Generic placeholder image

Tingkatkan Pengetahuan Berbahasa Inggris, Dosen Enam Serangkai Didik Anak Panti Asuhan Dharma Jati II

08 Jan 2020   Berita

gjn

Denpasar- Tim dosen STMIK STIKOM Indonesia mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Panti Asuhan Dharma Jati II (14-15/12).

Tim dosen terdiri dari Kadek Yogi Susana, S.S., M.Hum. ; Ni Nyoman Ayu J. Sastaparamitha, S.S., M.Pd. ; Ni Made Lisma Martarini, S.Pd., M.Pd. ; Agus Ari Iswara, S.S., M.Hum. ; Putu Shintia Novianty, S.S., M.Hum. ; Ni Putu Dian Pratiwi, S.Pd., M.Pd. PKM dengan judul Latihan Dasar-dasar Percakapan Bahasa Inggris di Panti Asuhan Dharma Jati II dimulai dengan pengenalan dan survei jumlah siswa yang akan menjadi peserta. Hari kedua (15/12) dilakukan kegiatan belajar-mengajar. Tim PKM juga memberikan hadiah berupa bingkisan kepada para peserta.

PKM yang diadakan berfokus untuk murid Sekolah Dasar (SD), yaitu mengajarkan dasar-dasar percakapan dalam Bahasa Inggris. Adapun materi yang diajarkan berupa perkenalan, percakapan sehari-hari, dan salam perpisahan. Salah satu anggota PKM, Ni Nyoman Ayu J. Sastaparamitha, S.S., M.Pd. menceritakan dipilihnya materi ini karena terbatasnya akses anak-anak di panti untuk mengenyam pengetahuan ini. Panti yang menerapkan metode home schooling ini, mendapat pengajar bahasa Inggris dari tenaga sukarela yang datang hanya sekali dalam seminggu. Dengan latar belakang ini, tim PKM yang diketuai oleh Kadek Yogi Susana, S.S., M.Hum. memilih memberikan pelatihan bahasa Inggris.

Peserta pelatihan yang terdiri dari 12 orang siswa SD memberikan sambutan antusias dan semangat tinggi saat menerima materi. “Saya suka semangat mereka, anak-anak itu sangat antusias belajar.” ujar Ni Nyoman Ayu J. Sastaparamitha, S.S., M.Pd.

Melihat antusias dan semangat tinggi peserta, 6 dosen serangkai ini berencana untuk mengadakan kegiatan serupa. Tidak hanya di Panti Asuhan Dharma Jati II namun juga ke panti asuhan lainnya. Selain itu juga direncanakan untuk menaikkan level materi. Beragam serta terbatasnya jumlah peserta menjadi hal yang masih dipikirkan oleh Kadek Yogi Susana, S.S., M.Hum. beserta rekan dosen lain untuk menemukan cara mengajar yang lebih baik. Tim dosen juga berencana untuk mengadakan kegiatan ini dalam setahun agar nantinya bisa mengajar dan datang secara resmi 2-3 kali setiap bulannya. Diharapkan, dengan begitu ilmu yang dibagikan dapat benar-benar dipahami. Nantinya, dengan jumlah peserta yang lebih besar, dapat mengajak mahasiswa dari STIKI untuk turut berkontribusi.

Ditemui seusai kegiatan,Ni  Nyoman Ayu J. Sastaparamitha, S.S.., M.Pd. menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, terutama kampus STIKI Indonesia karena telah diberikan kesempatan untuk melakukan PKM ini. “Semoga ke depannya kami bisa membuat kegiatan yang lebih baik dari ini.” ucapnya. (Ros/Tim Humas)

Generic placeholder image

Tutup Tahun 2019, Keluarga STIKI Ikat Kertas Harapan pada Pohon Bambu

29 Des 2019   Berita

WhatsApp Image 2019-12-29 at 14.25.14

STMIK STIKOM Indonesia mengadakan acara Family Gathering dengan tema “Bebas Happy” pada Minggu (29/11) dalam rangka menjalin silaturahmi. Diikuti oleh dosen, staf, dan perwakilan mahasiswa STIKI Indonesia.

