Generic placeholder image

Rekomendasi Podcast Belajar Programming, Cocok Untuk Pemula!

29 Jun 2021   Berita

Saat ini untuk belajar programming bisa lewat berbagai cara. Kamu jenuh membaca? Jenuh menonton? Ayo coba mendengar belajar dunia programming lewat podcast! Mendengarkan podcast kamu bisa belajar tentang banyak hal mulai dari pemrograman hingga tentang para profesional yang bercerita tentang berkarier di profesi yang tengah diminati ini.

Nah berikut ini ada sejumlah podcast yang cocok untuk belajar programming bagi para pemula:

Ceritanya Developer

Rekomendasi Podcast yang pertama adalah Ceritanya Developer. Dilansir Glints, podcast ini mertempat para programmer, developer, hingga software engineer berbagi keseharian mereka.

Dari mana mereka memulai karier? Apa komputer programming pertama mereka? Bagaimana mereka membagi waktu personal dan profesional?

Semuanya bisa kamu dengarkan di Ceritanya Developer yang bisa kamu putar di Spotify, Apple Podcast, atau Google Podcast!

CodeNewbie

Sama seperti namanya, CodeNewbie diciptakan untuk para pemula dalam dunia coding. Podcast ini hadir setiap minggu dengan bintang tamu praktisi berpengalaman.

Mereka akan bercerita soal hal-hal teknis seperti tools pemrograman, hingga berbagai isu seperti senioritas alias ageism di dunia IT. Podcast ini bisa kamu dengar di Spotify dan Apple Podcast.

Kampus IT di Bali, Kampus Swasta di Bali

Programming Throwdown

Ingin belajar hal-hal teknis pemrograman dari dasar? Programming Throwdown adalah jawabannya! Setiap episode dari podcast ini menawarkan informasi tentang programming dasar. Semuanya dikupas satu per satu, dengan bahasa yang ramah pengguna. Merasa podcast ini cocok untuk telingamu? Dengarkan lewat Apple Podcast, ya!

Podcast Teh Atau Kopi

Podcast ini dibuat oleh Hilman Ramadhan yang merupakan pendiri sekolahkoding.com, berisi wejangan-wejangan untuk para programmer pemula hingga senior.

Bagi kamu yang ingin terjun serius ke dunia programming ada baiknya belajar di tempat yang tepat. Bagi kamu yang baru lulus SMA dan ingin menjadi programmer ada baiknya bergabung menjadi bagian dari STMIK STIKOM Indonesia (STIKI).

STIKI Indonesia merupakan Kampus IT di Bali yang memiliki dua program studi, yaitu Teknik Informatika dan Sistem Komputer. Program studi Teknik Informatika di kampus swasta di Bali ini memiliki tiga peminatan di antaranya Manajemen Teknik Informatika, Desain Grafis dan Multimedia dan Komputer Akuntansi dan Bisnis.

Generic placeholder image

Kulik Alpine.js Framework Javascript yang Mudah Dipelajari

18 Jun 2021   Berita

Alpine.js adalah framework JavaScript yang tergolong baru apabila dibandingkan dengan beberapa framework lain yang lebih kondang seperti Angular.js dan Vue.js. Sang pencipta Alpine.js, Caleb Porzio merilisnya pada Desember 2019.

Dilansir appkey.id, Syntax dari Alpine.js sendiri terinspirasi dari Vue dan Angular. Hal ini juga disampaikan langsung oleh Caleb Porzio, bahwa syntax Alpine.js dibuat dengan inspirasi dari dua framework JavaScript yang paling terkenal dan banyak digunakan oleh developer. Bagi para developer yang telah familiar dengan Angular maupun Vue, tidak akan kesulitan saat menggunakan framework ini.

Alpine.js menawarkan ukuran yang kecil yakni hanya 8KB. Alpine.js adalah framework yang menawarkan kemudahan yang memungkinkan para developer untuk membuat website interaktif tanpa menulis JavaScript. Anda juga dapat membuat serta memanipulsi state, langsung pada markup html. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Alpine.js adalah:

Alpine.js secara deklaratif untuk binding data ke DOM menggunakan atribut x-bind. Ini dapat digunakan untuk mengikat atribut apa pun ke data reaktif pada komponen Alpine.js.

Pada framework ini, seperti framework maupun library yang memiliki tampilan deklaratif seperti React dan Vue menyediakan x-ref sebagai solusi untuk mengakses langsung elemen DOM dari kode komponen JavaScript saat binding tidak cukup (misalnya, saat mengintegrasikan library dari pihak ketiga yang membutuhkan untuk melewati Node DOM).

