Generic placeholder image

Pentingnya Outing Biar Otak Gak Keriting

31 Jul 2021   Berita

Saat nanti kamu sudah lulus kuliah dan melamar kerja, pastikan dulu cari perusahaan yang rutin menggelar outing untuk karyawannya

Outing begitu penting biar otak gak keriting. Tujuannya menghilangkan kejenuhan dengan rutinitas sehari-hari. Apabila jenuh performa kerja bisa menurun dan mengarah ke stres. Tentu akan berdampak negatif bagi karyawan mau pun perusahaan.

Tangung jawab perusahaan bukan hanya sekadar memberikan gaji sebagai balas jasa dari pekerjaan, namun harus menjadi wadah bagi karyawannya untuk berkembang.

Apa manfaat melakukan outing bagi karyawan? Simak urainnya dikutip dari glints:

Mempererat Keakraban Antar Individu

Outing bukan sekadar dilakukan untuk bermain dan bercanda tawa. Jika dilakukan dengan tepat, outing kantor juga bisa menjadi momen strategis untuk wadah team-building dan team-bonding para karyawan. Saat menyelesaikan permainan atau beristirahat dan bersantai ketika outing, karyawan bisa menjalin komunikasi lebih baik serta saling mengenal satu sama lain lebih mendalam.

Saat outing kantor, tunjukkan juga bahwa perusahaan peduli dengan karyawannya, dengan memberikan kesempatan berdiskusi mengenai sumber stres atau masalah yang dihadapi di kantor. Ketika karyawan sudah dekat, akan lebih mudah bagi mereka untuk membuka diri dan mengeluarkan segala keluh kesah yang dihadapi. Pastikan juga lingkungan kondusif agar para karyawan tidak merasa tertekan atau dipaksa untuk bercerita.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali, kampus IT

Memotivasi Karyawan untuk Mencapai Satu Tujuan

Salah satu kegiatan yang bisa dibuat untuk para karyawan saat outing yaitu dengan memberikan kesempatan menuangkan ide dalam kelompok. Bentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari anggota divisi berbeda di perusahaan, dan berikan mereka kesempatan untuk berdiskusi membuat strategi untuk mencapai satu tujuan.

Tiap divisi biasanya memiliki KPI dan metrik berbeda untuk melaksanakan tugasnya. Hal ini juga bisa membantu karyawan untuk memahami lebih dalam mengenai ritme dan alur kerja divisi lain yang sehari-harinya tidak bekerja langsung dengan mereka.

Mengistirahatkan Tubuh dan Pikiran

Setelah melalui project besar atau melampaui target tinggi, kini saatnya karyawan beristirahat dan refreshing sejenak sebelum harus kembali melahirkan ide-ide brilian di project selanjutnya. Kegiatan outing inilah yang bisa menjadi momen untuk mengistirahatkan otak agar bisa lebih produktif dan mengembalikan kreativitas.

Menyatukan Karyawan

Kantor merupakan salah satu tempat di mana setiap orang di dalamnya memiliki hirarki atau posisi tertentu. Sudah menjadi hal yang wajar apabila ada batasan-batasan yang perlu diketahui dalam berkomunikasi secara profesional setiap harinya. Terkadang, sedikit kelonggaran diperlukan juga untuk menjaga kedekatan antar level karyawan.

Saat outing, setiap lapis karyawan berkesempatan untuk berkomunikasi secara terbuka satu sama lain, mulai dari level manager hingga officer. Tidak hanya dalam konteks profesional, kedekatan juga perlu dibangun melalui konteks yang lebih kasual. Sambil bermain game atau bercanda gurau.

Generic placeholder image

Lelahnya Perawat di Masa Gawat

30 Jul 2021   Berita

Perawat berada di garis terdepan pertempuran melawan Covid-19. Mereka bukan lagi menangani orang sakit, tapi menangani kematian dan kedukaan setiap hari. Banyak cerita bagaimana Covid-19 mengubah hidup mereka.

Apalagi banyak kisah beredar gaji mereka tak sebanding dengan upaya menyelamatkan sesama.

