Inspirasi Bisnis: Netflix Berawal dari Rental DVD

Layanan video streaming Netflix semakin populer di era Pandemi Covid-19. Tak heran memang kebanyakan orang diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah sehingga menonton film menjadi keseharian. Netflix menjadi salah satu bagian tak terpisahkan. Namun, tahukah kamu kalau Netflix berawal dari rental DVD?

Pada tahun 1997, Founder Netflix Reed Hastings dan Marc Randolph mendapat ide untuk menyewakan DVD lewat pos. Mereka menguji konsep ini dengan mengirimi diri mereka sekeping DVD. DVD diterima secara utuh, dan lahirlah gagasan untuk mendirikan Netflix.

Dilansir dari website resmi mereka, pada tahun 1998 situs penyewaan dan penjualan DVD pertama telah diluncurkan. Tahun 1999 layanan langganan Netflix memulai debutnya dan menawarkan penyewaan DVD tak terbatas bagi para anggotanya, tanpa batas waktu, biaya keterlambatan, atau batas waktu penyewaan bulanan.

Dilansi medcom.id, Ketika itu, Netflix hanya memiliki 300.000 pelanggan, dan masih menggantungkan diri pada layanan pos untuk mengirimkan DVD yang hendak disewa. Hastings lalu terbang ke Dallas untuk menemui pihak Blockbuster, yang ketika itu, merupakan raksasa persewaan film dengan 7.700 toko di seluruh dunia. Dia ingin mengajak Blockbuster untuk bekerja sama dengan Netflix.

“Kami bahkan menawarkan untuk menjual 49 persen saham kami dan mengganti nama kami menjadi Blockbuster.com,” kata Hastings kepada Ken Auletta dari New Yorker. “Kami hendak menjadi layanan online mereka.” Tetapi, ketika itu Blockbuster tidak tertarik. Mereka belum melihat adanya ancaman dari media digital.

Blockbuster baru menyadari bahaya media digital di tahun 2004. Mereka lalu membuat layanan berlangganan online milik mereka sendiri. Sayangnya, mereka sudah terlambat. “Jika mereka meluncurkan layanan ini dua tahun sebelumnya, kami pasti akan kalah,” kata Hastings.

Di tahun 2005, Netflix telah memiliki 4,2 juta pelanggan, dan angka ini terus bertambah. Saat itu, studio di Hollywood mulai menawarkan film mereka untuk disewakan oleh Netflix. Keberadaan Netflix berhasil menjadi sumber penghasilan lain bagi mereka. Selain itu, dengan adanya Netflix, mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Blockbuster.

Netflix mulai menyiarkan film dan serial TV secara streaming langsung ke PC di tahun 2007. Di bulan November 2013, Blockbuster bangkrut. Sementara sebulan sebelumnya, Netflix mengumumkan bahwa mereka telah memiliki pelanggan 31 juta orang.

Salah satu kunci kesuksesan Hastings adalah karena dia sadar bahwa ada ketidakpuasan pada pelanggan saat menonton siaran TV tradisional. Ketidakpuasan tersebut adalah keberadaan iklan.

Netflix tidak memiliki iklan. Sumber pendapatan mereka murni datang dari biaya berlangganan pelanggan mereka. Dengan membayar sejumlah uang, masyarakat dapat menonton film atau serial TV yang mereka inginkan, tanpa harus mengikuti jadwal dari stasiun TV, pada gadget apapun yang mereka miliki, tanpa harus menonton iklan.

“Dengan layanan kami, Anda dapat mengendalikan apa yang ingin Anda tonton. Ia seperti buku. Anda dapat membaca seluruh cerita yang ada dalam buku dalam satu waktu, karena Anda sudah memiliki semua episode yang ada,” kata Hastings.

Di musim semi 2011, Netflix mengumumkan bahwa mereka akan mulai membuat konten sendiri. Tanpa ragu, Netflix menghabiskan USD100 juta untuk membuat dua season, 26 episode dari House of Cards, yang disutradarai oleh David Fincher dan dibintangi oleh Kevin Spacey. House of Cards diluncurkan di tahun 2013 dan dengan cepat menjadi populer.

Dalam acara Guardian Edinburgh International Television Festival tahun 2013, Space berkata, “Netflix adalah satu-satunya perusahan yang berkata, ‘Kami percaya pada kalian. Kami telah melakukan analisis data dan analisis tersebut menunjukkan bahwa pelanggan kami akan menyukai serial TV ini. Kalian tidak perlu membuat episode pilot. Berapa banyak episode yang ingin kalian buat?”

Netflix memiliki engine yang dapat memantau preferensi film seseorang. Pada dasarnya, engine ini berfungsi agar Netflix dapat menawarkan film lain yang akan disukai oleh seseorang berdasarkan pada film dan serial TV yang telah dia tonton sebelumnya.

Selain itu, engine milik Netflix ini juga dapat melacak kebiasaan pelanggannya, seperti seberapa cepat seseorang menonton setiap episode dari sebuah serial TV dan berapa banyak episode yang bisa mereka tonton dalam satu kesempatan.