Kampus IT di bali, kampus swasta di Bali

Alpine.js menyediakan fitur x- on directive dan $event magic value, yang memungkinkan fungsi JavaScript untuk menangani event. Untuk melakukan trigger pada event yang dikostumisasi, Alpine.js menyediakan fitur $dispatch magic property yang merupakan wrapper tipis di atas Event dan Dispatch Event API browser.

Alpine.js menyediakan seperangkat fitur yang terinspirasi dari transisi API pada Vue.js, disebut x-transition directives yang dapat menambah dan menghilangkan classes selama transisi elemen.

Dengan fitur ini, developer dapat menambahkan animasi pada website seperti animasi yang ada pada jQuery yaitu, slideUp, slideDown, fadeIn, dan fadeOut.

Pada Alpine.js juga disediakan plugin. Komponen-komponen pada Alpine.js cenderung sederhana, bahkan para developer dapat mengaplikasikannya dengan copy paste.

Ukuran Alpine.js yang ringan jika dibandingkan dengan framework atau library JavaScript lainnya yakni hanya 21,9 KB minified dan 7,1 KB minified + gzipped. Cukup ringan untuk para developer pemula yang ingin belajar membuat website.

Bagi kamu yang ingin mencoba menggunakan Alpine.js dalam membuat proyek, appkey.id menyediakan berapa panduan singkat terkait instalasi dan dasar-dasar penggunaan Alpine.js berdasarkan fitur-fitur yang ada.

Instalasi Alpine.js

1. Gunakan CDN atau NPM
Instalasi Alpine.js cenderung mudah. Anda dapat menginstalnya dengan CDN atau NPM.
– Menggunakan CDN:

Tambahkan kode berikut di akhir section <head> pada file HTML Anda.

<script src=”https://cdn.jsdelivr.net/gh/alpinejs/alpine@v2.x.x/dist/alpine.js” defer></script>

– Menggunakan NPM

Masukan kode berikut ini pada script Anda menggunakan import alpinejs.

npm i alpinejs
komponen dasar saat menginstal Alpine.js:
<html>
<head>
<script src=”https://cdn.jsdelivr.net/gh/alpinejs/alpine@v1.9.8/dist/alpine.js” defer></script>
</head>
<body>
<div x-data=”{ isOpen: true }”>
<button x-on:click=” isOpen = !isOpen”>Toggle</button>
<h1 x-show=”isOpen”>Alpinjs</h1>
</div>
</body>
</html>

Tahap pertama dalam mengoperasikan Alpine.js adalah menentukan state. State dapat berjalan dimana saja ketika dibutuhkan, dan memiliki cakupan dengan HTML selector yang Anda masukkan. Pada kode di atas, didefiniskan cakupan menggunakan direktif x-on directive untuk mengirimkan objek sebagai nilai dari suatu state.

Pada Alpine.js terdapat 14 fitu direktif yang disediakan untuk para developer:

1. x-data untuk mendeklarasikan cakupan komponen yang baru.
Contoh: <div x-data=”{ foo: ‘bar’ }”>…</div>
Struktur: <div x-data=”[object literal]“>…</div>\

Anda juga dapat mengekstrak data ke dalam fungsi yang dapat digunakan kembali:

<div x-data=”dropdown()”>
<button x-on:click=”open”>Open</button>

<div x-show=”isOpen()” x-on:click.away=”close”>
// Dropdown
</div>
</div>

<script>
function dropdown() {
return {
show: false,
open() { this.show = true },
close() { this.show = false },
isOpen() { return this.show === true },
}
}
</script>

2. x-init untuk menjalankan ekspresi ketika komponen sedang di inisialisasi.
Contoh: <div x-data=”{ foo: ‘bar’ }” x-init=”foo = ‘baz’”></div>
Struktur: <div x-data=”…” x-init=”[expression]“></div>

Jika kamu ingin menjalankan kode setelah Alpine membuat update pada DOM, kamu dapat melakukan callback dari x-init dan menjalankannya setelah kode berikut:

x-init=”() => { // we have access to the post-dom-initialization state here // }”

3. x-show terdiri dari toggle display, none, pada elemen bergantung pada ekspresi (true atau false). Anda dapat
Contoh: <div x-show=”open”></div>
Struktur: <div x-show=”[expression]“></div>

4. x-bind adalah seperangkat value atau nilai dari atribut untuk menghasilkan suatu ekspresi JavaScript (JS).
Contoh: <input x-bind:type=”inputType”>
Struktur: <input x-bind:[attribute]=”[expression]“>

