Generic placeholder image

Populer gara-gara Elon Musk, Apa Itu Clubhouse?

24 Feb 2021   Berita

Aplikasi Clubhouse akhir-akhir ini terus menjadi perbincangan. Mungkin masih banyak yang belum tahu apa itu Clubhouse? Clobhouse adalah jejaring sosial berbasis audio yang dikembangkan oleh perusahaan software bernama Alpha Exploration Co. Pengguna bisa melakukan streaming audio, panggilan telepon, hingga membuat acara dengan topik khusus yang dikemas seolah seperti podcast.

Aplikasi ini seperti podcast yang disiarkan secara langsung, namun yang membedakan pengguna lainnya bisa ikut berbicara asalkan atas seizin moderator. Clubhouse tidak menyediakan kolom untuk mengunggah foto, video dan status.

Clubhouse telah dirilis di Amerika Serikat pada Maret 2020. Namun baru populer dalam sebulan terakhir. Penyebabnya adalah Founder Tesla dan SpaceX Elon Musk yang mempopulerkannya. Elon Musk menggunakan Clubhouse dan mengunggah perbincangan di kanal Youtube Tesla Owners Online pada 2 Februari lalu. Video berdurasi sekitar satu setengah jam tersebut berisi sesi diskusi dengan beberapa pengguna lain.

Sejak dirilis pada Maret 2020 jumlah pengguna tercatat hanya 3.500 pengguna. Namun, melonjak drastis hingga 2 juta pengguna sejak Elon Musk menggunakannya. Sejak saat itu pula, public figure dunia ikut menggunakannnya, mulai Kanye West, Drake, Jared Leto, Oprah Winfrey, Ashton Kutcher, Kevin Hart hingga pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

Tak heran, Clubhouse kini terus-terusan menjadi trending topic khususnya di Twitter. Apalagi, saat 14 Februari lalu Elon Musk mencuit bahwa ingin mengundang diskusi Presiden Rusia Vladimir Putin melalui aplikasi ini.

Putin melalui Kremlin membalasnya dengan menunjukkan ketertarikan. “Sangat menarik,” kata Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mewakili presidennya, Senin (15/2/2021) dikutip Sputnik.

Clubhouse memang tidak seperti media sosial lain yang dapat diunduh sendiri lalu bisa dengan mudahnya mendaftarkan akun. Aplikasi ini memang tersedia secara eksklusif melalui undangan. Saat ingin menggunakannya, kamu harus mendapatkan undangan terlebih dahulu dari pengguna yang telah terlebih dahulu menggunakan Clubhouse.

Setelah itu, undangan yang berbentuk tautan akan dikirim via SMS. Klik tautan yang ada dalam pesan singkat tersebut lalu akan diarahkan untuk membuat akun. Langkah ini ditengarai untuk menghindari pengguna yang menggunakan akun palsu. Sehingga dibuat semacam undangan karena tentunya kita tak sembarangan dalam mengirim undangan.

Setelah membuat akun, kamu akan diarahkan untuk memilih topik obrolan sesuai minat kamu. Tersedia sejumlah topik seperti kesehatan mental, musik, bisnis dan sebagainya. Hampir seluruh topik tersedia.

Akibat viralnya Clubhouse, banyak pihak yang memanfaatkan untuk mencari keuntungan, seperti berjualan tautan undangan Clubhouse di sejumlah marketplace. Sejumlah akun menawarkan link undangan yang dijual mulai harga Rp 190.000 hingga Rp 200.000.

Clubhouse menjadi semakin populer karena untuk sementara waktu hanya tersedia bagi perangkat iOS. Aplikasi ini dikabarkan tengah mempersiapkan agar bisa diunduh oleh pengguna android. Salah satu penyebab semakin populer dikarenakan cukup menjadi perdebatan di twitter antara pengguna android dan iPhone. Pengguna android merasa tidak relate ketika para pengguna iPhone berbicara tentang Clubhouse.

Meski tengah naik daun, Clubhouse terancam diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kominfo). Penyebabnya dikarenakan Clubhouse belum terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia. Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi, ketentuan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2020 yang diundangkan pada November lalu.

“Sesuai PM Nomor 5 Tahun 2020, bagi (PSE) yang tidak mendaftar sesuai kebijakan yang berlaku, akan mendapat sanksi administrasi berupa pemutusan akses,” ungkap Dedy kepada KompasTekno, Selasa (16/2/2021).

