Generic placeholder image

Perbedaan Karakter seorang Leader dan Bos, yang manakah kamu?

25 Mar 2021   Berita

Semua orang mungkin bermimpi untuk bisa menjadi seorang bos di perusahaan. Ada baiknya mindset kamu diubah. Sebaiknya kamu ingin menjadi seorang leader. Karena untuk menjadi bos itu gampang, kamu cukup kasih uang ke tukang parkir ntar dia pasti bilang “Makasih bos”.

Saat kamu sudah berkarier dan menjadi atasan di kantor tentu akan memimpin tim yang berbeda karakter. Mereka akan menilai cara kamu memimpin. Apakah kamu seorang leader atau seorang bos? Nah apa perbedaannya? Berikut perbedaan karakter seorang leader dan bos dikutip dari ekrut.com dan glints:

  • Bos cenderung menyalahkan, sementara leader merangkul tanggung jawab

Seorang bos umumnya akan menyalahkan orang lain ketika hasil yang diharapkan tidak terjadi. Mereka juga sering mengambil kredit dari pekerjaan orang lain bila hasilnya ternyata baik

Ini berbeda dengan karakter seorang pemimpin. Pemimpin akan mengambil tanggung jawab ketika ada masalah dan mengakui keberhasilan tim bila mereka memberikan hasil yang baik.

  • Bos akan mendominasi percakapan sementara leader banyak mendengar

Perbedaan pemimpin dan bos lainnya bisa kamu lihat dalam cara komunikasinya. Atasan dengan karakter bos seringkali mendominasi percakapan. Ia mengharapkan karyawan untuk dapat menjalankan segala perintah dengan benar. Sementara seorang pemimpin akan lebih banyak mendengarkan.

Ia terbuka pada pendapat dan ide orang lain serta mendorong karyawan untuk berani membagikan pemikiran tanpa takut. Karena banyak mendengarkan, pemimpin dapat mengenal pola atau kebutuhan karyawan sehingga dapat memberi dukungan yang diperlukan bagi tim.

  • Bos lebih tertarik pada hasil leader pada proses

Atasan yang memiliki karakter sebagai bos umumnya akan menjadikan keuntungan perusahaan sebagai tujuan yang harus dicapai. Itu sebabnya bos akan lebih tertarik pada hasil daripada proses. Di sisi lain, pemimpin fokus pada proses dan perkembangan orang-orang di belakangnya.

  • Bos seringkali hanya mengamati  leader akan bekerja bersama tim

Seorang atasan dengan karakter bos seringkali hanya berdiri di samping dan mengawasi orang lain melakukan pekerjaan. Ini berbeda dengan karakter pemimpin. Seorang pemimpin yang baik akan bekerja bersama tim. Dengan turut bekerja bersama, ia juga dapat membantu menumbuhkan kekompakan tim sekaligus menginspirasi mereka untuk selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan.

  • Bos didorong pada standar yang ditentukan leader pada nilai yang dijunjung

Seorang bos biasanya akan bekerja didasari pada standar yang telah ditentukan. Ia tertarik menemukan standar terbaik dan mempertahankan implementasi yang sesuai.

Lain halnya dengan seorang pemimpin, Mereka cenderung bekerja karena didorong oleh nilai yang mereka junjung. Pemimpin memiliki visi yang didorong oleh nilai dan prinsip-prinsip kepemimpinan.

Dorongan yang berbeda ini akan memengaruhi bagaimana seorang bos dan pemimpin memotivasi tim. Bos akan memanfaatkan intimidasi, sementara pemimpin akan menekankan pada inspirasi.

Selain itu, pemimpin cenderung ingin membimbing tim untuk merasa terdorong dalam pekerjaan oleh visi yang sama.

  • Bos mendisiplinkan karyawan, sementara leader akan berperan layaknya mentor

Di dalam pekerjaannya, seorang atasan bisa saja menemukan karyawan yang melakukan kesalahan. Cara atasan tersebut mengatasi hal ini akan bergantung pada karakternya.

Atasan yang memiliki karakter sebagai bos akan cenderung menggunakan sistem hukuman dan imbalan untuk mencegah karyawan melakukan kesalahan dalam pekerjaan.

Ini tentu berbeda dengan atasan yang memiliki karakter sebagai pemimpin. Sehingga alih-alih menyerang kesalahan yang dilakukan karyawan, ia berusaha memahami karyawan tersebut.