5. x-on untuk melampirkan event listener pada elemen. Direktif ini juga berguna untuk menjalankan ekspresi JS ketika dikeluarkan.
Contoh: <button x-on:click=”foo = ‘bar’”></button>
Struktur: <button x-on:[event]=”[expression]“></button>

6. x-model berisi elemen two-way data binding atau dua cara untuk mengikat data. Tetap menginput elemen pada sinkronisasi dengan komponen data.
Contoh: <input type=”text” x-model=”foo”>
Struktur: <input type=”text” x-model=”[data item]“>

7. x-text cara kerjanya mirip dengan x-bind namun akan melakukan update innerText pada elemen.
Contoh: <span x-text=”foo”></span>
Struktur: <span x-text=”[expression]“

8. x-html cara kerjanya mirip dengan x-bind, tetapi akan diupdate innerHTML dari suatu elemen.
Contoh: <span x-html=”foo”></span>
Struktur: <span x-html=”[expression]“

9. x-ref adalah cara mudah untuk mengambil elemen raw DOM dari komponen Anda.
Contoh:
div x-ref=”foo”></div><button x-on:click=”$refs.foo.innerText = ‘bar’”></button>

Struktur:
<div x-ref=”[ref name]“></div><button x-on:click=”$refs.[ref name].innerText = ‘bar’”></button>

10. x-if untuk menghilangkan elemen sepenuhnya dari DOM. Anda perlu menggunakannya pada tag <template>.
Contoh: <template x-if=”true”><div>Some Element</div></template>
Struktur: <template x-if=”[expression]“><div>Some Element</div></template>

11. x-for untuk membuat simpul DOM baru untuk setiap item pada baris. Harus menggunakannya pada tag <template>.
Contoh:
<template x-for=”item in items” :key=”item”>
<div x-text=”item”></div>
</template>

12. x-transition adalah direktif untuk mengaplikasikan class pada stage yang bervariasi pada suatu transisi elemen.
Contoh:

<div
x-show=”open”
x-transition:enter=”transition ease-out duration-300″
x-transition:enter-start=”opacity-0 transform scale-90″
x-transition:enter-end=”opacity-100 transform scale-100″
x-transition:leave=”transition ease-in duration-300″
x-transition:leave-start=”opacity-100 transform scale-100″
x-transition:leave-end=”opacity-0 transform scale-90″
>…</div>

<template x-if=”open”>
<div
x-transition:enter=”transition ease-out duration-300″
x-transition:enter-start=”opacity-0 transform scale-90″
x-transition:enter-end=”opacity-100 transform scale-100″
x-transition:leave=”transition ease-in duration-300″
x-transition:leave-start=”opacity-100 transform scale-100″
x-transition:leave-end=”opacity-0 transform scale-90″
>…</div>
</template>

13. x-spread memungkinkan Anda untuk mengikat suatu objek dari Alpine secara langsung pada suatu elemen untuk penggunaan ulang yang lebih baik.

Contoh:

<div x-data=”dropdown()”>
<button x-spread=”trigger”>Open Dropdown</button>

<span x-spread=”dialogue”>Dropdown Contents</span>
</div>

<script>
function dropdown() {
return {
open: false,
trigger: {
['@click']() {
this.open = true
},
},
dialogue: {
['x-show']() {
return this.open
},
['@click.away']() {
this.open = false
},
}
}
}
</script&gt;

14. x-cloak adalah atribut yang dihilangkan ketika Alpine melakukan inisialisasi. Direktif ini sangat berguna untuk menyembungikan DOM yang baru pada tahap pra- inisialiasi.
Contoh:

<div x-data=”{}” x-cloak></div>

Pada Alpine.js juga terdapat 6 properti magic atau magic properties, diantaranya:

1. $el yang berfungsi untuk mengambil simpul DOM pada komponen akar.
Contoh:

<div x-data>
<button @click=”$el.innerHTML = ‘foo’”>Replace me with “foo”</button>
</div>

2. $refs berfungsi untuk mengambil elemen DOM yang ditandai dengan x-ref di dalam komponen.
Contoh:

<span x-ref=”foo”></span>
<button x-on:click=”$refs.foo.innerText = ‘bar’”></button>

3. $event untuk mengambil native browser pada objek event tanpa sebuah event listener.
Contoh:

<input x-on:input=”alert($event.target.value)”>

4. $dispatch untuk membuat sebuah CustomEvent dan mengirimnya menggunakan .dispatchEvent() secara internal.
Contoh:

