Generic placeholder image

Demi Sang Ibunda, Komeng Raih Sarjana

16 Mar 2021   Berita

Komedian Komeng meraih gelar sarjana di usia 48 tahun. Tentu menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang malas atau tidak berpikir bahwa pendidikan itu penting. Komeng yang memiliki nama asli Alfiansyah ini memang mengakui tidak suka belajar. Dia bercerita sejak masih duduk di bangku SMP hingga SMA sering pindah-pindah sekolah karena sifat malasnya dalam belajar. Ternyata rasa masa belajar itu berlanjut hingga ke bangku kuliah.

Komedian yang akrab dengan jargon ‘uhuy’ ini bercerita pindah kuliah sudah tiga kali. Namun, pada akhirnya bisa menyandang gelar Sarjana Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tribuana, Bekasi, Jawa Barat. Pada 17 Maret 2018, pelawak yang di Jakarta 25 Agustus 1970 itu berhasil lulus sidang. Judul skripsi memang tidak jauh-jauh dari profesi yang ia jalani yaitu ‘Pengaruh Disiplin dan Pemberdayaan Terhadap Profesionalisme Anggota Persatuan Seniman Komedi Indonesia Jawa Barat’. Skripsi tersebut mendapatkan nilai A!

Komeng bercerita alasan dirinya tetap ingin meraih sarjana. Ternyata dia ingin mewujudkan permintaan sang ibunda yang meminta dirinya bisa menjadi sarjana. Namun, sayang begitu sayang, saat wisuda pada tahun 2018 lalu, sang ibunda tidak bisa melihat sang anak wisuda karena telah meninggal dunia.

Semangat Komeng dalam meraih sarjana memang patut diacungi dua jempol. Bagaimana tidak, usia sudah 48 tahun namun masih tetap bisa mewujudkan mimpi menjadi sarjana sekaligus membayar utang ke sang ibunda. Terpenting untuk menjadi inspirasi adalah Komeng memilih kuliah saat sudah menjadi ‘orang’. Biasanya banyak orang yang sudah dalam posisi enak namun tidak terpikir untuk memikirkan pendidikan.

Komeng bisa menjadi sosok yang paling bisa ‘menampar’ anak muda yang malas kuliah. Masih muda kok kalah sama yang berusia 48 tahun? Komeng bisa jadi memang orang yang malas dalam belajar. Namun, dia sadar bahwa rasa malas itu memang harus dilawan sehingga bisa mewujudkan keinginannya sekaligus keinginan sang ibunda.

Dalam satu kesempatan, Komeng juga bercerita bahwa salah satu yang paling berat adalah saat wisuda namun ibunda tidak bisa melihatnya. Komeng mungkin punya harapan apabila bisa memutar waktu maka ingin bisa meraih sarjana saat sang ibunda masih hidup. Namun, takdir berkata lain, ibunda pergi tahun 2016. Sedangkan Komeng wisuda dua tahun kemudian.

Sejak saat itu pula, Komeng memang jarang tampil di layar kaca. Ternyata, dia fokus mewujudkan keinginan sang ibunda. Kerja keras dan selalu terpikir keinginan sang ibunda membawa Komeng meraih sarjana ekonomi. Kisah Komeng ini mungkin bisa menyadarkan kita bahwa kalau sudah punya utang harus dibayar. Untuk masalah pendidikan tidak ada istilah terlambat untuk meraihnya.

Cerita Komeng memang sangat layak untuk dijadikan sumber inspirasi. Apalagi bagi kamu yang sedang malas kuliah atau malas mengerjakan skripsi bagi yang sedang menempuh tingkat akhir. Gelar sarjana bukan hanya untukmu dan masa depanmu. Tetapi gelar itu yang juga bisa membuat orang tuamu bangga. Orang tuamu tidak pernah muluk-muluk memintamu untuk melakukan ini itu, bisa ini itu. Mereka hanya ingin melihatmu menyandang gelar sarjana dan melihatmu wisuda. Tidak ada yang hal lain yang bisa membahagiakan mereka kecuali melihatmu menjadi seorang sarjana.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) berupaya mencetak mahasiswa yang berkualitas sehingga dapat menjadi lulusan yang dibutuhkan di dunia. Sebagai kampus swasta  di Bali, STIKI Indonesia juga memberikan kurikulum yang turut mengdepankan soft skill. Sehingga mahasiswa yang kuliah di STIKI bisa mendapatkan keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Pentingnya menguasai soft skill bisa dilihat di link berikut: Pentingnya menguasai soft skill.

Bagi kamu yang berada di luar Bali dan berniat kuliah di Bali maka sangat cocok apabila bergabung dengan STIKI Indonesia. Kurikulum di STIKI Indonesia juga mengedepankan pelajaran tentang budaya khususnya budaya Bali. Kamu tentu bisa mendapatkan keuntungan lain selain belajar IT yaitu dapat memahami budaya Bali. Ingat, Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Keuntungan lain apabila kamu ingin kuliah di Bali juga banyak. Kamu bisa cek di link berikut tentang sejumlah keuntungan apabila memilih kuliah di Bali: Kuliah di Bali.