Pemimpin akan membimbing karyawan melewati kekurangan tersebut dan membangun kepercayaan dirinya kembali.

  • Bos ingin tetap menjadi bos, leader ingin menghasilkan pemimpin baru

Bos memandang keberhasilan mereka dari kedudukan dan jabatan dalam struktur organisasi. Ia ingin tetap menjadi bos dan punya kekuasaan untuk mengatur dan mengendalikan orang-orang sekitarnya.

Leader ingin menginspirasi anggota tim dan mendorong mereka untuk menjadi pemimpin baru. Leader memandang diri mereka berhasil apabila telah menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang lebih sukses.

  •  Bos mempertahankan status quo, leader terbuka gagasan baru

Seorang bos lebih bersikap konservatif, mempertahankan status quo. Karyawan hanya melakukan rutinitas yang sudah digariskan dalam proses kerja yang baku.

Leader lebih terbuka pada setiap gagasan baru yang dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik serta mempercepat pencapaian tujuan. Ia juga menantang karyawan untuk lebih kreatif menemukan solusi dalam pemecahan masalah.

Jika Anda seorang pengusaha tipe leader, Anda perlu membangun tim hebat yang dapat mendukung kepemimpinan Anda. Tim hebat memadukan keterampilan teknis, soft skill, dan nilai-nilai yang sesuai dengan tujuan organisasi Anda.

Meski pun sebutan bos dan pemimpin sekilas tampak sama. Namun, karakter keduanya sangat berbeda. Karakter tersebut yang akan menentukan bagaimana gaya seorang atasan di dalam memimpin tim dan pekerjaan.

Untuk menjadi seorang leader memang dibutuhkan pembentukan karakter sedari dini. Salah satu cara untuk membentuk karakter adalah dengan mengasah soft skill. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) memiliki mata kuliah soft skill agar para mahasiswa setelah lulus dapat memiliki bekal untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki karakter yang dapat diterima di dunia kerja. Sebagai kampus swasta di Bali, STIKI Indonesia paham betul lulusan tidak hanya sekadar lulus. Namun, mereka harus menjadi individu yang memiliki karakter hebat setelah lulus dari kampus.

Bagi kamu yang baru lulus sekolah dan tertarik kuliah di Bali bisa disimak informasi lebih lanjut terkait STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT terpopuler di Bali di link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id

Generic placeholder image

Asal Usul Silicon Valley, Komplek Perkantoran Teknologi dunia

24 Mar 2021   Berita

Nama Silicon Valley pertama kali digunakan oleh Ralph Vaerst, entrepreneur sukses di Central California. Penggunaan secara tertulis pertama kali oleh Don Hoefler, teman Vaerst, yang menggunakan nama ini sebagai judul sebuah artikel seri di koran mingguan Electronic News.

Dilansir dari Wikipedia, artikel seri ini berjudul “Silicon Valley in the USA” dan dimulai pada edisi 11 Januari 1971 koran ini. Nama Silicon Valley dipahami dan digunakan secara luas baru sejak tahun 1980-an, berkaitan erat dengan pengenalan produk IBM PC dan banyak hardware dan software yang terkait kepada konsumer.

Kata Valley berasal dari Santa Clara Valley, yang berlokasi di ujung selatan San Francisco Bay dan kata Silicon berasal dari tingginya konsentrasi perusahaan yang terlibat dalam industri semikonduktor (silikon digunakan untuk membuat produk semikonduktor komersial) dan komputer di area tersebut.

Perusahaan-perusahan tersebut perlahan-lahan menggantikan perkebunan yang merupakan asal nama awal daerah ini, the Valley of Heart’s Delight.

Silicon Valley adalah julukan yang merujuk pada sebuah kawasan di selatan Teluk San Fransisco di California Utara, Amerika Serikat. Wilayah tersebut, merupakan rumah bagi perusahaan-perusahaan papan atas bidang teknologi seperti Google, Apple, dan Facebook. Selain perusahaan top, terdapat juga beragam startup di bidang teknologi yang memulai petualangan mereka di sana. Secara sederhana, Silicon Valley merupakan istilah yang merujuk markas bagi para perusahaan teknologi bermukim.

