Ingat! Pentingnya ‘Break Time’ Demi Kesehatan Mental Saat WFH

Sejumlah survei menyebutkan dampak bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) adalah terkait masalah kesehatan mental. Perusahaan mau pun pekerja harus mengantisipasi risiko dan dampak dari WFH.

Dampak paling nyata dari WFH adalah sejumlah pekerja mengeluhkan terkait tidak ada batas jam kerja saat bekerja dari rumah. Ada pekerja yang menerima keluhan harus menerima panggilan telepon membahas pekerjaan pada pukul 03.00 WIB.

Penyebab lain adalah sejumlah pekerja yang bekerja dari rumah tidak memiliki fasilitas tempat bekerja yang memadai. Sebagai contoh kursi dan meja kerja yang tidak nyaman seperti yang tersedia di kantor. Meja dan kursi yang tidak nyaman bisa menimbulkan masalah kesehatan.

Meski pada awalnya konsep ini dianggap menyenangkan, namun seiring dengan berjalannya waktu, WFH mulai menjadi polemik yang berpotensi menimbulkan stres. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat berujung pada gangguan kesehatan mental.

Kesehatan mental tidak hanya berkenaan dengan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Namun kesehatan mental juga mengacu pada kondisi sehat secara menyeluruh, di mana setiap individu sadar akan kemampuannya dan dapat mengatasi tekanan hidup.

Untuk dapat mengindentifikasi apakah seseorang memiliki masalah kesehatan mental atau tidak, itu bukan hal mudah sehingga cenderung berpotensi sebagai silent killer bagi penderitanya. “Hal ini disebabkan karena setiap individu membutuhkan waktu bertahun-tahun, sebelum akhirnya merasa nyaman untuk dapat membuka diri terhadap masalah kesehatan mental mereka,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari Republika.

Saat menyadarinya, sering kali sudah terlambat untuk mengatasinya. Hanya karena masalah kesehatan mental tidak terlihat, bukan berarti kesehatan mental itu tidak ada.

Secara global, hampir satu miliar orang memiliki masalah kesehatan mental. Orang dengan kondisi mental serius banyak yang tutup usia dua dekade lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak menderita penyakit mental.

Berdasarkan Statista Research Department, terdapat 2,99 juta orang Indonesia yang menderita gangguan jiwa pada 2020. Sementara itu, dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI), terdapat 68 persen peserta yang melakukan swaperiksa dari 31 provinsi, mengalami masalah psikologis.

kampus IT di Bali, kampus swasta di Bali, Kampus IT

Kesehatan mental ini masih menjadi topik yang kurang dipahami. Hal ini disebabkan adanya stigma sosial dan kebutuhan akan biaya pada perawatan pasien gangguan jiwa, banyak penderita kesehatan mental tidak mendapatkan pengobatan.

Pandemi semakin memperburuk krisis kesehatan mental secara global, para pelaku bisnis harus menyadari bahwa masalah kesehatan mental merupakan hal penting di lingkungan kerja. Buruknya kesehatan mental para karyawan dapat mempengaruhi kinerja bisnis.

Untuk itu, penting bagi pelaku bisnis dan karyawan, untuk bersama-sama menyadari bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari aspek kesehatan yang harus dianggap lumrah, dan bukan untuk dianggap sebagai stigma negatif.

Salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan menikmati waktu beristirahat (break time). Saat break time sebaiknya pastikan waktu kamu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Kamu bisa menonton film/televisi sejenak sembari mengonsumsi makanan favoritmu. Selain menonton, kamu juga bisa mendengarkan lagu-lagu dari genre favoritmu.

Selain istirahat yang menyenangkan, kamu juga bisa melakukan olahraga dari rumah. WFH membuatmu lebih banyak duduk dan kurangnya aktivitas fisik. Tidak ada salahnya untuk sesekali melakukan olahraga ringan, tidak perlu olahraga berat. Cukup melakukan peregangan agar kondisi tetap bugar.