Data miliki Netflix menunjukkan bahwa para pelanggan mereka akan menyukai House of Cards. Hal ini terbukti benar. Saat ini, satu hal yang belum dapat Netflix berikan adalah acara yang mengharuskan pelanggannya untuk menonton sebuah acara pada waktu tertentu, seperti acara Olimpiade, Oscar, atau bahkan acara seperti American Idol.

Dalam acara CES 2016, Hastings mengumumkan, pada kuartal empat, sebanyak 12 miliar jam dihabiskan untuk menonton Netflix. Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengumumkan rencana Netflix untuk memperluas jangkauan mereka ke 130 negara, salah satunya Indonesia.

Kuliah IT di Bali, Sejarah Netflix

Dilansir CNN Indonesia, Netflix berhasil menjaring lebih dari 200 juta pelanggan hingga 2020. Pertumbuhan pada 2020 merupakan yang terbesar sepanjang tahun, disinyalir karena peningkatan jumlah penonton selama pandemi Covid-19.
Pada kuartal keempat 2020, Netflix mencatat 8,51 juta pelanggan baru. Penambahan itu lebih banyak 2,5 juta dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dengan demikian, Netflix berhasil menjaring 36,6 juta pengguna baru sepanjang 2020. Secara keseluruhan, total pelanggan layanan streaming berbayar tersebut mencapai 203,7 juta hingga akhir 2020.

Sebelumnya, seperti dilansir Variety, Netflix hanya memperkirakan penambahan 6 juta pelanggan di kuartal empat setelah melihat lonjakan pada paruh pertama 2020 akibat gelombang awal pandemi Covid-19.

Namun, lonjakan itu tetap terjadi di paruh kedua 2020. Pelanggan layanan streaming tersebut bertambah 36,6 juta selama setahun penuh, melewati capaian tertinggi sebelumnya, yakni 28,6 juta pada 2018.

Beberapa tontonan juga berhasil menarik perhatian banyak pelanggan selama kuartal keempat, salah satunya The Crown season 4.

Berdasarkan data internal mereka, banyak pelanggan yang langsung menyaksikan musim terbaru serial tersebut ketika dirilis pada 15 November, tanpa menyaksikan musim-musim sebelumnya.

Namun, tak ada rekor baru dari serial tersebut. Rekor baru malah didapat dari serial The Queen’s Gambit yang ditonton lebih dari 62 juta pelanggan dalam 28 hari penayangan perdana.

Angka itu didapatkan dari para pengguna yang menyaksikan film atau serial tertentu paling sedikit dua menit.

Kini, Netflix berharap penambahan pelanggan sekitar 6 juta untuk kuartal pertama 2021 dan pendapatan sekitar US$7,13 miliar. Mereka memiliki lebih dari 500 judul saat ini yang dalam tahap pascaproduksi atau siap dirilis.

Kisah Netflix ini memang layak dijadikan inspirasi bagi kamu yang ingin memulai bisnis. Kamu juga bisa membaca buku tentang kisah pendiri Netflix Reed Hastings yang berjudul “No Rules Rules: Netflix and the Culture of Reinvention”. Dalam buku tersebut dia menceritakan cara unik menjalankan bisnis.

Untuk menjadi pebisnis memang harus banyak belajar dan bisa dipelajari di mana pun. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan Kampus IT di Bali juga memiliki program inkubator bisnis. Sebagai kampus swasta di Bali sekaligus technopreneur campus di Bali, STIKI Indonesia bisa membantumu dalam merintis bisnis.

STIKI Indonesia yang merupakan Kampus IT ingin mewujudkan inkubator bisnis sebagai lembaga pendamping tenant yang terdepan dan bertanggungjawab melalui penerapan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Misi lainnya adalah Mewujudkan Inkubator Bisnis STIKI Indonesia yang handal dan terpercaya dalam meningkatkan kinerja tenant untuk meraih potensi pasar yang lebih luas.

Salah satu tenant Inbis STIKI Indonesia pada tahun 2019 berhasil memenangkan hibah Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi ( PPBT) yang difasilitasi oleh Kemenristek/BRIN.

Pada program yang bertujuan untuk membangun iklim yang kondusif serta tumbuh dan berkembangnya perusahaan rintisan berbasis teknologi, dan mendukung komersialisasi hasil litbang di Indonesia ini Inbis STIKI Indonesia berhasil memperoleh hibah sebesar Rp. 407.048.000 dengan jenis PPBT yang bergerak dibidang produk dan jasa Print 3 Dimensi (3D Printing). Informasi lebih lanjut bisa kamu baca di link berikut ini: Inkubator Bisnis STIKI Indonesia.

Sementara, bagi kamu yang ingin tahu tentang informasi pendaftaran mahasiswa baru bisa disimak di link berikut ini: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Selain fokus mencetak lulusan yang siap menjadi profesional di bidang IT dan technopreneur, STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT terpopuler di Bali ini juga memiliki kurikulum berbasis budaya khususnya budaya Bali.

Ini tentu menjadi keuntungan buat kamu yang bukan orang Bali dan berniat kuliah di Bali. Kamu bisa sekaligus mempelajari budaya Bali yang dikenal memiliki keunikan hingga ke penjuru dunia. Ada sederet keuntungan apabila kamu memutuskan Kuliah di Bali. Keuntungannya bisa kamu cek di link berikut ini: Kuliah di Bali.