Dilansir Antara, Mantan Presiden AS Ronald Reagan pada tahun 1988, pernah memprediksikan sebuah revolusi yang akan terjadi dan mengubah cara orang berkomunikasi dan mengatur diri. Hingga secara fundamental mengubah lanskap politik dengan cara yang tidak dapat diprediksi oleh siapa pun.

Ternyata semuanya muncul di Silicon Valley, sebuah daerah yang tadinya sepi di Palo Alto, California. Awalnya Silicon Valley tak lebih dari sekadar tempat namun kini telah menjadi identik dengan jaringan global, pusat startup, dan kiblat cara kerja dan cara berpikir yang disruptif.

Namun bagaimana Silicon Valley bisa menjadi seperti ini? Rupanya ada banyak cerita yang mengawalinya. Sebuah narasi romantis yang dijajakan oleh Steve Jobs dan banyak lainnya adalah bahwa Silicon Valley menjadi sarang inovasi karena banyak orang di dalamnya adalah insan anti kemapanan yang mendalami ide kontra-budaya tahun 1960-an.

Sementara sebagian yang lain meyakini bahwa Silicon Valley sangat sukses karena sangat mendukung para wirausahawan. Bebas dari dogma perusahaan yang menindas dan campur tangan pemerintah.

Para teknisi brilian seperti Bill Packard dan Dave Hewlett bebas mentransformasikan ide-ide menjadi bisnis besar dijalankan sesuai dengan ide-ide eksentrik mereka sendiri tentang bagaimana sebuah perusahaan harus beroperasi.

Peran Universitas Stanford

Bagaimana lembah sepi yang dipenuhi kebun buah-buahan menjadi pusat komunikasi elektronik global? Jawabannya adalah karena peran Universitas Stanford.

Sains dan teknologi selalu menjadi fokus penting di Stanford. Presiden pertamanya, David Starr, membantu mendirikan perusahaan radio nirkabel bernama Federal Telegraph pada 1909 dan anggota fakultas William Hansen menemukan klystron, sebuah “teknologi frekuensi gelombang” di laboratorium Stanford pada 1937.

Tetapi dibutuhkan tekad kuat dari Fred Terman, dekan teknik untuk mengubah Stanford menjadi pemimpin di bidang ini. Dalam kesibukan pendanaan federal yang datang setelah Perang Dunia II, Terman menyadari bahwa Stanford harus sangat kompetitif sebagai pusat komunikasi elektronik atau berisiko kehilangan landasan untuk institusi seperti Harvard dan MIT.

Dengan dukungan presiden Stanford J.E. Sterling, Fred Terman secara radikal menata ulang kurikulum akademis Stanford, memprioritaskan program mutakhir dalam fisika, teknik, dan sains, dan menciptakan Laboratorium Elektronik Stanford.

Tidak berhenti sampai di situ. Pada 1952, Terman dan Sterling memutuskan untuk menggunakan bagian dari kampus besar Stanford untuk membuat pusat bisnis.

Mereka mendedikasikan 350 hektare lahan untuk proyek tersebut. Mereka menawarkan kepada tenant-tenant, perusahaan besar, dengan janji bahwa mereka akan memiliki akses ke lab Stanford, dan beberapa pemikir terbaik dalam bisnis ini. Proposisi itu pun dianggap sangat menarik.

Hewlett-Packard dan Varian Associates termasuk di antara penyewa pertama, dengan perusahaan mapan seperti Kodak dan General Electric segera menyusul. Pada 1957, kawasan bisnis itu pun dipenuhi para tenant besar, dan ada interaksi berkelanjutan antara bisnis dan kampus.

Perusahaan rintisan menggunakan lab, dan mahasiswa Stanford didorong untuk magang dengan perusahaan di dalamnya. Lalu lintas penting antara bidang akademis dan komersial ini sangat bermanfaat.

Hal ini rupanya memupuk inovasi teknologi di perusahaan, dan membuat mahasiswa Stanford sadar akan masalah dunia nyata yang harus mereka selesaikan. Stanford segera menjadi salah satu penerima terbesar dana penelitian federal, memainkan peran kunci dalam menciptakan teknologi seperti pengacau sinyal untuk militer.

Negara lain pun mencoba meniru kawasan bisnis Stanford dan banyak universitas kini telah mengadopsi model tersebut. Stanford memberikan cetak biru untuk universitas jenis baru, yang dengan kuat merangkul dunia, alih-alih mundur ke “menara gading”.