Perawat dianggap profesi paling mulia di dunia. Ada alasan jelas profesi ini disebut “sister” dalam bahasa Inggris. Pasien menganggap mereka sebagai seorang kakak yang menjaga adiknya.

Selalu berupaya tersenyum di depan pasien saat mereka sendiri sedang menangis di balik senyum.

Perawat selalu bertanya “bagaimana kondisi mereka sekarang?” Tetapi pasien tidak pernah bertanya kondisi mereka.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali, kampus IT

Krisis Tenaga Perawat

Ketua Umum DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah mengatakan saat ini terjadi krisis tenaga perawat. “Tampaknya kita krisis tenaga, sampai hari ini saya melihat belum bisa memenuhi jumlah (permintaan relawan tenaga perawat),” kata Harif dalam diskusi LaporCovid-19 dikutip dari Tempo.

Harif mengatakan, pemerintah saat ini berupaya menambah tenaga atau relawan. Tingkat pusat, Wisma Haji yang akan dioperasikan sebagai RS Darurat Covid-19 saja membutuhkan 450 orang perawat.

Dalam proses perekrutan itu, Harif menjelaskan bahwa di Jabodetabek terdapat 3.200 lulusan perawat. Namun, dalam dua hari ini, sebanyak 350 lulusan yang dihubungi, tak satu pun yang bersedia menjadi relawan.

“Ini repot. Karena lulusan Jabodetabek 85 persen sudah bekerja, 10 persennya mereka sudah jadi relawan. Yang 5 persen berbagai kondisi, tidak boleh sama orang tua, tidak mau, dan sebagainya,” kata dia.

Padahal, menurut Harif, penambahan tenaga relawan bisa mengurangi beban perawat yang saat ini bertugas. Ia menuturkan, ada dua masalah besar yang dialami perawat saat ini. Pertama, lonjakan kasus sejak akhir Mei memberikan probabilitas orang yang membutuhkan fasilitas pelayanan kesehatan lebih banyak.

Sisi lain, perawat yang terinfeksi Covid-19 juga mengurangi jumlah tenaga yang bertugas. Sehingga, beban yang ditanggung perawat yang bertugas pun menjadi meningkat. “Bukan hanya fisik tapi juga beban mental,” katanya.

Generic placeholder image

Pola Pikir Startup: Eksperimen dan Berani Ambil Risiko!

29 Jul 2021   Berita

Kantor dengan kesan korporat yang kaku bukan menjadi idaman generazi Z. Mereka ingin bekerja di kantor modern dengan suasana santai seperti startup. Bekerja di startup juga tak perlu mengenakan pakaian formal sehingga menambah daya tarik bagi generasi sekarang.

Sebelum ingin bergelut di startup bahkan bercita-cita ingin menjadi founder, kamu harus tahu pola pikir orang-orang di dalamnya.

Paling penting untuk bisa menjadi “orang” startup adalah kamu harus memiliki kemampuan berani ambil risiko dan bereksperimen. Apa Alasannya?

“Orang” startup berani ambil risiko mengeksekusi ide tanpa pikir panjang. Maka, tak heran banyak dari mereka yang berhasil menemukan gagasan segar yang tak terpikirkan oleh masyarakat umum.

Apabila ide tersebut gagal, mereka tidak akan takut apalagi menyerah, mereka akan kembali memutar otak dan kembali mencari ide yang “gila” lagi. Bereksperimen dan berani ambil risiko!

