Melestarikan Bumi Menjaga Langit

Setiap tanggal 22 April diperingati Earth Day atau Hari Bumi. Untuk tahun ini mengambil tema Restore Our Earth atau Pulihkan Bumi Kita. Hari Bumi dimulai pada tahun 1970 saat gerakan lingkungan moderen dimulai.

Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap bumi. Dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 seorang pengajar lingkungan hidup.

Tanggal ini bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan Bumi utara) dan musim gugur di belahan Bumi selatan.

PBB sendiri merayakan hari Bumi pada 20 Maret sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969, adalah hari di mana matahari tepat di atas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.

Tema Hari Bumi tahun ini adalah Restore Our Earth. Dilansir dari laman earthday.org,  tema ini diambil berfokus pada proses alami, teknologi hijau yang muncul, dan pemikiran inovatif yang dapat memulihkan ekosistem dunia.

Dengan cara ini, tema tersebut menolak anggapan bahwa mitigasi atau adaptasi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi perubahan iklim. Terserah kita masing-masing untuk Memulihkan Bumi kita bukan hanya karena kita peduli dengan alam, tetapi karena kita hidup di atasnya.

Kita semua membutuhkan Bumi yang sehat untuk mendukung pekerjaan, mata pencaharian, kesehatan & kelangsungan hidup, dan kebahagiaan kita. Planet yang sehat bukanlah pilihan. Ini adalah kebutuhan.

Hari demi hari kita selalu membaca dan mendengar kabar banyak kejadian buruk yang terjadi di planet bumi. Mencairnya es di kutub, lautan yang penuh sampah sampai spesies yang terancam punah. Ini semua tidak terlepas dari faktor perubahan iklim serta pemanasan global yang semakin parah.

“Menyelamatkan bumi” terdengar sangat berat. Padahal kita bisa menjaganya dengan melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut di antaranya dikutip dari nationalgeographic.id:

Kampus IT di Bali

  • Jangan Membuang Sampah Sembarangan

Membuang sampah tidak pada tempatnya akan mengotori lingkungan dan berdampak pada ekosistem di sekitarnya. Selain itu, sampah yang tercecer–terutama yang sulit terurai–pada akhirnya akan terbawa ke lautan dan membahayakan hewan-hewan di sana. Mereka akan mengonsumsinya karena mengira itu makanannya. Hal ini dapat membuat banyak hewan laut mati akibat terjerat sampah, terutama plastik.

  • Daur Ulang

Beberapa jenis sampah seperti botol minuman dan kardus dapat kamu daur ulang. Kreasikan sampah tersebut menjadi hiasan atau barang lain yang dibutuhkan di rumah sehingga mengurangi jumlahnya di lingkungan.

  • Kurangi belanja online

Berbelanja daring secara tidak langsung akan menambah jumlah sampah. Pasalnya, barang-barang yang dikirim ke rumahmu, terkadang dibungkus dengan plastik. Salah satu cara untuk mengurangi konsumsi plastik adalah dengan membatasi pembelian online. Kamu bisa membeli kebutuhan di toko terdekat lalu membawanya dengan tote bag tanpa kantung plastik atau kemasan.

  • Beli barang preloved

Banyak barang bisa digunakan kembali dengan fungsi yang masih sama. Hal-hal yang memiliki manfaat penggunaan dalam waktu singkat akibat pertumbuhan, misalnya baju atau sepeda anak-anak, bisa didapatkan dari tangan kedua tanpa perlu membeli yang baru. Membeli barang bekas pakai atau secondhand dapat mengurangi jumlah dan kegiatan produksi sekaligus bisa menghemat uang.

  • Beli Produk Lokal

Jika memungkinkan, beli produk lokal. Dengan begitu, polusi kendaraan yang mengirim barang dari jarak jauh, bisa berkurang. Pastikan juga kamu membeli produk dengan bahan-bahan ramah lingkungan.

  • Matikan lampu saat tidak digunakan

Kamu tidak perlu menyalakan lampu jika tidak ada orang di rumah. Jadikan hemat energi menjadi kebiasaan yakni dengan mematikan lampu setiap kamu meninggalkan rumah.

  • Gunakan air secukupnya

Semakin sedikit air yang kamu gunakan, semakin sedikit pula limpasan dan limbah yang akhirnya berakhir di lautan.

  • Kurangi penggunaan sedotan plastik

Untuk membantu mengurangi sampah plastik, kamu bisa mengganti sedotan plastik dengan yang berbahan dasar bambu atau besi. Bawa sedotan ramah lingkungan tersebut setiap kamu pergi ke restoran sehingga tidak perlu menggunakan sedotan plastik sekali pakai.

  • Membawa botol minuman sendiri

Selalu bawa botol minuman sendiri ketika bepergian. Ini menghindari kamu membeli minuman dalam botol atau gelas plastik. Dengan begitu, sampah plastik pun dapat berkurang.

  • Kurangi makan daging

Kamu tidak perlu berhenti makan daging seumur hidup, tapi setidaknya berkomitmen untuk menguranginya. Sebab, diperlukan 2.500 galon air untuk memproduksi satu pound daging sapi.

Selain itu, banyak wilayah hutan yang beralih fungsi menjadi peternakan akibat permintaan konsumsi daging yang tinggi.

  • Bersepeda atau naik transportasi umum

Kedua cara ini bisa mengurangi emisi karbon yang berasal dari kendaraan pribadi. Emisi karbon sendiri merupakan penyebab utama perubahan iklim.

  • Cabut kabel elektronik

Cabut kabel pengering rambut, televisi, charger ponsel dan alat elektronik lainnya setiap selesai digunakan. Jika tetap terpasang, itu akan tetap menyedot energi meski tidak dipakai sama sekali.

  • Menanam pohon

Pohon menyediakan oksigen bagi makhluk hidup. Ia juga dapat membantu menyimpan energi, membersihkan air, dan membantu melawan perubahan iklim.

  • Membuat kompos

Olah sampah rumah Anda menjadi kompos. Ini akan membantu mengurangi jumlah limbah padat yang Anda hasilkan. Selain itu, kompos juga bermanfaat sebagai pupuk alami.

  • Bergabung ke komunitas peduli lingkungan

Kamu bisa bergabung dengan komunitas peduli lingkungan kemudian berkolaborasi dengan banyak orang untuk menjaga Bumi. Biasanya, mereka akan memikirkan gagasan serta melakukan aksi yang berdampak pada keberlangsungan hidup Bumi dan makhluk yang berada di dalamnya.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali sering melakukan kegiatan yang bertujuan melestarikan bumi menjaga langit. Lewat Pusat Informsai Konseling Mahasiswa (PIK-M) STIKI Indonesia pernah melakukan kegiatan Gerakan Satu Juta Pohon Sebagai wujud kepedulian terhadap alam.

Kegiatan Gerakan Satu Juta Pohon ini dilakukan di kawasan Ekowisata tuban – nelayan wanasari, Jalan ByPass Ngurah Rai, Tuban, Kuta, Kabupaten Badung.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali sekaligus technopreneur campus di Bali memiliki komitmen untuk terus ikut andil dalam menjaga bumi.

Tak hanya itu, Kampus IT di Bali ini melalui PIK-M terus pula ikut andil dalam mengkampanyekan bahaya seks bebas, kekerasan terhadap perempuan dan penyalahgunaan narkotika.