Rahasia di balik Silicon Valley

Rahasia yang tak banyak diketahui mengenai Silicon Valley itu diungkap dengan gamblang oleh Margaret O’Mara seorang profesor sejarah dari Universitas Washington pada 2019 dalam bukunya yang berjudul “The Code”.

O’Mara yang pernah bekerja untuk Presiden Clinton di Gedung Putih itu mengungkap bahwa startup-startup di Lembah Silikon menjadi mesin pembangkit utama bagi industri kreatif dunia lebih karena dukungan kelembagaan dan pendanaan pemerintah yang sangat besar.

Teknologi yang telah merevolusi hidup tidak diciptakan oleh mereka sendiri tanpa keterlibatan yang lain. Sebaliknya, hal itu terjadi berkat kolaborasi yang intensif antara pihak-pihak yang tidak banyak terpublikasikan yakni pengusaha dan teknisi, akademisi dan politisi, bahkan peretas dan aktivis.

O’Mara yang juga peneliti di Brookings Institution itu menyebut bahwa Silicon Valley kini menjelma menjadi tempat penuh mitologi yang melambangkan inovasi teknologi dan kewirausahaan.

Silicon Valley faktanya mendapatkan keuntungan dari peperangan dan upaya Amerika untuk menguasai dunia. Bahkan O’Mara juga mengungkap bahwa radikalisme tahun 1960-an mempengaruhi perkembangan Silicon Valley secara sangat signifikan.

Banyak perusahaan angkat kaki

Sejumlah perusahaan top berbondong-bondong keluar dari Silicon Valley, imbas dari pandemi Covid-19 yang mengubah sistem kerja, dan polarisasi politik yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Kompas.com, alasan lainnya adalah biaya hidup tinggi, dan lokasi yang berdekatan dengan kebakaran hutan California. Dua alasan yang disebut pertama bahkan sudah menjadi pertimbangan untuk angkat kaki sebelum wabah virus corona melanda dunia, menurut pemberitaan AFP pada Minggu (20/12/2020).

Eksodus ini dipimpin oleh pendiri Tesla, Elon Musk; pendiri Oracle, Larry Ellison; bersama salah satu pendiri Palantir, Peter Thiel; dan kepala eksekutif perusahaan analisis data Alex Karp. Beberapa perusahaan lain juga berkemas dan memindahkan kantor pusat mereka, termasuk dua penghuni lawas, Oracle dan Hewlett Packard Enterprise yang sama-sama menuju Texas. Oracle yang didirikan tahun 1977 di Silicon Valley pada Desember mengatakan, mereka sedang memberikan lebih banyak fleksibilitas kepada para pegawainya, tentang di mana dan bagaimana mereka bekerja.

Eksodus perusahaan pindah dari Silicon Valley ini terjadi menyusul kebijakan kerja remote yang mulai banyak diterapkan karena pandemi Covid-19.

Begitulah asal usul Silicon Valley yang merupakan komplek perkantoran perusahaan teknologi dunia. Ada satu kesamaan bagi setiap orang yang berkecimpung di sana, yaitu mereka adalah orang-orang yang mahir dalam bidang  technopreneur, software engineer dan inovator digital. Untuk menjadi seperti mereka ada baiknya kamu mempelajari dunia teknologi informasi di tempat yang tepat.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) merupakan kampus IT di Bali yang fokus mencetak lulusan menjadi ahli di bidang teknologi informasi dan dapat menjadi technopreneur. Oleh sebab itu, ada mata kuliah wirausaha di Kampus swasta di Bali ini sehingga mahasiswa dapat mendapatkan bekal untuk menjadi seorang wirausahawan.

Selain fokus mencetak lulusan yang ahli dalam bidang teknologi informasi dan menjadi technopreneur, STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali ini juga menginginkan lulusan yang tidak melupakan nilai-nilai budaya khususnya budaya Bali. Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali dan berniat kuliah di Bali setelah lulus kuliah, maka kuliah di STIKI Indonesia dapat memberikan nilai-nilai dalam budaya Bali sehingga saat kamu kuliah di Bali akan dapat keuntungan tersendiri dengan mendapatkan kurikulum yang berbasiskan budaya. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Bagi kamu yang ingin tahu tentang sederet keuntungan kuliah di Bali, bisa dicek di link berikut: Kuliah di Bali.