Generic placeholder image

STIKI Indonesia Masuk 2 Kampus IT Klaster Madya dari Bali

26 Feb 2021   Berita

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN) memiliki hasil penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi periode tahun 2016-2018. Dalam pengumumannya pada November 2019 lalu, STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) naik klaster menjadi Madya dari sebelumnya Klaster Binaan.

Klasterisasi ini dibuat karena perguruan tinggi tidak hanya wajib melaksanakan pengajaran. Namun, juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Klasterisasi ini dibagi menjadi empat kelompok, yaitu Klaster Binaan, Klaster Madya, Klaster Utama, dan Klaster Mandiri.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKI Indonesia, Ida Bagus Ary Indra Iswara menjelaskan, keuntungan masuk dalam klaster Madya adalah dapat mengelola dana penelitian sebesar Rp 7,5 Miliar per tahunnya. Sebelumnya, tiap perguruan tinggi di klaster Binaan hanya mendapatkan dana Rp 2 Miliar per tahun.

“Keuntungan lain kita bisa buat Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) yang dibiayai oleh pemerintah, jadi kita bisa mengajukan proposal ke pusat dengan tema unggulan kita, kalau klaster Binaan enggak bisa mengajukan itu,” kata Ida Bagus Ary ditemui Jumat (18/2/2021).

Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi berdampak pula pada pengelolaan dana desentralisasi sesuai dengan rencana induk penelitian masing-masing perguruan tinggi, peta kebutuhan program penguatan kapasitas per klaster, dan mekanisme pengelolaan penelitian.

Komponen yang dievaluasi meliputi sumber daya penelitian 30 persen, manajemen penelitian 15 persen, iuran atau output 50 persen, dan revenue generating 5 persen. Jumlah kontributor penilaian sebanyak 1.977 perguruan tinggi, meningkat dari periode 2013-2015 yang hanya 1.447 perguruan tinggi.

Sebanyak 47 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Mandiri, 146 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Utama, 479 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Madya, dan 1.305 perguruan tinggi masuk ke dalam Klaster Binaan. Dalam peringkat Klaster Madya, STIKI Indonesia berada di peringkat teratas selain ITB STIKOM Bali untuk kampus IT swasta di Bali.

Komponen yang berhasil ditingkatkan oleh STIKI Indonesia adalah jumlah publikasi dosen, baik dari jurnal nasional terakreditasi, internasional, maupun partisipasi dalam konferensi ilmiah. Dalam tiga tahun terakhir, STIKI Indonesia telah mampu  memuat tiga jurnal yang memiliki akreditasi SINTA 3. Lebih jelas terkait Jurnal STIKI Indonesia bisa dibaca di sini.

Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi untuk periode tahun 2016-2018 tersebut dilakukan berdasarkan data yang sudah dikumpulkan oleh masing-masing perguruan tinggi di Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Simlitabmas).

Kemenristek mengingatkan jangan sampai perguruan tinggi hanya fokus pada pengajaran sehingga mengabaikan penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Perguruan Tinggi Negeri mau pun Perguruan Tinggi Swasta diharapkan dapat bekerjasama dalam penelitian dan pemberdayaan masyarakat, sehingga kualitas penelitian dapat menunjang ranking perguruan tinggi itu sendiri.

Kemenristek juga mengajak staf pengajar dan peneliti di perguruan tinggi seluruh Indonesia untuk meningkatkan dan memberikan karya terbaik, dengan kearifan lokal daerah masing-masing dengan penugasan kepada perguruan tinggi yang memang sudah cocok menjadi mitra peneliti untuk beberapa prioritas nasional yang menjadi fokus pemerintah.

Generic placeholder image

Tertinggi di Bali! 3 Jurnal STIKI Terakreditasi SINTA 3 Kemenristek

25 Feb 2021   Berita

Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) membangun Science and Technology Index yang diberi nama SINTA. Diluncurkan pada tahun 2017, SINTA adalah sistem aplikasi yang dibuat untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional dari dosen dan peneliti di Indonesia. SINTA dapat memetakan kepakaran dan pemeringkatan kinerja dari penulis, institusi dan jurnal terbaik di Indonesia.

SINTA diharapkan dapat memotivasi para dosen dan peneliti agar lebih giat menghasilkan publikasi. Sejalan dengan harapan Kemenristekdikti tersebut, STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) terus berupaya menggenjot para dosennya terus aktif dalam publikasi internasional. Baru digenjot sejak tiga tahun terakhir, STIKI Indonesia telah mampu memuat tiga jurnal yang memiliki akreditasi SINTA 3.