Regulasi tersebut mengatur tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik Lingkup Privat. Dalam peraturan itu, Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat didefinisikan sebagai penyelenggaraan Sistem Elektronik oleh orang, badan usaha, dan masyarakat. Ada pun kewajiban pendaftaran PSE diatur dalam Pasal 2. Dalam pasal tersebut tertulis bahwa “kewajiban melakukan pendaftaran bagi PSE Lingkup Privat dilakukan sebelum Sistem Elektronik mulai digunakan oleh Pengguna Sistem Elektronik”.

Dedy berharap, Clubhouse bisa segera mendaftar sesuai ketentuan agar tidak dikenai sanksi dan ancaman pemblokiran. Dedy menambahkan, masa pendaftaran PSE di Indonesia dibuka selama enam bulan sejak peraturan tersebut diundangkan pada 24 November lalu. Artinya, Clubhouse memiliki waktu setidaknya hingga 24 Mei 2021 mendatang untuk mendaftarkan diri.

Sementara itu, Clubhouse telah diblokir di China. Penyebabnya pengguna di negeri tirai bambu itu acapkali membahas topik-topik yang terlarang, seperti penahanan massal orang-orang Uighur, demo pro-demokrasi di Hong Kong, dan kemerdekaan Taiwan. Negara pimpinan Xi Jinping ini memang dikenal otoriter dan ketat mengawasi rakyatnya di internet. Sejak 8 Februari lalu, pengguna iOS di China sudah tidak bisa mengaksesnya.

Generic placeholder image

Tipe-Tipe Mahasiswa di Kampus, Kamu yang Mana?

23 Feb 2021   Berita

Kehidupan perkuliahan memang banyak cerita. Khususnya kehidupan pertemanan antar mahasiswa. Dalam satu kelas saja tentu diisi oleh sejumlah mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda-beda pula. Dari si mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang) hingga si mahasiswa seniman yang punya hobi bermusik dan sejenisnya. Tipe mahasiswa seperti ini biasa disebut Mahasiswa Kumus-Kumus (Kuliah Musik-Kuliah Musik).

Banyak sekali tipe-tipe mahasiswa di kampus yang dapat kita temui saat kuliah. Ada yang kuliah tapi suka main-main hingga mahasiswa yang punya target sejak pendaftaran harus mendapatkan jodoh. Banyak sekali istilah untuk menyebut mahasiswa. Kamu tipe mahasiswa yang mana? Simak penjabarannya berikut:

  • Mahasiswa Kucing

Mahasiswa kucing (Kuliah cari yang bening) adalah tipe mahasiswa yang biasanya dari awal pendaftaran kuliah sudah punya target untuk mendapatkan pasangan. Bening dapat diartikan cantik atau ganteng. Biasanya tipe mahasiswa ini memiliki kisah percintaan yang rumit dan jomblo saat lulus sekolah.

Buktinya mereka cari pacar di kuliah. Memang enggak ada yang salah ya, asal cari jodoh ini bisa dijadikan juga sebagai penyemangat untuk kuliah dan datang ke kampus. Apalagi kalau sudah dapat gebetan dan akhirnya pacaran, kamu sama si dia bisa janjian untuk rajin kuliah bareng dan janjian wisuda tepat waktu. Ini baru namanya komitmen antara pacaran. Komitmen positif yang bisa bakar semangatmu untuk kuliah rajin. So Sweet!

  • Mahasiswa Kunang-Kunang

Kunang-Kunang adalah Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring. Tipe mahasiswa seperti ini biasanya selalu nangkring di kantin, kafe sekitaran kampus atau coffee shop untuk cari wifi. Mungkin mereka memang memiliki passion nangkring ya. Nangkring memang enggak selalu negatif. Siapa tahu dari nangkring bisa ketemu kenalan baru yang bisa jadi jodoh atau partner bisnismu kelak. Nangkring boleh tapi jangan saat jam kuliah ya. Jangan bolos!

  • Mahasiswa Kura-Kura

Kura-Kura adalah Kuliah Rapat Kuliah Rapat. Tipe mahasiswa ini biasanya mereka yang memang aktif di organisasi. Saban hari saat tidak ada jam kuliah, mereka pasti berada di kesekretariatan lagi rapat. Selain itu, biasanya tipe mahasiswa ini juga aktif di organisasi di luar kampus. Nah, saat mereka tidak rapat di kampus, ya mereka rapat lagi dengan organisasi yang mereka ikuti. Tipe mahasiswa seperti ini biasanya pandai dalam mengatur waktu.