Sementara, untuk mengetahui secara lengkap tentang STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT terpopuler di Bali maka bisa kunjungi link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Generic placeholder image

Perkembangan Python dan Alasan Penting Untuk Data Analitik

23 Mar 2021   Berita

Penelitian Jurnal Developer Economics–State of the Developer Nation mengungkapkan 69% pengembang machine learning dan data scientist aktif memakai Python pada tahun 2018. Laporan IEEE Spectrum tahun 2019 menyatakan bahasa pemrograman Python menjadi bahasa pemrograman paling populer di dunia.

Banyak yang mengira mungkin nama python diambil dari nama binatang melata ular piton. Namun, penciptanya Guido Van Rossum sebetulnya terinspirasi dari sebuah acara sketsa komedi yang ditayangkan di BBC Channel Monty Python Flying Circus.

Dikutip dari ekrut.com, 20 Februari 1991 menjadi tanggal awal python mulai dikembangkan. Dalam perjalanannya bahasa pemrograman python banyak dipengaruhi oleh bahasa pemrograman ABC. Proses pengembangannya, bahasa program Python pun dilakukan secara bertahap.

Menariknya, tidak seperti bahasa pemrograman lainnya yang banyak dikerjakan dan dirilis oleh perusahaan besar dengan melibatkan para profesional.

Python justru dikembangkan secara berkesinambungan oleh ribuan Programmer, penguji, dan pengguna yang kebanyakan bukan ahli IT dari seluruh dunia hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.

Versi pertama Phyton saat pertama kali dirilis adalah versi 0.9.0. Kemudian pada tahun 2000, Python 2.0 dirilis dengan pengembangan pada daftar, Unicode, dan pengumpulan bug.

Python yang teranyar adalah versi 3.6.4 dengan pengembangan berbagai macam fitur mulai dari Syntax, Generator Asynchronous, garis bawah di numeric literal  dan format string literal.

Python adalah bahasa pemrograman interpretatif yang dapat digunakan di berbagai platform dengan filosofi perancangan yang berfokus pada tingkat keterbacaan kode dan merupakan salah satu bahasa populer yang berkaitan dengan Data Science, Machine Learning, dan Internet of Things (IoT).

Keunggulan Python yang bersifat interpretatif juga banyak digunakan untuk prototyping, scripting dalam pengelolaan infrastruktur, hingga pembuatan website berskala besar.

Python adalah bahasa yang dapat membantumu mengembangkan hampir semua hal. Ini adalah bahasa yang bagus untuk mengembangkan alat backend dan perangkat lunak serta kecerdasan buatan lainnya. Mari kita simak alasan-alasan apa saja yang menguatkanmu untuk belajar Python dikutip dari teknologi.id:

1. Bahasa yang user-friendly

Sangat mudah untuk menggunakan kode Python. Panduannya yang mudah dan bahasa sederhana memungkinkan siapa saja untuk membuat suatu alat ataupun prototipe. Python membuat seseorang yang sebelumnya tidak menyukai coding pasti akan suka menggunakan Python. Itu adalah salah satu alasan yang kuat sehingga Python bisa menjadi sepopuler saat ini.

2. Mudah dipelajari

Sama mudahnya untuk membangun kode, Python juga mudah dipelajari. Persis seperti bahasa Inggris. Tiga baris kode Java atau C dapat diganti dengan hanya tiga kata kode Python. Python benar-benar gratis dan open source. Tidak perlu ada bahasa rumit untuk dapat menjadi seorang ahli dalam Python.

3. Extensibility dari Python

Python adalah bahasa universal. Tidak ada panduan ketat atau aturan mengekang yang perlu diikuti. Python memungkinkan melakukan semua jenis operasi dengan mudah. Sama sekali tidak perlu memilih platform yang sempurna karena didukung oleh sebagian besar platform mulai dari Windows ke Linux.

4. Pengujian

Python memungkinkan kita untuk memeriksa suatu ide dan produk untuk perusahaan. Keuntungan utama Python adalah memiliki kerangka pengujian built-in yang mencakup proses debug dan alur kerja. Ada alat-alat seperti selenium dan serpihan yang dapat membuat pengujian ini bekerja di semua browser dan framework. Pengujian adalah pekerjaan yang cukup membosankan dan Python adalah bahasa yang sempurna yang membantu mencapai hal ini.

