Menjadi Perfeksionis, Baikkah Untuk Diri Sendiri?

Saat kamu selalu menuntut agar setiap pekerjaan dilakukan harus membuahkan hasil terbaik tak bercela mungkin sudah termasuk sebagai seorang perfeksionis. Dilansir hellosehat.com, ada perbedaan besar antara menjadi seseorang yang terbaik di bidangnya dengan seseorang yang perfeksionis. Menjadi yang terbaik artinya mengerahkan semua kemampuan terbaik yang dimiliki untuk menyelesaikan pekerjaan.

Kamu mungkin bisa dibilang sebagai seorang perfeksionis, jika selalu menuntut agar setiap pekerjaan yang dilakukan harus membuahkan hasil terbaik sama sekali tak bercela. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berusaha tampil sempurna. Perfeksionisme malah mungkin bisa menjadi dongkrak kesuksesan kamu di tengah masyarakat yang serba kompetitif. Namun, apakah menjadi seorang perfeksionis baik?

Apa itu perfeksionisme?

Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, bukan berarti Anda tidak boleh berusaha untuk menjadi yang terbaik. Meski begitu, ada perbedaan besar antara menjadi seseorang yang terbaik di bidangnya dengan seseorang yang perfeksionis.

Menjadi yang terbaik di suatu bidang artinya mengerahkan semua kemampuan terbaik yang Anda miliki untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Ya, siapapun yang bekerja keras bisa mencapai target prestasi tersebut, kamu termotivasi untuk berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun, keinginan untuk menjadi yang terbaik di bidang pekerjaan tentu tidak sama dengan menjadi perfeksionis. Seorang perfeksionis mengharapkan kesempurnaan dari diri sendiri maupun orang lain berdasarkan standar tertentu yang tidak masuk akal dan terlalu tinggi.

Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan sangat keras (atau bisa dibilang workaholic) dan mendambakan kesempurnaan dari setiap hal yang dilakukannya maupun yang dilakukan oleh orang lain. Sayangnya, perfeksionis tidak selalu bisa dianggap sebagai karakteristik positif.

Perfeksionis biasanya didorong oleh ketakutan akan kegagalan menyenangkan orang lain. Tak hanya itu, orang perfeksionis memiliki perasaan takut ditolak dan dikritik. Tak heran, keinginan untuk menjadi sempurna tanpa ada cacat dan celah dapat membuatnya merasa cemas dan stres begitu kesempurnaan itu gagal tercapai.

Perfeksionis akan melakukan berbagai cara untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan kriteria dan rencananya. Jika yang dilakukan belum memenuhi kriteria, akan terus mengulangi pekerjaan itu hingga benar-benar sempurna.

Bahkan, para perfeksionis tidak segan untuk menuntut atau mengkritik orang lain agar bekerja lebih baik lagi. Mereka bisa sangat fokus pada detil-detil remeh sehingga melupakan tujuan dari apa yang mereka lakukan.

Penyebab menjadi perfeksionis

Perfeksionisme terbentuk karena saat masih kecil, orang-orang terdekat menilai dan menghargai berdasarkan pencapaian dan apa yang dimiliki. Namun, tak hanya itu saja, ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang menjadi perfeksionis:

  • Rasa takut yang berlebihan akan tidak disukai oleh orang lain
  • Gangguan mental seperti gangguan kecemasan atau obsessive-compulsive disorder (OCD). 
  • Orangtua perfeksionis atau sering kali tidak menghargai usaha Anda sebagai anak saat tidak memberikan hasil memuaskan. 
  • Sikap ketergantungan yang terbentuk sejak masih kecil. 

Jika memiliki pencapaian-pencapaian yang besar, kamu mungkin merasa kewalahan atau justru tertekan karena merasa harus bisa memiliki pencapaian yang lebih besar daripada sebelumnya. Hal ini juga bisa membentuk perfeksionisme dalam diri. Oleh sebab itu, jika merasa memiliki karakteristik yang mengarah ke perfeksionisme hingga menyebabkan stres, cobalah untuk mengubah pola pikir.

Tidak ada salahnya pula untuk meminta bantuan kepada ahli profesional untuk memiliki perilaku dan pola pikir yang lebih positif dalam menetapkan standar dan target agar tidak membebani diri sendiri.

kampus IT di bali, kuliah di bali, kampus swasta di bali

Ciri-ciri perfeksionis

Ada beberapa ciri-ciri dari seorang perfeksionis yang perlu Anda waspadai. Berikut adalah tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seseorang perfeksionis, seperti:

  •  Berusaha untuk sempurna di segala hal

Sebenarnya, berusaha melakukan terbaik adalah sikap yang positif, khususnya dalam bekerja atau berkarir. Sebagai contoh, seorang juru masak tentu ingin menyediakan makanan yang enak dan disukai oleh pengunjung restoran tempatnya bekerja.

Namun, jika ada pengunjung yang hanya memberikan penilaian 4 dari 5 dan hal tersebut membuatnya tertekan, sedih, dan merasa gagal, bisa jadi juru masak tersebut adalah seorang perfeksionis.

