Mereka Animator Kebanggaan Indonesia Namanya Mendunia

Kehebatan animator Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Mungkin kamu tidak sadar beberapa film favoritmu ternyata ada putra-putri Indonesia berperan di baliknya. Mulai dari Transformers, Avengers, Iron Man, The Adventure of Tintin, Ant Man hingga masih banyak lagi ada nama saudara sebangsa setanah air di dalamnya.

Film animasi adalah film yang merupakan dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambarbergerak. Film animasi pada awalnya dibuat dari berlembar-lembar kertas gambar yang kemudian diputar sehingga muncul efek gambar bergerak.

Seiring berjalannya waktu, komputer dan grafis komputer menyederhanakan semua proses tersebut. Bukan saja lebih mudah, proses pembuatan animasi oleh animator kini berjalan lebih cepat. Tapi tentu saja, tetap bukan perkara sepele. Apalagi yang kemudian bisa dilakukan oleh siapapun.

Menjadi animator tentu tak sekadar mahir komputer melainkan juga bakat dan kemampuan, utamanya dalam menghidupkan gambar. Bakat dan kemampuan ini yang bisa membuat kita sebagai penonton berdecak kagum. Nah, bangga bukan kalau putra putri Indonesia memiliki bakat dan kemampuan yang hebat.

Sejumlah nama berikut ini adalah animator kebanggaan Indonesia namanya mendunia seperti dikutip dari elearn.id:

Chris Lie

Christiawan Lie atau lebih akrab disapa Chris Lie, memang bukan lagi nama baru di dunia animasi. Ia pernah terlibat dalam pembuatan animasi sejumlah film papan atas Hollywood, sebut saja Transformers 3, GI: Joe, Spiderman, Star Wars hingga Lord of the Rings.

Chris sendiri suka menggambar sejak kecil. Hobi dan bakat itu lantas ditunjang pula oleh kecerdasannya yang di atas rata-rata. Asal tahu saja, Chris adalah lulusan terbaik dari Fakultas Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tahun 2003, ia mendapatkan beasiswa dari Fullbright dan melanjutkan S2-nya di Savannah College of Arts and Design (SCAD). Bidang yang dipilihnya saat itu adalah Sequential Art. Dari sini, Chris mulai merintis karirnya. Ia dipercaya Devil’s Due Publishing, sebuah perusahaan penerbitan ternama yang memegang lisensi komik G.I Joe di Chicago, untuk menggarap proyek-proyeknya, kemudian berlanjut dengan keterlibatannya di sejumlah film ternama.

Setelah memutuskan pulang kampung ke Indonesia, pemilik Caravan Studio tetap dipercaya untuk mengerjakan proyek dari Marvel, Hasbro, Mattel, Lego, dan Sony Online Entertainment.

Marsha Chikita Fawzi

Siapa yang tidak tahu Upin Ipin? Film animasi asal Malaysia tentang dua anak kembar yang lucu itu ternyata ada nama Marsha Chikita Fawzi di baliknya. Animator yang akrab disapa Chiki tersebut awalnya hanya magang di Las’ Copaque Production untuk keperluan akademisnya. Namun, berkat kelihaiannya di bidang animasi akhirnya ia diangkat menjadi pekerja full-time di tahun 2010.

Setelah bekerja kurang lebih tiga tahun, Chiki akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia dan mendirikan studio bernama Monso House.

Michael Reynold Tagore

Lulusan Desain Grafis Universitas Tarumanegara dan S2 jurusan desain di University Technology of Sydney ini adalah nama lainnya di dunia animasi Indonesia yang telah mencatatkan prestasi membanggakan di Hollywood. Asal tahu saja, ia adalah salah satu orang di balik layar pembuatan film The Hobbit dan Batman v Superman: Dawn of Justice.

Nama lengkapnya Michael Reynold Tagore. Sama seperti Chris Lie, pria kelahiran Surabaya telah menyukai aktivitas menggambar sejak kecil. Menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA), Reynold yang pindah ke Jakarta lantas mulai membuat animasi untuk game. Ia tertarik mendalami dunia animasi, khususnya iliustrasi tiga dimensi setelah menonton film Lord of The Ring.

Ronny Gani

Penggemar film-film Avengers mungkin tak akan mengeryit heran ketika mendengar nama-nama seperti Robert Downey Jr, Chris Evans, atau bahkan Tom Holland, tapi tidak demikian jika yang muncul adalah nama Ronny Gani. Padahal, dia adalah animator asal Indonesia yang diam-diam sudah memoles tampilan visual Hulk dan kawan-kawan sejak Avengers dirilis.