Nah, selain itu kamu juga perlu tahu sebenarnya bagaimana budaya kerja di startup tersebut. Berikut ulasannya:

Memiliki Banyak Tanggung Jawab

Bekerja dalam Startup berarti kamu adalah bagian dari sebuah tim kecil. Tiap divisi di perusahaan Startup tentu lebih kecil ketimbang korporat. Bahkan, ada Startup yang total jumlah pekerjanya tak lebih dari sepuluh orang. Bekerja di Startup membuatmu lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaan lain di luar bidangmu. Bekerja di Startup dituntut untuk bisa multitasking. Namun, hal ini justru bisa menjadi peluang untuk lebih bisa mengeksplorasi hal baru yang belum kamu kuasai.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali, kampus IT

Lingkungan Kerja yang Seru

Bekerja di Startup dapat dengan mudah bersantai hingga akrab dengan rekan timnya atau bahkan deengan bosnya. Startup kebanyakan mempekerjakan anak muda yang memiliki semangat dan tekad untuk memberikan yang terbaik. Dalam Startup tidak ada istilah senior atau junior. Semua bekerja bersama-sama tanpa melihat istilah senior dan junior. Bahkan, contoh kecilnya saja, pendiri Startup justru enggan dipanggil ‘Pak’ atau ‘Bu’ karena mereka tak nyaman sekaligus ingin memberitahukan tak perlu ada rasa segan ke atasan.

Selain itu, biasanya desain kantor Startup disulap menjadi tak sekaku mungkin. Meja kerja yang tak ada sekat hingga tersedia sejumlah fasilitas penunjang saat rehat, seperti tenis meja, billiard hingga Play Station. Fasilitas tersebut disediakan bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman hingga memberikan ruang untuk berkomunikasi dengan mudah agar tercipta keakraban satu sama lain.

Pakaian dan Jam Kerja yang Fleksibel

Perusahaan korporat biasanya meminta karyawannya untuk mengenakan kemeja, celana bahan atau pakaian rapi lainnya. Sedangkan bekerja di Startup tak seperti itu. Mereka bisa dengan bebas mengenakan kaos oblong sekali pun saat bekerja di kantor. Jam kerja di Startup juga cenderung fleksibel ketimbang bekerja di perusahaan korporat.

Tergantung kebijakan, biasanya pekerja di Startup tak terikat jam kerja seperti bekerja di perusahaan korporat yang mewajibkan bekerja dari pukul 09.00 hingga pukul 17.00. Bekerja di Startup bisa datang bekerja mulai pukul 11.00 dan pulang lebih malam. Bahkan, bekerja dari rumah pun bisa. Ada istilah di Startup yaitu “Tidak apa-apa tidak datang ke kantor asalkan pekerjaanmu selesai”.

Diisi Oleh Mereka yang Penuh Passion

Pekerja di Startup biasanya mereka yang memiliki passion di pekerjaannya. Tentu, dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki passion tinggi di pekerjaan akan bagus untukmu. Mereka yang bekerja di Startup biasanya inovatif dan bersemangat terhadap apa yang dikerjakan.

Pendapat Lebih Dihargai

Berada di lingkungan kerja yang jumlah orangnya sedikit tentu kamu lebih dengan mudah mengutarakan pendapat. Bekerja di Startup biasanya juga dituntut untuk bisa menelurkan ide yang cemerlang. Hal ini dapat mengasah kreativitas dan mempertajam insting kemampuan apabila ingin berbisnis kelak.

Peluang Besar untuk Belajar

Sifat inovatif dalam lingkungan Startup memungkinkan anda untuk kontak langsung dengan Founder di tempatmu bekerja. Tentu apabila ingin mendapatkan inspirasi belajar dengan orang yang tepat menjadi pilihan yang bagus untuk kemajuan karirmu. Founder Startup biasanya selalu bicara ke timnya dengan bijak “Ayo kita bangun bersama dan besar bersama”.

Sebagai contoh, dilansir dari Kompas.com, Pendiri Tokopedia William Tanuwijaya menjelaskan dirinya menerapkan budaya kerja dengan istilah Nakama. Istilah tersebut merupakan istilah dari Jepang yang berarti menyatakan teman dekat dan menyerupai keluarga ke para pekerja di Tokopedia.

Budaya kerja di Startup memang cenderung terkesan menyenangkan. Namun, bekerja di Startup tentu ada pula kekurangannya. Salah satu yang sering terjadi di Startup adalah cepatnya mengalami perubahan karena masih merintis. Maka, bagi yang bekerja di Startup tentu harus memiliki mental yang siap untuk menghadapi cepatnya perubahan.