“Jurnal kita ada tiga, dan ketiganya ada di SINTA 3, jadi kita lebih unggul kalau dari sisi jurnal. Lebih tinggi grade kita, kalau untuk kampus swasta IT yang lebih tinggi di bali untuk saat ini kita sebagai jurnal IT untuk kampus swasta di Bali,” kata Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKI Indonesia, Ida Bagus Ary Indra Iswara, Jumat (19/2/2021).

Menurut Ida Bagus Ary, hal ini merupakan satu prestasi yang dicapai oleh STIKI Indonesia. Prestasi ini juga sebagai langkah dalam upaya mewujudkan visi STIKI Indonesia yang berkomitmen ingin menjadi Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia Timur.

Lewat akreditasi SINTA 3 ini juga menjadi bukti ke masyarakat khususnya calon mahasiswa bahwa STIKI Indonesia merupakan tempat belajar yang tepat. Mahasiswa juga bisa berbangga bahwa jurnal STIKI Indonesia telah diakui oleh Kemenristek.

Publikasi ilmiah yang masuk akreditasi SINTA 3 ini juga menjadikan bukti bahwa Perguruan Tinggi yang memiliki semangat ‘Menjadi dan Memberi’ ini bisa bersaing dengan Perguruan Tinggi lain yang telah terlebih dahulu ‘matang’. Apalagi biaya pendaftaran untuk kuliah di STIKI Indonesia tergolong lebih murah dibandingkan dengan Perguruan Tinggi swasta IT lainnya di Pulau Bali.

“Jurnal SINTA 3 ini prestasi luar biasa untuk dilihat mahasiswa. Mahasiswa masuk STIKI tidak hanya lihat biaya pendaftaran. Kalau dari biaya pendaftaran kan STIKI paling rendah dari pesaing tapi dari biaya rendah kita bisa berprestasi seperti ini, itu nilai plus kita. Jadi dengan biaya terjangkau kita bisa berprestasi. Jurnal milik STIKI itu sudah diakui SINTA Kemenristek Dikti,” ujar Bagus Ary.

Jurnal STIKI Indonesia yang masuk akreditasi SINTA 3 ini juga menjadi bukti dari komitmen demi mewujudkan visi menjadi Perguruan Tinggi Swasta IT Terbaik di Indonesia Timur. Untuk mewujudkan hal tersebut, setidaknya ada tiga hal yang harus diutamakan, di antaranya adalah pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dari sisi pengajaran, STIKI Indonesia telah berkomitmen memberikan kurikulum terbaik untuk mahasiswa.

Sisi penelitian telah digenjot sejak tiga tahun lalu dan berhasil diakui oleh Kemenristek melalui SINTA 3. Sementara, di bidang pengabdian, STIKI Indonesia sebagai kampus IT terpopuler di Bali terus mendorong agar para dosennya mampu mengimplementasikan penelitiannya ke masyarakat. Keunggulan lain dari STIKI Indonesia adalah mahasiswa dapat melakukan penelitian dengan dosen. Hal ini dapat menjadi medium bagi mahasiswa yang memiliki minat melakukan penelitian dengan terjung langsung ke lapangan.

STIKI Indonesia saat ini juga tengah merancang sistem agar mahasiswa yang ingin lulus cukup dengan publikasi jurnal tanpa mengerjakan Tugas Akhir. Langkah ini dianggap akan memudahkan mahasiswa karena mereka dapat menjalin kolaborasi dengan dosen.

“Kita juga masih rancang bagaimana caranya agar TA (Tugas Akhir) mahasiswa cukup dengan publikasi jurnal, bisa mungkin nanti masuk jurnal SINTA  bisa kita godok, kalau nanti sudah oke mahasiswa tidak perlu lagi TA,” katanya.

Tiga Jurnal STIKI Indonesia yang masuk akreditasi SINTA 3 di antaranya, SINTECH (Science and Information Technology) Journal, Jurnal Bahasa Rupa dan Jurnal RESISTOR. Untuk lebih jelasnya bisa di cek link ini.

Pemerintah melalui Kemenristekdikti memang tengah gencar berupaya mendongkrak hasil-hasil penelitian dalam bentuk jurnal ilmiah untuk dipublikasikan secara internasional. Jurnal ilmiah yang dapat diakses oleh pengguna internet di dunia merupakan sebuah aset negara yang sangat penting. Tingkat peradaban satu negara saat ini yang dilihat adalah jumlah publikasinya. Oleh sebab itu, setiap negara saling memperebutkan untuk mendapatkan peringkat tertinggi dalam publikasi ilmiah.

Jumlah penduduk di Indonesia relatif lebih banyak dari beberapa negara tetangga. Namun, dalam kenyataannya jumlah publikasi di tanah air masih kalah dengan negara-negara tetangga. Kemenristekdikti mengungkapkan salah satu penyebabnya adalah minimnya publikasi internasional para peneliti.

Berdasarkan hal tersebut, maka untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, pemerintah melalui Kemenristek Dikti membangun Science and Technology Index yang diberi nama SINTA.