Ronny Gani merupakan Senior Animator, Industrial Light & Magic’s Singapore. Ia bergabung dengan Industrial Light & Magic pada 2008 dan telah bekerja di film-film blockbuster Hollywood. Di antara beberapa film yang telah melibatkan tangan dinginnya, sebagian dari kita tentu tidak asing dengan Ant-Man, Warcraft, Pacific Rim, dan banyak lagi.

Rini Sugianto

Sosok animator hebat lainnya di dunia animasi Indonesia adalah seorang perempuan bernama Rini Sugianto. Ia adalah animator yang berada di balik film-film box office Hollywood. Beberapa di antaranya adalah The Adventures of Tintin, The Avengers, The Hobbit: The Desolation of Smaug dan Teenage Mutant Ninja Turtle.

Kini, lulusan Universitas Parahyangan, Bandung jurusan arsitektur ini tinggal di California, Amerika Serikat. Rini sendiri telah memulai karir sejak 2005.

Griselda Sastrawinata

Berangkat dari kecintaannya pada film-film Disney, Griselda lantas mulai memupuk mimpinya untuk berkarir di perusahaan ini. Hal pertama yang ia lakukan adalah terbang ke Amerika Serikat dan melanjutkan studi di Art Center College of Design, Pasadena. Lulus kuliah, Griselda bekerja di DreamWorks Animation. Dia pun terlibat dalam banyak film seperti Shrek Forever After, Puss in Boots, How to Train Your Dragon, Kung Fu Panda 2 dan Home.

Keterlibatannya dalam film Moana, di mana ia bekerja sebagai visual development artist bagian desain karakter dan kostum, seolah menjawab mimpinya akan Disney.

Andre Surya

Kecanduan game sekali lagi terbukti bukanlah hal yang buruk. Paling tidak jika kita mengacu pada sosok animator Andre Surya. Berkat hobinya main game, khususnya game 3D, ia banyak belajar tentang grafis 3D. Dia lantas memutuskan untuk mengambil diploma jurusan film dan special effect di Canada. Lulus kuliah, Lucas Animation yang berbasis Singapura pun menjadi pelabuhannya.

Dari perusahaan yang didirikan George Lucas ini, Andre mulai menggarap banyak film Hollywood seperti Iron Man, Indiana Jones, Star Trek, Terminator Salvation, Avatar, Transformers dan masih banyak lagi. Saat ini dia sudah kembali ke Indonesia untuk membuka sekolah digital art.

Wira Winata

Berawal dari hobinya menggambar, kepiawaian Wira Winata sebagai ilustrator dan animator perlahan tapi pasti mulai terendus oleh Disney dan Cartoon Network. Wira sendiri sebenarnya tidak memiliki latar belakang khusus di bidang animasi. Ia adalah lulusan Nanyang Polytechnic Singapura jurusan teknik.

Pada 1997, atas saran dari seorang guru, yang mengetahui bahwa Wira suka menggambar, Wira pun terbang ke Pasadena, Amerika Serikat, untuk kuliah desain produk di Art Center College of Design. Ia lalu terlibat dalam dalam The Peanuts Movie.

Mereka semua memang bisa dijadikan panutan buat kamu yang punya mimpi menjadi seorang animator kelas dunia. Selain karena hobi, menjadi animator juga bisa menghidupimu. Apa yang paling nikmat di dunia ini selain hobi yang dibayar? Untuk mewujudkan mimpi memang dibutuhkan semangat dan kerja keras. Jangan menyerah apabila mengalami kegagalan.

Selain itu, kamu juga butuh tempat belajar dan lingkungan yang mendukungmu. Salah satu program studi di STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) adalah Teknik Informatika yang memiliki peminatan Desain Grafis dan Multimedia. Sebagai kampus swasta di Bali, kamu bisa memilih peminatan Desain Grafis dan Multimedia karena terdapat mata kuliah animasi 2 Dimensi dan 3 Dimensi. Maka, kamu bisa belajar animasi untuk mewujudkan cita-citamu menjadi seorang animator.

STIKI Indonesia juga berlokasi strategis. Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali dan berniat kuliah di Bali mungkin cocok memilih STIKI untuk kuliah karena banyak terdapat kos dan tempat makan yang enak dan murah cocok untuk kantong mahasiswa.