rini Sugianto. Ia adalah animator yang berada di balik film-film box office Hollywood. Beberapa di antaranya adalah The Adventures of Tintin, The Avengers, The Hobbit: The Desolation of Smaug dan Teenage Mutant Ninja Turtle.

Kini, lulusan Universitas Parahyangan, Bandung jurusan arsitektur ini tinggal di California, Amerika Serikat. Rini sendiri telah memulai karir sejak 2005.

Griselda Sastrawinata

Berangkat dari kecintaannya pada film-film Disney, Griselda lantas mulai memupuk mimpinya untuk berkarir di perusahaan ini. Hal pertama yang ia lakukan adalah terbang ke Amerika Serikat dan melanjutkan studi di Art Center College of Design, Pasadena. Lulus kuliah, Griselda bekerja di DreamWorks Animation. Dia pun terlibat dalam banyak film seperti Shrek Forever After, Puss in Boots, How to Train Your Dragon, Kung Fu Panda 2 dan Home.

Keterlibatannya dalam film Moana, di mana ia bekerja sebagai visual development artist bagian desain karakter dan kostum, seolah menjawab mimpinya akan Disney.

Andre Surya

Kecanduan game sekali lagi terbukti bukanlah hal yang buruk. Paling tidak jika kita mengacu pada sosok animator Andre Surya. Berkat hobinya main game, khususnya game 3D, ia banyak belajar tentang grafis 3D. Dia lantas memutuskan untuk mengambil diploma jurusan film dan special effect di Canada. Lulus kuliah, Lucas Animation yang berbasis Singapura pun menjadi pelabuhannya.

Dari perusahaan yang didirikan George Lucas ini, Andre mulai menggarap banyak film Hollywood seperti Iron Man, Indiana Jones, Star Trek, Terminator Salvation, Avatar, Transformers dan masih banyak lagi. Saat ini dia sudah kembali ke Indonesia untuk membuka sekolah digital art.

Wira Winata

Berawal dari hobinya menggambar, kepiawaian Wira Winata sebagai ilustrator dan animator perlahan tapi pasti mulai terendus oleh Disney dan Cartoon Network. Wira sendiri sebenarnya tidak memiliki latar belakang khusus di bidang animasi. Ia adalah lulusan Nanyang Polytechnic Singapura jurusan teknik.

Pada 1997, atas saran dari seorang guru, yang mengetahui bahwa Wira suka menggambar, Wira pun terbang ke Pasadena, Amerika Serikat, untuk kuliah desain produk di Art Center College of Design. Ia lalu terlibat dalam dalam The Peanuts Movie.

Mereka semua memang bisa dijadikan panutan buat kamu yang punya mimpi menjadi seorang animator kelas dunia. Selain karena hobi, menjadi animator juga bisa menghidupimu. Apa yang paling nikmat di dunia ini selain hobi yang dibayar? Untuk mewujudkan mimpi memang dibutuhkan semangat dan kerja keras. Jangan menyerah apabila mengalami kegagalan.

Selain itu, kamu juga butuh tempat belajar dan lingkungan yang mendukungmu. Salah satu program studi di STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) adalah Teknik Informatika yang memiliki peminatan Desain Grafis dan Multimedia. Sebagai kampus swasta di Bali, kamu bisa memilih peminatan Desain Grafis dan Multimedia karena terdapat mata kuliah animasi 2 Dimensi dan 3 Dimensi. Maka, kamu bisa belajar animasi untuk mewujudkan cita-citamu menjadi seorang animator.

STIKI Indonesia juga berlokasi strategis. Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali dan berniat kuliah di Bali mungkin cocok memilih STIKI untuk kuliah karena banyak terdapat kos dan tempat makan yang enak dan murah cocok untuk kantong mahasiswa.

Generic placeholder image

Demi Sang Ibunda, Komeng Raih Sarjana

16 Mar 2021   Berita

Komedian Komeng meraih gelar sarjana di usia 48 tahun. Tentu menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang malas atau tidak berpikir bahwa pendidikan itu penting. Komeng yang memiliki nama asli Alfiansyah ini memang mengakui tidak suka belajar. Dia bercerita sejak masih duduk di bangku SMP hingga SMA sering pindah-pindah sekolah karena sifat malasnya dalam belajar. Ternyata rasa masa belajar itu berlanjut hingga ke bangku kuliah.

