Generic placeholder image

Polisi Virtual Patroli Awasi Medsos, Melindungi atau Menakuti?

08 Mar 2021   Berita

Bareskrim (Badan Reserse Kriminal) Polri meluncurkan Polisi Virtual atau Virtual Police untuk mencegah tindak pidana UU ITE di dunia siber Indonesia. Polisi Virtual secara resmi beroperasi sejak 24 Februari 2021. Maka dari tanggal itu pula Polisi Virtual telah patroli mengawasi sosial media.

Polri menyebutkan polisi virtual bertugas untuk mengawasi konten-konten yang memiliki indikasi atau mengandung hoaks, hasutan, serta ujaran kebencian di berbagai platform, seperti Instagram, Facebook, dan Twitter.

Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono selaku Kepala Divisi Humas Polri mengatakan bahwa Polisi Virtual merupakan upaya kepolisian untuk menyampaikan edukasi pada masyarakat agar tidak membagikan konten-konten yang bersifat melanggar hukum.

Argo juga menyebutkan, Polisi Virtual ini berfungsi untuk menjaga kamtibmas di dunia digital. Hal ini juga masuk ke dalam 16 program prioritas yang dijalankan Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri.

Dalam prosesnya, polisi memantau aktivitas di media sosial dan akan melaporkan ke atasan jika menemukan unggahan konten yang berpotensi melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Unggahan konten yang diserahkan oleh petugas akan dimintakan pendapat ke para ahli, seperti ahli pidana, ahli bahasa, dan ahli ITE.

Jika ada potensi tindak pidana, unggahan konten itu akan diserahkan ke Direktur Tindak Pidana Siber atau pejabat yang ditunjuk. Setelah disetujui, maka polisi virtual akan mengirimkan peringatan kepada pemilik akun.

Polisi virtual dibentuk dan melakukan patroli di media sosial diklaim agar dunia digital bersih, sehat dan produktif. Polisi virtual akan mengedukasi dan mengimbau pengunggah konten. Jika ada unggahan terindikasi melanggar pidana. Maka konten itu harus segera dihapus dalam 1×24 jam.

Kemunculan polisi virtual menjadi bahan perdebatan di media sosial. Banyak beranggapan bahwa polisi virtual ini justru dapat memicu warga untuk takut berkomentar di media sosial. Sebenarnya apakah polisi virtual ini melindungi atau menakuti? Menurut Pakar Literasi Digital dari UGM, Dr. Novi Kurnia, polisi virtual adalah upaya Polri memoderasi konten negatif di dunia maya terutama yang mengarah pada pelanggaran pidana.

Polisi virtual ini menurutnya baik, namun harus tetap memperhatikan sejumlah aspek dalam pelaksanaannya. Aspek yang dimaksud mulai dari posisi, proses, transparansi, perlindungan data diri, hak pengguna digital hingga kolaborasi moderasi konten.

“Virtual Police sebagai sebuah aksi memoderasi ini bagus. Namun ada catatan-catatan yang harus dipertimbangkan seperti posisi untuk bisa menjaga netralitas, objektivitas, dan keadilan. Jangan terus interventif,”  kata pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM ini dikutip dari Liputan6.com.

Pelacakan dan persoalan transparansi juga harus menjadi perhatian polisi virtual. Menurutnya, Polri harus mengedukasi atau menyosialisasikan pengguna media tentang konten seperti apa yang dianggap sebagai konten negatif atau mengarah pada tindak pidana.

Selain itu perlindungan data diri pengguna media sosial seperti data apa saja yang bisa dibuka, bagaimana jaminan perlindungan, dan mitigasi terhadap kebocoran data pribadi harus dapat terjaga.

Ia meminta kepolisian untuk tetap memerhatikan hak digital pengguna media sosial dalam menyuarakan aspirasi dan tidak mengekang masyarakat. Sementara itu, Wakil Koordinator II Kontras Rivanlee Anandar berpendapat Polri perlu transparan terhadap kinerja polisi virtual. Selama ini publik belum diberi tahu mengenai prosedur pemantauan.