Bayangkan mereka bisa rapat terus di mana-mana. Tipe mahasiswa seperti ini juga sudah tentu mudah bergaul. Banyak pergaulan asalkan positif tentu bisa memberikan keuntungan seperti dapat koneksi saat kamu lulus dan cari kerja. Ingat, sepintar-pintarnya seseorang masih kalah sama bantuan orang dalam. So, perbanyak koneksimu ya!

  • Mahasiswa Kuda

Kuda adalah Kuliah Dagang. Tipe mahasiswa seperti ini tentu memiliki minat besar mencari cuan. Mereka biasanya sering menawarkan produk atau jasa ke teman-teman mahasiswanya. Saat era media sosial seperti sekarang, mereka juga pasti promo ke teman-temannya ‘Bro/Sis, Follow Instagram dagangan gue dong.” Mereka ini bisa dijadikan contoh buat kamu yang mau belajar dagang demi mendapatkan uang tambahan. Kalau belum berani membuka dagangan sendiri, kamu bisa ajak mereka jadi partner sekaligus mentor terlebih dahulu.

  • Mahasiswa Kuper

Kuper yang dimaksud bukan ‘Kurang Pergaulan’. Tetapi ‘Kuliah Perawatan’. Tipe mahasiswa ini biasanya mahasiswi yang memiliki minat tinggi untuk selalu tampil menarik. Mereka biasanya selalu tampil oke meski kemana pun. Mereka paham dengan berpenampilan menarik akan mendapatkan keuntungan sendiri. Kamu pasti sering membaca kualifikasi untuk banyak lowongan pekerjaan pasti memuat ‘Berpenampilan Menarik’. Nah, mereka paham betul penampilan memang penting sehingga kamu yang cuek dengan penampilan bisa belajar dari mereka ya.

  • Mahasiswa Kusyut

Kusyut adalah Kuliah Syuting. Era media sosial sekarang kata syuting bukan lagi identik dengan film atau iklan. Mereka saat tak ada jam kuliah biasanya syuting untuk konten di Youtube, Instagram bahkan TikTok. Apabila syuting secara rutin, berarti mereka memiliki jumlah pengikut yang banyak di media sosial mereka tersebut.

  • Mahasiswa Kumus-Kumus

Kumus-Kumus adalah ‘Kuliah Musik-Kuliah Musik’. Tipe mahasiswa ini mereka yang sangat cinta dengan dunia musik. Mereka akan selalu tampil di acara kampus untuk bermusik. Biasanya juga mereka ini selalu bekerja paruh waktu saat sore atau malam sebagai penyanyi atau anggota band di kafe. Kamu bisa banyak belajar dengan tipe mahasiswa seperti ini yang sanggup menyalurkan hobinya terlebih hobinya bisa mendapatkan uang. Paling enak di dunia ini adalah hobi yang dibayar.

  • Mahasiswa Kupu-Kupu

Istilah untuk tipe mahasiswa ini mungkin yang paling populer. Mahasiswa yang Kuliah Pulang-Kuliah Pulang. Setelah kuliah mereka biasanya langsung pulang ke rumah. Mungkin saja mereka punya kesibukan lain di rumah atau setelah kuliah waktunya digunakan untuk membantu orangtua mereka. Mungkin juga mereka punya bisnis keluarga di rumah. Bisa jadi juga mereka tipe mahasiswa yang gemar belajar dan langsung mengerjakan tugas. Keren ya. Kamu juga bisa banyak belajar dengan tipe mahasiswa seperti ini. Kalau memang nongkrong tidak ada manfaatnya, lebih baik di rumah saja untuk membantu orangtua atau mengerjakan tugas.

  • Mahasiswa Kusem-Kusem

Kusem adalah ‘Kuliah Seminar-Kuliah Seminar’. Tipe mahasiswa seperti ini biasanya sering menghadiri seminar-seminar. Mereka ini biasanya berwawasan luas karena mendapatkan ilmu dari seminar yang dihadiri. Mereka juga perlu diapresiasi karena mengisi waktu dengan hal positif yaitu mengikuti seminar.