Family Gathering merupakan acara rutin yang diadakan setiap akhir tahun. Selain untuk merayakan tahun baru, menjalin silaturahmi dan memupuk rasa persaudaraan lebih dalam antar dosen, staff beserta keluarga menjadi tujuan diadakannya kegiatan ini.

Mengusung tema “Bebas Happy”, para hadirin berpakaian bebas dan santai. Hadirin dibebaskan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Pedagang di sekitar lingkungan kampus bak mendapat durian runtuh saat berkesempatan untuk menyajikan dagangannya dalam acara ini. Beberapa menu usaha dagang yang berpartisipasi diantaranya adalah susu HQQ, mie pangsit, sate ayam, bakwan, dan pecel. Yang menarik adalah tersedianya makanan khas Bali seperti nasi sela dan blayag asal Kabupaten Buleleng.

Dosen dan staf diperkenankan untuk mengajak keluarga. Disediakan playground untuk anak-anak dari keluarga dosen dan staf. Anak-anak dapat bermain bersama dan mengenal satu sama lain. Terdapat pula perlombaan seperti lomba mainan balok susun dan lomba makan es krim. Acara ditutup oleh penampilan kesenian bondres dari Sekaa Topeng Inovatif (STI) Bali dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik.

Menjadi momen puncak, para hadirin diminta untuk menulis apa yang diharapkan untuk Tahun 2020 pada sebuah kertas. Kertas yang telah berisi harapan tersebut, diikat pada sebuah pohon bambu. Pohon bambu dipilih karena pertumbuhannya yang pesat beberapa tahun setelah ditanam. Filosofi ini diharapkan terjadi pada Kampus STIKI yang telah berdiri selama 11 tahun. Pada Tahun 2020, Kampus STIKI diharapkan dapat tumbuh pesat diiringi dengan harapan-harapan oleh dosen, staf, dan mahasiswa.

I Nyoman Tri Anindia Putra, S.Kom., M.Cs. atau Bapak Trian dipercaya sebagai Ketua Panitia Family Gathering mengungkapkan harapannya agar acara akhir tahun selalu diadakan dan semakin membaik kedepannya. Dirinya juga mengatakan bahwa acara ini menambah rasa kekeluargaan dan menjalin silaturahmi yang baik antar Keluarga Besar STIKI Indonesia.

Dalam suasana kekeluargaan dan kebahagiaan, Ketua STMIK STIKOM Indonesia, I Dewa Made Krishna Muku, S.T., M.T. dalam sambutannya mengatakan, “Banyak hal yang telah kita capai atas kerja sama kita dengan kekeluargaan. Saya ingin sekali STIKI ini menjadi tempat bagi teman-teman untuk berkarya. Mari kita suburkan generasi STIKI dengan rasa kekeluargaan. Harapan saya hanya satu, STIKI ini selalu menjadi tempat yang sangat harmonis.” (IGI2/Tim Humas)

Generic placeholder image

Ubah Mindset Anak Kurang Mampu, Dosen STIKI Buka Kelas di Pasar Badung

28 Des 2019   Berita

_MG_3613mm

Denpasar – Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) STIKI Aksi Peduli 2019 telah dilaksanakan oleh Tim Dosen STMIK STIKOM Indonesia bersama mitra PKM Yayasan Lentera Anak Bali Denpasar. Kegiatan PKM ini diinisiasi oleh Sri Widiastutik, S.S., M. Hum. (selaku ketua Tim); bersama I Ketut Setiawan, S.Pd., M.Sn. dan Komang Trisnadewi, S.S., M. Hum. (sebagai anggota tim); dan dibantu 11 orang mahasiswa STIKI dari berbagai angkatan. Adapun judul kegiatan ini adalah “PKM Yayasan Lentera Anak Bali Di Desa Dangin Puri, Kec. Denpasar Timur, Denpasar sebagai Penggiat Literasi Bagi Peningkatan Kualitas SDM Anak-anak Jalanan” yang telah dilakukan sejak Bulan September, tepatnya Jumat (27/9) hingga Selasa (17/12).