<div @custom-event=”console.log($event.detail.foo)”>
<button @click=”$dispatch(‘custom-event’, { foo: ‘bar’ })”>
<!– When clicked, will console.log “bar” –>
</div>

5. $nextTick untuk mengeksekusi sebuah ekspresi yang diberikan setelah Alpine membuat update reactive DOM.
Contoh:

<input x-on:input=”alert($event.target.value)”>

6. $watch berfungsi untuk mengaktifkan callback yang diberikan saat property komponen yang sedang Anda awasi mengalami perubahan.
Contoh:

<div x-data=”{ open: false }” x-init=”$watch(‘open’, value => console.log(value))”>
<button @click=”open = ! open”>Toggle Open</button>
</div>

Generic placeholder image

Perkembangan Python dan Alasan Penting Untuk Data Analitik

23 Mar 2021   Berita

Penelitian Jurnal Developer Economics–State of the Developer Nation mengungkapkan 69% pengembang machine learning dan data scientist aktif memakai Python pada tahun 2018. Laporan IEEE Spectrum tahun 2019 menyatakan bahasa pemrograman Python menjadi bahasa pemrograman paling populer di dunia.

Banyak yang mengira mungkin nama python diambil dari nama binatang melata ular piton. Namun, penciptanya Guido Van Rossum sebetulnya terinspirasi dari sebuah acara sketsa komedi yang ditayangkan di BBC Channel Monty Python Flying Circus.

Dikutip dari ekrut.com, 20 Februari 1991 menjadi tanggal awal python mulai dikembangkan. Dalam perjalanannya bahasa pemrograman python banyak dipengaruhi oleh bahasa pemrograman ABC. Proses pengembangannya, bahasa program Python pun dilakukan secara bertahap.

Menariknya, tidak seperti bahasa pemrograman lainnya yang banyak dikerjakan dan dirilis oleh perusahaan besar dengan melibatkan para profesional.

Python justru dikembangkan secara berkesinambungan oleh ribuan Programmer, penguji, dan pengguna yang kebanyakan bukan ahli IT dari seluruh dunia hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.

Versi pertama Phyton saat pertama kali dirilis adalah versi 0.9.0. Kemudian pada tahun 2000, Python 2.0 dirilis dengan pengembangan pada daftar, Unicode, dan pengumpulan bug.

Python yang teranyar adalah versi 3.6.4 dengan pengembangan berbagai macam fitur mulai dari Syntax, Generator Asynchronous, garis bawah di numeric literal  dan format string literal.

Python adalah bahasa pemrograman interpretatif yang dapat digunakan di berbagai platform dengan filosofi perancangan yang berfokus pada tingkat keterbacaan kode dan merupakan salah satu bahasa populer yang berkaitan dengan Data Science, Machine Learning, dan Internet of Things (IoT).

Keunggulan Python yang bersifat interpretatif juga banyak digunakan untuk prototyping, scripting dalam pengelolaan infrastruktur, hingga pembuatan website berskala besar.

Python adalah bahasa yang dapat membantumu mengembangkan hampir semua hal. Ini adalah bahasa yang bagus untuk mengembangkan alat backend dan perangkat lunak serta kecerdasan buatan lainnya. Mari kita simak alasan-alasan apa saja yang menguatkanmu untuk belajar Python dikutip dari teknologi.id:

1. Bahasa yang user-friendly

Sangat mudah untuk menggunakan kode Python. Panduannya yang mudah dan bahasa sederhana memungkinkan siapa saja untuk membuat suatu alat ataupun prototipe. Python membuat seseorang yang sebelumnya tidak menyukai coding pasti akan suka menggunakan Python. Itu adalah salah satu alasan yang kuat sehingga Python bisa menjadi sepopuler saat ini.

2. Mudah dipelajari

Sama mudahnya untuk membangun kode, Python juga mudah dipelajari. Persis seperti bahasa Inggris. Tiga baris kode Java atau C dapat diganti dengan hanya tiga kata kode Python. Python benar-benar gratis dan open source. Tidak perlu ada bahasa rumit untuk dapat menjadi seorang ahli dalam Python.

3. Extensibility dari Python

Python adalah bahasa universal. Tidak ada panduan ketat atau aturan mengekang yang perlu diikuti. Python memungkinkan melakukan semua jenis operasi dengan mudah. Sama sekali tidak perlu memilih platform yang sempurna karena didukung oleh sebagian besar platform mulai dari Windows ke Linux.