Kamu mungkin salah satu dari tipe-tipe mahasiswa di atas. Namun, saat kuliah selain mendapatkan ilmu dan gelar sarjana, kamu juga harus mencari momen berharga. Momen berharga ini bisa kamu kenang dan dijadikan bahan lelucon saat kamu bertemu dengan temanmu saat sudah lulus nantinya. Tipe apa pun kamu saat mahasiswa, terpenting adalah kamu harus menjadi mahasiswa yang rajin dan lulus tepat waktu. Ingat, tidak ada perasaan bangga dari orangtuamu selain mereka melihatmu wisuda.

Sementara, bagi kamu yang baru lulus sekolah dan ingin melanjutkan kuliah IT di Bali maka bisa bergabung dengan STMIK STIKOM Indonesia (STIKI). Sebagai kampus swasta IT terpopuler di Bali, STIKI mengajakmu untuk menjadi lulusan IT yang kompeten dan memiliki wawasan budaya. Informasi lebih lanjut bisa kunjungi link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id

Generic placeholder image

Lestarikan Budaya Bali, STIKI Indonesia Segera Bentuk Pusat Studi Digital Culture

22 Feb 2021   Berita

Keberagaman budaya menjadi identitas paling berharga untuk bangsa Indonesia. Budaya mengandung ciri khas dan nilai-nilai penting dari berbagai wilayah. Keberagaman budaya juga mampu memelihara kesatuan dan persatuan.

Seluruh lapisan masyarakat harus terus menghargai dan melestarikan budaya bangsa. Sehingga budaya tidak luntur dan dapat diwariskan untuk generasi mendatang. Meski begitu, perlu diakui bahwa kebudayaan nusantara mulai luntur akibat masuknya pengaruh budaya asing baik dari Barat mau pun Asia.

Perkembangan teknologi juga turut memberikan pengaruh besar. Maka ada indikasi krisis karakter dan identitas serta integritas di kalangan generasi muda saat ini.

Demi menjaga kelestarian budaya Indonesia khususnya budaya Bali maka Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) segera membentuk Pusat Studi Digital Culture.

Rencana pembentukan Pusat Studi ini diawali dengan menyelenggarakan Forum Group Discussion yang dihadiri oleh Filolog Bali dan Jawa Kuno Sugi Lanus dan Asisten Profesor Departmen Ilmu Komputer Universitas Udayana Cokorda Pramartha. Forum ini diselenggarakan melalui Zoom Meeting dan streaming via Youtube pada Jumat (19/2/2021).

Ketua LPPM STIKI Indonesia Ida Bagus Ary Indra Iswara yang membuka forum ini menjelaskan bahwa Pusat Studi ini nantinya dapat membantu melestarikan budaya khususnya budaya Bali yang juga memiliki keberagaman. Dia mencontohkan sebagai pusat pariwisata Indonesia, Bali tentu banyak dicari oleh wisatawan lokal mau pun asing yang memiliki minat kebudayaan.

Namun, nyatanya, saat wisatawan mencari informasi tentang budaya Bali terkadang mereka kebingungan mencari kemana. Sehingga cara yang  ditempuh adalah cukup dengan mencari di internet seperti melalui Wikipedia, website, blog dan sebagainya yang belum tentu memiliki validitas.

Lewat Pusat Studi ini nantinya informasi tentang budaya Bali dapat tersedia sesuai dengan koridornya karena akan diolah oleh para akademisi yang tentu melakukan penelitian secara mendalam terlebih dahulu sebelum informasi itu tersebar luas.

“Kita (STIKI Indonesia) bisa dibilang memulai yang pertama untuk kampus IT yang membuat Pusat Studi berbasiskan budaya, di sini besar harapan kami bisa membantu melestarikan kebudayaan Indonesa khususnya budaya bali,” katanya dalam forum.

Sebagai kampus IT di Bali, STIKI Indonesia tentu dapat berkontribusi melestarikan budaya melalui teknologi. Selain itu, pemanfaatan teknologi tentu dapat menjadi jalur yang tepat karena generasi milenial dan generasi Z sangat akrab dengan penggunaan teknologi.

Salah satu yang bisa disediakan oleh STIKI Indonesia adalah dengan berwisata religi melalui Virtual Reality. Sebagai contoh, seorang wisatawan asing akan mengunjungi salah satu pura. Padahal, untuk memasuki pura bagi orang Bali diperlukan berbagai aturan yang telah diwariskan secara turun menurun. Namun, nyatanya wisatawan asing dapat dengan mudah memasuki pura yang seharusnya tidak dapat dimasuki dengan mudah karena pura merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu.