5. Peran Python dalam Big Data dan Otomasi

Python mendukung operasi Big Data. Ia memiliki kemampuan untuk membantu memproses berbagai jenis informasi. Sekarang telah memungkinkan untuk membantu mendukung komputasi paralel menggunakan Python. Penggunaan Python dalam Big Data membuatnya mudah untuk memprosesnya. Python sama pentingnya dalam otomasi juga karena ia dapat digunakan sebagai bahasa scripting juga. Itulah beberapa alasan yang harus kamu pertimbangkan untuk mempelajari Python. Meski pun ada bahasa pemrograman lain juga, Python mempermudah kita untuk membuat kode dan mengembangkan algoritme, program, atau situs web secara instan. Jadi, pada dasarnya, Python telah memberi kita sayap untuk terbang. Memungkinkan seseorang untuk mengembangkan sesuatu yang baru dan kreatif untuk masyarakat luas.

Baik untuk Data Analitik

Python adalah bahasa pemrograman yang object-oriented, high-level dan sering di interpretasi dan juga, dikenal untuk semantiknya yang dinamis. Dikutip dari hacktiv8.com, Python dikenal secara luas untuk kemampuannya dalam Rapid Application Development, terutama dikarenakan binding dan typingnya yang dinamik. Python juga digunakan secara luas untuk scripting. Bahkan digunakan sebagai glue language untuk menyambungkan komponen yang sudah ada. Python cukup serba guna, sebab itu popularitas dari bahasa programming ini berkembang hari demi hari. Python cukup baik dengan data analisis. Oleh karena itu, sering disebutkan sebagai bahasa yang paling disukai untuk data science.

Python juga dikenal sebagai bahasa programming yang general-purpose. Meski pun, sangat menekankan keterbacaannya. Lewat bantuan Python, engineer dapat menggunakan lebih sedikit barisan kode untuk menyelesaikan tugas. Python sangatlah cepat dan banyak library yang membuat Python lebih disukai juga seperti Matplotlib.

Banyak library yang digunakan untuk scientific computing juga. Empat alasan utama yang membuat Python bahasa yang sempurna untuk data science melingkupi, Python merupakan bahasa programming yang open source. Python juga sangat cepat dan banyak pendukung yang tersedia sehingga Python digemari bagi banyak orang. Nyatanya, banyak orang terlibat dengan data analysis dapat mencoba banyak hal.

Python untuk data science

Python merupakan bahasa programming yang fleksibel, menyebabkannya dicintai oleh data science. Mereka yang ingin terjun ke dunia data science lebih memilih Python ketimbang bahasa-bahasa programming lainnya. Jadi, jika programmer ingin mencoba hal yang menarik dan unik mereka bisa melakukannya dengan Python. Programmer bahkan dapat menulis script untuk aplikasi dan website dengan cara sekreatif yang mereka mau. Python juga merupakan bahasa yang paling gampang untuk dikuasai. Bahasanya cukup sederhana, dan sangat gampang dibaca juga.

Belajar python memang membutuhkan waktu dan ketelitian sama seperti belajar bahasa pemrogramannya. Namun, kamu bisa belajar pemrograman melalui sejumlah cara yang tidak biasa. Sejumlah tips untuk belajar coding bisa kamu cek di link berikut: Tips Belajar Coding.

Selain mengikuti tips tersebut, untuk menjadi seorang programmer profesional memang dibutuhkan tempat belajar yang tepat. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) merupakan kampus IT di Bali bisa menjadi pilihanmu setelah lulus sekolah. Sebagai kampus swasta di Bali, STIKI Indonesia memiliki dua program studi, yaitu Sistem Komputer dan Teknik Informatika. Info lebih lanjut terkait pendaftaran bisa kamu cek di link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Kamu bukan orang Bali tapi suka berlibur ke Bali? Ada baiknya setelah lulus sekolah kamu bisa mempertimbangkan kuliah di Bali. Kamu bisa tiap hari liburan sembari kuliah di Bali. Ada sederet keuntungan yang didapat apabila kamu memutuskan kuliah di Bali. Apa saja keuntungan kuliah di Bali? Kamu bisa cek di link berikut: Keuntungan Kuliah di Bali.