Dalam pelaksanaannya, perlu dijelaskan pula komposisi personel yang bekerja. Lalu berkaitan penilaian sebuah konten, apa saja parameternya. Tanpa transparansi, bisa saja polisi melebihi kewenangan dengan menghakimi warganet. “Negara sebisa mungkin menahan diri untuk menjatuhkan sanksi atas kebebasan berekspresi karena itu berdampak pada demokrasi dan HAM secara lebih luas,” kata pengurus Kontras, Rivanlee kepada Tirto.

Rivan menambahkan kendati ada syarat yang perlu diterapkan polisi virtual, keberadaannya sebetulnya tidak diperlukan. Karena dengan pengawasan media sosial oleh polisi virtual, Rivan menilai masyarakat semakin takut berpendapat di media sosial. Dalam beberapa survei menunjukkan masyarakat takut berkomentar. Survei Komnas HAM pada Juli-Agustus 2020, ada 29 persen responden mengaku takut mengkritik pemerintah, 36,2 persen responden takut menyampaikan kritik lewat internet.

Profil responden yang takut melebar hingga kalangan akademisi. Survei serupa dari Indikator Politik Indonesia periode 24-30 September 2020 memaparkan 69,6 persen responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa sekarang warga makin takut menyatakan pendapat.

“Keberadaan virtual police justru ironis karena ketakutan berkomentar disambut dengan pemantauan oleh negara yang akan mengakibatkan orang semakin enggan untuk berkomentar,” ujar Rivan.

Memang perdebatan terkait keberadaan polisi virtual ini masih berlangsung hingga sekarang. Ada yang menilai bagus karena dianggap dapat ‘membersihkan’ konten negatif di media sosial. Namun, ada pula yang menganggap bahwa keberadaan polisi virtual mengekang kebebasan bereskpresi di dunia maya. Terpenting adalah ada baiknya netizen di tanah air menjadikan media sosial sebagai sarana membagikan hal-hal positif.

Generic placeholder image

Melukat, Upacara Pembersihan Diri di Bali

06 Mar 2021   Berita

Upacara Melukat merupakan tradisi masyarakat Bali. Namun, sering dilihat di media sosial banyak artis ibukota yang mengikuti Upacara Pembersihan Diri ini sehingga Melukat semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Melukat adalah tradisi membersihkan diri secara spiritual menurut agama Hindu. Air yang digunakan untuk Melukat merupakan air suci dan proses rangkaian melukat tidak boleh di sembarangan tempat.

Tempat Melukat wajib dilakukan di pura yang lokasinya tak jauh dari muara sungai sampai dengan mata air dalam pura. Dilansir dari dharmadana.id, Melukat berasal dari kata lukat dalam Bahasa Kawi-Bali yang berarti bersihin, ngicalang.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata lukat berarti melepaskan (tentang barang yang dilekatkan). Kemudian mendapat awalan ‘me’ menjadi melukat yang diartikan melakukan suatu pekerjaan untuk melepaskan sesuatu yang melekat dinilai kurang baik melalui upacara keagamaan secara lahir dan batin.

Upacara melukat merupakan salah satu usaha untuk membersihkan dan menyucikan diri agar dapat mendekatkan diri pada yang suci yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang tak lain merupakan tujuan akhir dari pada kehidupan manusia. Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah Maha Suci dan tentu merupakan sumber Kesucian.

Maka sangat diperlukan adanya kesucian dalam pribadi kita untuk dapat mendekatkan diri dengan Beliau yang Maha Suci. Dalam Pustaka Suci Manawa Dharma Sastra Bab V sloka 109, dinyatakan sebagai berikut: Adbhir gatrani cuddhyanti manah satyena cuddhyti,cidyatapobhyam buddhir jnanena cuddhyatir yang memiliki arti: “Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.”