Bersama mitra Yayasan Lentera Anak Bali (YLAB) yang diketuai oleh Ibu Dr. dr. A.A. Sri Wahyuni, SpKJ. dan didampingi oleh tim pengurus yang mendampingi kegiatan di sanggar belajar, Ibu Ni Nyoman Sukardi (Bu Komang) dan I Nyoman Agus Budiarta (Pak Agus), kegiatan PKM diikuti oleh anak-anak berusia mulai 4 tahun hingga 12 tahun. Pada mulanya, jumlah keseluruhan peserta kegiatan PKM ini adalah 32 orang yang terdata dalam daftar anggota yayasan ini. Setelah kegiatan berlangsung selama 1 bulan, bertambah 2 orang baru dalam kegiatan ini. Peserta PKM terdiri dari anak-anak yang masih bersekolah namun kurang mampu secara ekonomi, sebagian merupakan anak-anak yang putus sekolah, dan sisanya anak yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

Hingga saat ini proses belajar telah berlangsung selama 3 bulan dan dilakukan pada jam-jam tertentu yang disesuaikan dengan kegiatan belajar anak-anak di sanggar belajar YLAB pada Hari Sabtu dan Minggu. Sanggar belajar YLAB memiliki luas 3×4 meter, berlokasi di Lantai 1, Pasar Badung, Jalan Gajah Mada – Denpasar. Ruangan ini merupakan bantuan dari Walikota Denpasar sebagai sarana belajar bagi anak-anak jalanan sejak diresmikannya bangunan pasar Badung pada tahun 2015. Kegiatan belajar diisi dengan materi Bahasa Inggris beginner. Seringkali, tim mengarahkan anak-anak keluar ruangan jika kegiatan belajar bersifat playground agar mereka leluasa bergerak dan membutuhkan ruangan yang lebih luas. Tim mahasiswa yang sebagian besar tergabung dalam UKM ECSI (Unit Kegiatan Mahasiswa English Club STIKI) membantu mengisi materi dan menjadi pendamping selama proses pembelajaran berupa learning alphabet, name of 7 Days, 12 months, numbers yang dikemas dalam video pembelajaran lagu-lagu Bahasa Inggris. Pada video tersebut juga berisikan song lyrics, story, spelling, pronouncation sederhana, expressing, dan guessing picture. Selain itu, kegiatan juga diselingkan dengan body movement, yaitu gerakan-gerakan peraga dan ekspresi mimik wajah sesuai dengan clue berbahasa Inggris yang mereka dengar, seperti jump, stand up, sit down, clap hand, turn around, laying down, dan lain-lain sesuai gambar yang didesain sebelumnya oleh tim PKM.

Terdapat tantangan dalam melaksanakan PKM ini, seperti mengubah pola pikir mereka. Saat ditanya tentang kegiatan yang mereka sukai, anak-anak yang rata-rata sudah bekerja menjadi tukang su’un seringkali menjawab bahwa belajar itu tidak perlu karena mereka sudah mendapatkan uang. Apalagi beberapa orang tua mereka yang tidak pernah bersekolah. Kondisi ini menjadi tantangan strategi bagi tim PKM khususnya tim dosen untuk mendesain model pembelajaran semenarik mungkin, dengan cara penyampaian yang praktis dibantu tim mahasiswa dalam mengembangkan penyampaian materi secara lisan selama proses belajar berlangsung. Digunakan juga media video interaktif yang membuat anak-anak aktif menjawab penyampaian dalam belajar numbers, alphabets, days, months, sehingga kegiatan belajar tidak membosankan. Juga disediakan juga toys card dikemas dalam game dan snack (makanan ringan) sebagai reward bagi anak-anak yang bisa menjawab sehingga dapat menumbuhkan semangat belajar.