  • Merasa harus menjadi yang terbaik dari orang lain

Sebenarnya, menjadi versi terbaik dari diri Anda adalah hal yang baik. Namun, jika Anda merasa harus selalu menjadi yang nomor satu, bisa jadi itu adalah ciri dari seorang perfeksionis.

Bagi seorang perfeksionis, menjadi nomor dua tidaklah cukup membuktikan bahwa dirinya sudah memiliki kualitas diri yang baik. Padahal, tanda bahwa seorang sukses tidaklah selalu harus menjadi yang nomor satu.

  • Butuh pengakuan

Tidak cukup hanya merasa sempurna, perfeksionis juga butuh pengakuan dari orang lain bahwa dirinya memang sempurna. Jika lebih fokus terhadap penilaian orang lain terhadap usaha yang dilakukan dibanding fokus terhadap usaha itu sendiri, bisa jadi perfeksionisme dalam diri sudah memberikan pengaruh yang buruk.

  • Sulit menerima saran dan kritik

Kata-kata yang tidak menyenangkan mengenai diri kita mungkin tidak bisa diterima dengan mudah. Namun, orang yang sekedar memberikan komentar jahat tidak sama dengan orang yang ingin memberi kritik membangun untuk membantumu menjadi lebih baik.

Seorang perfeksionis biasanya kesulitan membedakan komentar jahat dan kritik membangun, sehingga keduanya sama-sama tidak bisa diterima dengan baik. Jika merasa demikian, mungkin perfeksionisme dalam diri sudah memberikan pengaruh buruk terhadap bagaimana bersikap dan menanggapi orang lain.

  • Seringkali terlalu kritis terhadap orang lain

Meski tidak terlalu suka dikritik, seorang perfeksionis justru senang mengomentari dan menghakimi orang lain, tapi secara berlebihan. Hal ini bisa saja didasari keinginannya untuk menjadi yang terbaik. Untuk mewujudkannya, ia berusaha menjatuhkan citra diri orang lain demi mengangkat citra diri sendiri.

  • Suka menunda pekerjaan

Tahukah kamu bahwa sering menunda-nunda untuk melakukan suatu pekerjaan bisa jadi salah satu ciri dari perfeksionis? Hal ini mungkin terjadi karena perfeksionis sangat takut dengan kegagalan. Oleh sebab itu, alih-alih mengerjakan, ia lebih senang untuk menghindari dengan cara menunda pekerjaan tersebut.

Namun, pemikiran tersebut tentu saja hanya akan menyulitkan dirimu  sendiri. Tak hanya itu saja, semakin banyak pekerjaan yang diabaikan, semakin banyak pula tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu waktu. Hal ini bisa menyebabkan kamu stres jika tidak segera dituntaskan.

  • Selalu merasa bersalah

Perfeksionisme dalam diri bisa menimbulkan pikiran bahwa kesalahan sekecil apapun yang Anda lakukan adalah bentuk dari kegagalan dalam mengerjakan pekerjaan dengan baik. Padahal, melakukan kesalahan adalah fitrah sebagai manusia.

Akibatnya, Anda akan sering merasa gagal karena tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan sempurna. Hal ini dapat menimbulkan perasaan bersalah terhadap diri sendiri maupun orang lain yang terus bermunculan. Jika dibiarkan, Anda tidak akan pernah bisa menikmati hidup.

Cara mengatasi perfeksionisme yang buruk

Menjadi seorang perfeksionis bisa menjadi kelebihan bagi Anda, selama tidak berlebihan dan tahu bagaimana mengontrolnya agar tidak memberikan dampak yang buruk. Namun, sayangnya, alih-alih menjadi kelebihan, perfeksionis cenderung menjadi kekurangan dari diri seseorang karena dampak negatif yang ditimbulkannya.

Maka itu, saat perfeksionisme sudah memberikan pengaruh buruk terhadap diri Anda, lebih baik segera cari cara untuk mengatasinya. Berikut ini adalah beberapa hal yang disarankan dalam sebuah artikel yang dimuat oleh laman Brown University dalam mengatasi perfeksionisme:

  • Buat target yang masuk akal sesuai dengan pencapaian-pencapaian Anda.
  • Ubah pola pikir bahwa kesuksesan tidak harus selalu sempurna tanpa cela.
  • Fokus terhadap proses, tidak hanya pada hasil akhir.
  • Setiap kali merasa cemas dan depresi, tanyakan kepada diri sendiri mengenai target yang sudah Anda buat.
  • Lawan perasaan takut gagal dengan pemikiran seperti, “Apa hal terburuk yang mungkin terjadi?”
  • Yakini bahwa Anda tetap bisa mendapatkan pelajaran dari kesalahan yang terjadi.

Menjadi perfeksionis memang bagus. Namun, harus pula dapat bersikap lebih realitis. Harus mampu memiliki pola pikir realistis bahwa tidak semua di dunia ini menuntut kesempurnaa. Tidak ada orang yang sempurna dan terpenting sudah melakukan hal terbaik yang kita bisa. Semua pekerjaan ada batasannya juga. Terpenting adalah sudah memberikan yang terbaik.