Komedian yang akrab dengan jargon ‘uhuy’ ini bercerita pindah kuliah sudah tiga kali. Namun, pada akhirnya bisa menyandang gelar Sarjana Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tribuana, Bekasi, Jawa Barat. Pada 17 Maret 2018, pelawak yang di Jakarta 25 Agustus 1970 itu berhasil lulus sidang. Judul skripsi memang tidak jauh-jauh dari profesi yang ia jalani yaitu ‘Pengaruh Disiplin dan Pemberdayaan Terhadap Profesionalisme Anggota Persatuan Seniman Komedi Indonesia Jawa Barat’. Skripsi tersebut mendapatkan nilai A!

Komeng bercerita alasan dirinya tetap ingin meraih sarjana. Ternyata dia ingin mewujudkan permintaan sang ibunda yang meminta dirinya bisa menjadi sarjana. Namun, sayang begitu sayang, saat wisuda pada tahun 2018 lalu, sang ibunda tidak bisa melihat sang anak wisuda karena telah meninggal dunia.

Semangat Komeng dalam meraih sarjana memang patut diacungi dua jempol. Bagaimana tidak, usia sudah 48 tahun namun masih tetap bisa mewujudkan mimpi menjadi sarjana sekaligus membayar utang ke sang ibunda. Terpenting untuk menjadi inspirasi adalah Komeng memilih kuliah saat sudah menjadi ‘orang’. Biasanya banyak orang yang sudah dalam posisi enak namun tidak terpikir untuk memikirkan pendidikan.

Komeng bisa menjadi sosok yang paling bisa ‘menampar’ anak muda yang malas kuliah. Masih muda kok kalah sama yang berusia 48 tahun? Komeng bisa jadi memang orang yang malas dalam belajar. Namun, dia sadar bahwa rasa malas itu memang harus dilawan sehingga bisa mewujudkan keinginannya sekaligus keinginan sang ibunda.

Dalam satu kesempatan, Komeng juga bercerita bahwa salah satu yang paling berat adalah saat wisuda namun ibunda tidak bisa melihatnya. Komeng mungkin punya harapan apabila bisa memutar waktu maka ingin bisa meraih sarjana saat sang ibunda masih hidup. Namun, takdir berkata lain, ibunda pergi tahun 2016. Sedangkan Komeng wisuda dua tahun kemudian.

Sejak saat itu pula, Komeng memang jarang tampil di layar kaca. Ternyata, dia fokus mewujudkan keinginan sang ibunda. Kerja keras dan selalu terpikir keinginan sang ibunda membawa Komeng meraih sarjana ekonomi. Kisah Komeng ini mungkin bisa menyadarkan kita bahwa kalau sudah punya utang harus dibayar. Untuk masalah pendidikan tidak ada istilah terlambat untuk meraihnya.

Cerita Komeng memang sangat layak untuk dijadikan sumber inspirasi. Apalagi bagi kamu yang sedang malas kuliah atau malas mengerjakan skripsi bagi yang sedang menempuh tingkat akhir. Gelar sarjana bukan hanya untukmu dan masa depanmu. Tetapi gelar itu yang juga bisa membuat orang tuamu bangga. Orang tuamu tidak pernah muluk-muluk memintamu untuk melakukan ini itu, bisa ini itu. Mereka hanya ingin melihatmu menyandang gelar sarjana dan melihatmu wisuda. Tidak ada yang hal lain yang bisa membahagiakan mereka kecuali melihatmu menjadi seorang sarjana.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) berupaya mencetak mahasiswa yang berkualitas sehingga dapat menjadi lulusan yang dibutuhkan di dunia. Sebagai kampus swasta  di Bali, STIKI Indonesia juga memberikan kurikulum yang turut mengdepankan soft skill. Sehingga mahasiswa yang kuliah di STIKI bisa mendapatkan keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Pentingnya menguasai soft skill bisa dilihat di link berikut: Pentingnya menguasai soft skill.

Bagi kamu yang berada di luar Bali dan berniat kuliah di Bali maka sangat cocok apabila bergabung dengan STIKI Indonesia. Kurikulum di STIKI Indonesia juga mengedepankan pelajaran tentang budaya khususnya budaya Bali. Kamu tentu bisa mendapatkan keuntungan lain selain belajar IT yaitu dapat memahami budaya Bali. Ingat, Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Keuntungan lain apabila kamu ingin kuliah di Bali juga banyak. Kamu bisa cek di link berikut tentang sejumlah keuntungan apabila memilih kuliah di Bali: Kuliah di Bali.