“Misalnya ada Virtual Reality wisatawan asing bisa mengelilingi Pura jadi kesucian Pura itu tetap terjaga,” katanya.

Contoh lain yang bisa dilakukan oleh Pusat Studi ini nantinya adalah terkait rekonstruksi data. Dia menjelaskan semisal adanya candi yang terkena gempa bumi dan ingin dibangun kembali maka ada kesulitan untuk melakukan rekonstruksi karena informasi digital yang ada hanya sedikit. Lewat Pusat Studi nantinya akan menyediakan Augmented Reality (AR) sehingga akan memudahkan kembali untuk membangun candi dengan detail yang serupa.

“Saat Candi runtuh kita bisa mengilustrasikan candi-candinya, titiknya sepeti apa melalui AR,” jelasnya.

Pusat Studi ini nantinya juga bisa mendigitalisasi lontar yang bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha).

Dalam kesempatan sama, Filolog Bali dan Jawa Kuno Sugi Lanus mengapresiasi semangat STIKI Indonesia yang ingin berperan dalam melestarikan budaya Indonesia khususnya budaya Bali. Terlebih, Pusat Studi ini muncul di tengah krisis Pandemi Covid-19 yang membuat banyak lembaga terdampak sehingga harus berhenti beroperasi.

Sugi Lanus yang merupakan pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi ini mengakui masih banyak arsip tentang Bali yang belum tersedia secara digital. Dia menyebutkan arsip yang belum ditemukan di antaranya terkait Pesta Kesenian Bali, arsip video festival, arsip pameran lukisan dan arsip design kerajinan.

“Sementara arsip yang tersedia secara digital adalah prasasti digital, lontar digital, arsip foto kolonial Bali, museum lukisan digital. Tapi tidak ada satu pun berada di Bali,” katanya.

Oleh sebab itu, diharapkan Pusat Studi ini bisa dibantu oleh berbagai pihak untuk dapat mengarsipkan budaya Bali secara digital yang belum ada tersebut. Dalam kesempatan yang sama, Asisten Profesor Departemen Ilmu Komputer Universitas Udayana Cokorda Pramartha menilai langkah STIKI Indonesia membentuk Pusat Studi Digital Culture sangat tepat. Sebab, generasi muda saat ini memang sangat akrab dengan teknologi informasi. Maka, menjadi penting bahwa kebudayaan Bali perlu digitalisasi.

Cokorda dalam pemaparannya mengatakan banyak  persepsi yang menganggap bahwa warisan budaya merupakan sesuatu yang kuno. Padahal definisi yang sebenarnya adalah warisan budaya merupakan pengalaman yang terjadi di masa lampau yang dilanjutkan hingga sekarang dan bisa berubah seiring waktu.

“Sebagai contoh kalau dulu menulis di Lontar. Sekarang mencari Lontar saja sudah susah. Kita meneruskan warisan budaya itu menulis di WhatsApp atau Facebook,” jelasnya.

Informasi tentang kebudayaan Bali memang sangat sedikit. Dia mencontohkan saat berkunjung ke Puri Klungkung ternyata sejarah pura tersebut hanya ditulis dengan satu lembar saja. Tentu, akibat informasi yang minim bagi yang berkunjung tidak dapat mengetahui sejarah Puri Klungkung dengan lengkap.

Forum Group Discussion diikuti oleh dosen STIKI Indonesia yang hadir melalui zoom meeting. Mahasiswa mengikuti melalui via streaming Youtube. Dalam diskusi tersebut disepakati bahwa nilai-nilai luhur harus terus disuarakan untuk menangkal pengaruh eksternal-negatif yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara melestarikan, memajukan, dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan serta menginternalisasinya di masyarakat khususnya generasi muda.

Meski ingin belajar IT, mahasiswa yang kuliah di STIKI Indonesia mendapatkan mata kuliah yang berkaitan dengan Bali yaitu Pariwisata Budaya. Maka, mahasiswa lulusan STIKI Indonesia bisa tetap paham tentang budaya Bali. Ingin tahu informasi lebih lanjut tentang STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT terpopuler di Bali, simak link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id