Ayo Bersatu! Mari Bela Profesi Desain Grafis

Sering kali kita lihat di media sosial perbincangan seputar curahan hati seorang pekerja desainer grafis yang sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari klien bahkan belum secara resmi menjadi kliennya. Sedih.

Banyak sekali orang yang menganggap remeh profesi ini. Banyak yang menawar harga jasa dengan murah bahkan tak sedikit pula yang meminta gratis! Sadis!

Kita seringkali mendengar istilah ‘harga temen’. Harga temen bisa diartikan meminta atau mendapatkan harga murah karena menganggap ‘temen’. Hey! Padahal seharusnya sadar kalau ‘temen’ justru harusnya mendukung pekerjaan temennya dan enggak meminta harga murah. Kalau memang temen seharusnya bisa bayar dengan harga yang lebih karena menghargai pertemanan.

Ada lagi misalnya yang meminta dibuatkan desain logo dan sebagainya dan dikasih harga desainnya terus malah nawar dengan harga yang sadis. Parah!

Calon Klien: Mas, bisa buatkan desain untuk logo usaha kuliner saya yang baru?
Desainer: Bisa mas. Tolong nanti kirimkan detailnya ya atau bertemu untuk wawancara biar tahu detail usahanya seperti apa?
Calon Klien: Boleh. harganya berapa mas?
Desainer: Untuk logo harga Rp 500 ribu mas
Calon Klien: Mahal amad. Rp 100 ribu deh ya. Buat logo kan gampang. Masa buat logo gitu aja mahal 
Desainer: Maaf mas. Logo yang saya buat profesional. Ada harga ada kualitas. Silakan cari desainer lain.
 
Kampus IT di Bali
 
Belum lagi ada yang meminta ‘Project Thank You’. Ini merupakan project dari yang ngakunya temen. Minta dibuatin desain segala macam terus cuma bayar pakai ‘Thank You’. Fyuh. Sabar.

Ada lagi curahan hati yang sudah mepet deadline, tiba-tiba klien justru minta ganti brief. Sudah mepet deadline ditambah ada pergantian lagi. Kan tambah pusing.

Terus ada orang minta desain gratis yang katanya bisa dibikin dengan gampang. Kalau gampang kenapa enggak bikin sendiri ya? Hmm.

Revisi tiada akhir juga sering menimpa desainer grafis hasil desain yang sudah dikerjakan dengan sepenuh kemampuan tetap saja belum mampu memuaskan klien. Maka dengan wajar biasanya desainer grafis memberikan kesepakatan di awal bahwa revisi maksimal hanya tiga kali.

Ada lagi yang biking geleng-geleng kepala. Desainer grafis memberikan desain pertama ke klien. Lalu klien meminta revisi dan diberikan desain kedua, ketiga dan seterusnya. Tetapi klien malah mau desain yang pertama. Lah? Pusing!

Menjadi seorang desainer grafis bukanlah hal mudah. Ditambah pula mereka sering mendapatkan hal-hal menyebalkan dari klien. Desainer grafis harus memiliki dasar menggambar yang mumpuni, mampu mengoperasikan beragam software hingga dituntut memiliki kreativitas.

Kok kalian tega memperlakukan mereka sesuka hati? Sebaiknya semua orang sadar desainer itu bukan cuma tukang gambar dan bukan sekadar membuat gambar yang hanya sebatas gambar yang diinginkan klien.

Dalam desain yang dibuat oleh desainer grafis memiliki filosofi di dalamnya sehingga tidak hanya sekadar desain semata. Kalian semua juga harus sadar upah mereka itu mahal karena membuat desain itu ada harganya. So, jangan sembarangan lagi ya dengan desainer grafis. Kita juga harus mendukung desainer grafis. Mari Bersatu! Ayo dukung profesi Desainer grafis!

Berbicara tentang desainer grafis tentu merupakan profesi yang paling dibutuhkan di era digital seperti sekarang. Setiap perusahaan yang bergerak di bidang apa pun tentu mengikuti perkembangan zaman dan membutuhkan jasa desainer grafis. Maka, kamu yang punya minat di bidang ini tak perlu ragu untuk berprofesi di bidang ini.

Desainer grafis memang dibutuhkan skill gambar dan kreativitas. Namun, itu semua bisa dipelajari dan bisa dilatih asalkan kamu belajar di tempat yang tepat.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan Kampus IT di Bali memiliki program studi Teknik Informatika yang salah satu peminatannya adalah Desain Grafis dan Multimedia. Bagi kamu yang tertarik dengan dunia desain grafis dan multimedia bisa memilih peminatan ini sebagai tempatmu belajar.

Peminatan Desain Grafis dan Multimedia di STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali bertujuan menciptakan sarjana profesional di bidang teknologi komputer dengan multi-discipline science yang akan mempunyai kemampuan dalam merancang Desain Grafis dan Multimedia.

Diharapkan mampu untuk menghasilkan karya berbasis desain grafis dan multimedia serta pembuatan situs/web perusahaan/instansi, video editing, program tayangan televisi, desain display product, animasi 2 dan 3 dimensi, corporate identity serta marketing kit.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT sekaligus technopreneur campus di Bali juga merupakan kampus yang siap membantu mahasiswa unuk menjadi technopreneur. Kamu bisa bergabung menjadi bagian dalam Inkubator Bisnis STIKI Indonesia.

Selain kampus IT dan technopreneur campus di Bali, STIKI Indonesia juga merupakan kampus yang memiliki kurikulum berbasis budaya khususnya budaya Bali. Tentu menjadi keuntungan bagi kamu yang bukan orang Bali dan ada rencana kuliah di Bali.

Kamu bisa menjadi profesional IT atau technopreneur sekaligus bisa mempelajari budaya Bali yang terkenal memiliki keunikan hingga ke penjuru dunia. Bagi kamu yang ingin tahu keuntungan kuliah di Bali bisa dicek di link berikut ini: Kuliah di Bali.

Untuk informasi pendaftaran mahasiswa baru STIKI Indonesia yang merupakan Kampus IT terpopuler di Bali bisa disimak di link berikut ini: sip.stiki-indonesia.ac.id.