Apabila makna sloka tuntunan ini dihayati secara mendalam, maka melukat menggunakan sarana air untuk pembersihan tubuh secara lahir (sekala), sedangkan untuk sarana penyucian menggunakan Tirtha Penglukatan, yang mana telah dimohonkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa oleh pemimpin upacara melalui doa, puja dan mantram dengan diikuti oleh orang yang sedang melaksanakan upacara Melukat.

Jenis Upacara Melukat

Ada tujuh macam upacara Melukat apabila ditinjau dari pelaksanaan dan tujuannya. Tujuh macam upacara Melukat tersebut di antaranya:

• Melukat Astupungku, untuk membersihkan dan menyucikan malapetaka seseorang yang diakibatkan oleh Pengaruh hari kelahiran dan Tri Guna (Satwam, Rajas, Tamas) yang tidak seimbang dalam dirinya.

• Melukat Gni Ngelayang, untuk pengobatan terhadap seseorang yang sedang ditimpa penyakit.

• Melukat Gomana, untuk penebusan Oton atau hari kelahiran yang diakibatkan oleh pengaruh yang bernilai buruk dari Wewaran dan Wuku. Misalnya pada mereka yang lahir pada wuku Wayang.

• Melukat Surya Gomana, untuk melepaskan noda dan kotoran yang ada pada diri Bayi. Misalnya pada saat Nelu Bulanin.

• Melukat Semarabeda, untuk menyucikan Sang Kama Jaya dan Sang Kama Ratihdari segala noda dan mala pada upacara Pawiwahan (Perkawinan).

• Melukat Prabu, untuk memohonkan para pemimpin agar kelak dalam melaksanakan tugasnya mendapatkan kejayaan dan kemakmuran.

• Melukat Nawa Ratna, dapatkan dikatakan mempunyai makna yang sama dengan Melukat Prabu.

Umat Hindu di Bali percaya bahwa setiap manusia memiliki sifat diri yang kotor. Maka dari itu, sifat tersebut harus dibersihkan dan dibuang dari dalam diri manusia. Lewat upacara Melukat diharapkan segala hal-hal yang bersifat kotor atau negatif, baik secara jasmani maupun rohani, dapat kembali bersih dan suci.

Ritual pembersihan diri ini juga mempersiapkan umat manusia untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik di masa selanjutnya. Jangan khawatir bagi kamu yang memeluk agama lain apabila ingin mencoba ritual pembersihan diri ini. Siapa pun yang ingin melakukannya dapat bisa menjalankannya. Hal ini dikarenakan upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri.

Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali dan berniat melanjutkan kuliah di Bali bisa bergabung dengan STMIK STIKOM Indonesia (STIKI). Sebagai kampus IT Terpopuler di Bali, STIKI tidak hanya fokus melakukan pengajaran yang fokus pada Sistem Komputer dan Teknik Informatika. Namun, STIKI yang merupakan kampus swasta di Bali ini fokus pula melestarikan budaya khususnya budaya Bali di kurikulumnya.

Generic placeholder image

Mengupas Peran dan Tugas Seorang UI/UX Designer

05 Mar 2021   Berita

Kamu pasti sering mendengar tentang profesi UI/UX Designer. Profesi ini memang tengah menjadi tren dan dibutuhkan oleh tiap perusahaan di era teknologi informasi seperti sekarang. Meski UI dan UX Designer sering disatukan namun pada kenyataannya memiliki jobdesk yang berbeda. UI adalah kependekkan dari User Interface. UI mencakup aspek visual yang ditampilkan pada website maupun aplikasi mobile seperti menu, tulisan, tata letak, tombol, warna hingga tipografi.