“Tidak jarang anak-anak meminta snack dan menanyakan apakah nantinya mereka diberi snack jika mereka bisa menjawab,” imbuh Ibu, salah seorang tim pendamping dari mitra YLAB.

“Mereka yang awalnya masih malu-malu dengan orang baru, menjadi dekat setelah beberapa kali pertemuan. Bahkan, ketika perpisahan pun, mereka ingin tim PKM tetap mengajar karena mereka senang dan suka apalagi tim dosen dan mahasiswa yang mengajar sangat telaten, dengan cara yang fun. Seringkali peragaan-peragaan dan ekspresi yang dicontohkan oleh tim PKM membuat anak-anak tertawa. Pihak mitra YLAB khususnya para pengurus pun berterimakasih dan berharap agar dapat diadakan kembali kegiatan belajar Bahasa Inggris oleh Tim PKM STIKI, mengingat anak-anak sangat membutuhkan kegiatan belajar untuk mengasah skill dan kemampuan anak-anak jalanan khususnya berbicara dalam Bahasa Inggris, karena kegiatan untuk Bahasa Inggris secara kontinyu baru kali ini dilakukan dari STIKI, apalagi anak-anak sangat antusias dan tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar” jelas Sri Widiastutik, S.S., M.Hum. yang akrab dipanggil Miss Wid.

Miss Wid juga mengatakan bahwa setelah melakukan kegiatan ini, terlalu sedikit yang dirinya dapat berikan. Oleh karena itu, ia berharap kita harus banyak belajar dari anak-anak jalanan, dari latar belakang pendidikan orangtua dan keluarga anak-anak yang tidak mampu, supaya kita bisa secara ikhlas menyadari bahwa mereka sangat membutuhkan bantuan kita terutama dalam pendidikan.

“Saya mewakili tim PKM STIKI mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh tim PKM, tim mahasiswa dan pengurus YLAB terutama ibu Ni Nyoman Sukardi dan Bapak I Nyoman Agus Budiarta yang sangat sabar membimbing anak-anak jalanan. Terima kasih juga kepada pihak mitra, ketua YLAB Denpasar, Ibu Dr. dr. A.A. Sri Wahyuni, SpKJ. atas program kepedulian terhadap anak-anak jalanan, program beasiswa sekolah bagi anak-anak jalanan, serta dukungan atas terlaksananya kegiatan kerjasama dalam program PKM STIKI Aksi Peduli ini. Terima kasih juga pada para orang tua yang mempercayakan anak-anak nya belajar Bahasa Inggris bersama Tim PKM ini. Besar harapan kami, kegiatan PKM STIKI Aksi Peduli 2019 ini dapat membuka kepedulian masyarakat luas untuk membantu dan melengkapi kebutuhan pendidikan anak-anak jalanan secara berkelanjutan, serta lebih memperhatikan fasilitas-fasilitas belajar yang mereka butuhkan menjadi lebih memadai, sehingga anak-anak merasa nyaman dalam belajar. Seperti kita tahu bahwa anak-anak adalah generasi bangsa yang sangat berperan dalam memajukan sumber daya manusia di tanah air kita tercinta ini, oleh karena itu tidaklah cukup jika kita hanya menunggu program pemerintah, namun kita harus membuka hati kita masing-masing untuk melihat langsung realita yang terjadi pada anak-anak jalanan. Bagi saudara-saudara terutama bagi masyarakat yang sudah mapan tingkat perekonomiannya, secara materiil ikhlaslah berbagi walaupun sedikit namun sangatlah besar manfaatnya dalam mendukung fasilitas dan sarana kebutuhan belajar bagi anak-anak jalanan di sekitar kita. Apalagi jika melihat pendidikan orang tua mereka ada yang tidak sampai tamat SD, bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Saya ingin dari pihak-pihak terkait untuk membuat kurikulum yang sederhana agar mereka bisa belajar, walaupun tidak melalui lembaga formal. Berupa kegiatan belajar yang fun seperti ini saja mereka sudah bisa belajar dan mengerti,” ungkap Miss Wid dengan penuh harap. (IGI2/Tim Humas)