4. Pengujian

Python memungkinkan kita untuk memeriksa suatu ide dan produk untuk perusahaan. Keuntungan utama Python adalah memiliki kerangka pengujian built-in yang mencakup proses debug dan alur kerja. Ada alat-alat seperti selenium dan serpihan yang dapat membuat pengujian ini bekerja di semua browser dan framework. Pengujian adalah pekerjaan yang cukup membosankan dan Python adalah bahasa yang sempurna yang membantu mencapai hal ini.

5. Peran Python dalam Big Data dan Otomasi

Python mendukung operasi Big Data. Ia memiliki kemampuan untuk membantu memproses berbagai jenis informasi. Sekarang telah memungkinkan untuk membantu mendukung komputasi paralel menggunakan Python. Penggunaan Python dalam Big Data membuatnya mudah untuk memprosesnya. Python sama pentingnya dalam otomasi juga karena ia dapat digunakan sebagai bahasa scripting juga. Itulah beberapa alasan yang harus kamu pertimbangkan untuk mempelajari Python. Meski pun ada bahasa pemrograman lain juga, Python mempermudah kita untuk membuat kode dan mengembangkan algoritme, program, atau situs web secara instan. Jadi, pada dasarnya, Python telah memberi kita sayap untuk terbang. Memungkinkan seseorang untuk mengembangkan sesuatu yang baru dan kreatif untuk masyarakat luas.

Baik untuk Data Analitik

Python adalah bahasa pemrograman yang object-oriented, high-level dan sering di interpretasi dan juga, dikenal untuk semantiknya yang dinamis. Dikutip dari hacktiv8.com, Python dikenal secara luas untuk kemampuannya dalam Rapid Application Development, terutama dikarenakan binding dan typingnya yang dinamik. Python juga digunakan secara luas untuk scripting. Bahkan digunakan sebagai glue language untuk menyambungkan komponen yang sudah ada. Python cukup serba guna, sebab itu popularitas dari bahasa programming ini berkembang hari demi hari. Python cukup baik dengan data analisis. Oleh karena itu, sering disebutkan sebagai bahasa yang paling disukai untuk data science.

Python juga dikenal sebagai bahasa programming yang general-purpose. Meski pun, sangat menekankan keterbacaannya. Lewat bantuan Python, engineer dapat menggunakan lebih sedikit barisan kode untuk menyelesaikan tugas. Python sangatlah cepat dan banyak library yang membuat Python lebih disukai juga seperti Matplotlib.

Banyak library yang digunakan untuk scientific computing juga. Empat alasan utama yang membuat Python bahasa yang sempurna untuk data science melingkupi, Python merupakan bahasa programming yang open source. Python juga sangat cepat dan banyak pendukung yang tersedia sehingga Python digemari bagi banyak orang. Nyatanya, banyak orang terlibat dengan data analysis dapat mencoba banyak hal.

Python untuk data science

Python merupakan bahasa programming yang fleksibel, menyebabkannya dicintai oleh data science. Mereka yang ingin terjun ke dunia data science lebih memilih Python ketimbang bahasa-bahasa programming lainnya. Jadi, jika programmer ingin mencoba hal yang menarik dan unik mereka bisa melakukannya dengan Python. Programmer bahkan dapat menulis script untuk aplikasi dan website dengan cara sekreatif yang mereka mau. Python juga merupakan bahasa yang paling gampang untuk dikuasai. Bahasanya cukup sederhana, dan sangat gampang dibaca juga.

Belajar python memang membutuhkan waktu dan ketelitian sama seperti belajar bahasa pemrogramannya. Namun, kamu bisa belajar pemrograman melalui sejumlah cara yang tidak biasa. Sejumlah tips untuk belajar coding bisa kamu cek di link berikut: Tips Belajar Coding.

Selain mengikuti tips tersebut, untuk menjadi seorang programmer profesional memang dibutuhkan tempat belajar yang tepat. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) merupakan kampus IT di Bali bisa menjadi pilihanmu setelah lulus sekolah. Sebagai kampus swasta di Bali, STIKI Indonesia memiliki dua program studi, yaitu Sistem Komputer dan Teknik Informatika. Info lebih lanjut terkait pendaftaran bisa kamu cek di link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Kamu bukan orang Bali tapi suka berlibur ke Bali? Ada baiknya setelah lulus sekolah kamu bisa mempertimbangkan kuliah di Bali. Kamu bisa tiap hari liburan sembari kuliah di Bali. Ada sederet keuntungan yang didapat apabila kamu memutuskan kuliah di Bali. Apa saja keuntungan kuliah di Bali? Kamu bisa cek di link berikut: Keuntungan Kuliah di Bali.