UI Designer diharapkan mampu membuat tampilan (interface) yang mudah digunakan oleh pengguna atau kita kenal dengan (user friendly). Dilansir dari dicoding.com, UI designer juga mencakup perencanaan flow untuk pengguna, serta membuat mockup atau prototype. Bagi perusahaan besar UI Designer diperlukan untuk merancang layout website ataupun aplikasi mobile. Contoh dari UI yaitu visual design yang memang dibutuhkan untuk membuat suatu aplikasi tampak lebih enak dipandang mata.

UX adalah kependekan dari User Experience. UX designer yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk kepuasaan pengguna (user) dan pengalaman yang lebih baik. Contoh ketika menggunakan aplikasi Gojek, jika kamu ingin pergi kesuatu tempat tujuan, maka lokasi penjemputan terisi otomatis berdasarkan dari GPS kamu atau fitur User’s GPS.

Jadi UX atau User Experience ini memang  tidak kasat mata bagi seseorang yang bukan designer, tetapi bagi seorang designer dapat terlihat bahwa dengan mengisi lokasi secara otomatis dapat menghemat waktu dari sisi pengguna.

Pekerjaan sebagai UX designer adalah mencakup riset bagi pengguna (user research), mendesain hal-hal penting dalam user interface, mendesain juga flow website atau aplikasi mobile, serta melakukan testing.

Untuk menjadi seorang UI/UX Designer memang kamu harus jago dalam hal design. Setidaknya memahami konsep dasar. Bagi kamu yang ingin terjun dan menyandang ‘gelar’ UI/UX Designer ada sejumlah kunci yang harus kamu perhatikan. Berikut hal tersebut seperti dikutip dari dicoding.com:

Problem

Masalah apa yang terjadi? Sebagai UX designer sendiri justru kita akan mencari suatu masalah, bukan untuk dihindari. Masalah seperti apakah yang dimaksud? Contohnya seperti latar belakang dibuat suatu flow sistem, alat untuk meminimalisir sistem manualisasi yang ada saat ini. Supaya bisa menghasilkan suatu ide atau pun solusi.

Solution

Bagaimana cara memperbaikinya? Dibuatnya aplikasi sebagai alat, mempunyai tampilan yang menarik, dan mudah digunakan oleh pengguna (user friendly).

Result

Menghasilkan suatu keluaran atau output yang mempermudah pekerjaan pengguna, bukannya malah mempersulit.

Kamu bisa memulai dari belajar UI yang umumnya lebih mudah terlihat dibandingkan UX. Misalnya membuat konsep desain aplikasi sederhana menggunakan adobe XD ataupun Figma. Untuk belajar UX kamu bisa mempelajari dengan cara membaca buku tentang UX. Contoh buku yang direkomendasikan sebagai kitabnya para designer: The Design of Everyday Things (Don Norman), UX for Lean Startups (Laura Klein) dan Observing User Experience (Elizabeth Goodman, dkk).

Untuk belajar lebih mendalam kamu yang lulusan SMA dan ingin bergelut di bidang ini sangat cocok apabila melanjutkan pendidikan ke STMIK STIKOM Indonesia (STIKI). Sebagai Kampus IT terpopuler di Bali, STIKI memiliki program studi Teknik Informatika dengan peminatan Design Grafis dan Multimedia.

Sebagai kampus IT swasta di Bali, STIKI memiliki komitmen bagi mahasiswa yang memilih peminatan Desain Grafis dan Multimedia agar mereka kelak menjadi sarjana profesional di bidang teknologi komputer dengan multi-discipline science yang akan mempunyai kemampuan dalam merancang Desain Grafis dan Multimedia.

Tujuannya untuk menghasilkan karya berbasis desain grafis dan multimedia serta pembuatan situs/web perusahaan/instansi, video editing, program tayangan televisi, desain display product, animasi 2 dan 3 dimensi, corporate identity serta marketing kit.

Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali, mungkin bisa memilih STIKI Indonesia untuk kuliah IT di Bali karena ada sederet hal menarik yang terjadi. Keuntungan tinggal dan kuliah di Bali bisa dibaca di link berikut ini: Keuntungan Kuliah di Bali