Generic placeholder image

Mitos-Mitos Seputar Hidup Mahasiswa, Diawali Dengan “Katanya”

01 Jun 2021   Berita

Mitos seputar kehidupan perkuliahan seringkali sekelebat ada di tiap pikiran mahasiswa. Bahkan, tak banyak mitos-mitos seputar mahasiswa menjadi sudut pandang dari orang-orang untuk menilai mereka.

Namanya juga mitos bisa benar bisa juga salah. Berikut ini ada sejumlah mitos-mitos seputar hidup mahasiswa yang diawalin dengan “katanya” yang dirangkum dari rencanamu.id:

Katanya pola pikir Mahasiswa itu dewasa ya

Mitos ini mungkin ada benarnya karena sudah menjadi mahasiswa dan pola pikir sudah tidak seperti anak SMA. Namun, tidak semua bisa berubah secara drastis. Banyak juga yang beranggapan kalau sudah kuliah biasanya jadi jarang nongkrong.

Padahal banyak juga mahasiswa yang masih suka nongkrong. Mungkin sudah dianggap dewasa jadi dianggap nongkrong itu hanya sekadar buang-buang waktu. Nongkrong sudah seharusnya dianggap untuk melepas penat dan menghilangkan kejenuhan. Maka, baik mahasiswa, pekerja mau pun siapa pun tak masalah untuk nongkrong karena ingin melepas penat.

Katanya kalau sudah kuliah pacarannya serius

Mitos satu ini dianggap karena pacaran semasa SMA itu hanya sekadar cinta monyet. Ketika sudah kuliah dianggap sudah seharusnya naik ke tingkat lebih serius. Banyak juga yang mengira ketika kuliah sudah perlu pacaran serius, lulus kuliah, bekerja, menikah dan punya anak.

Namun, banyak juga mahasiswa yang belum bisa seperti itu, masih banyak yang ingin belum serius sehingga pacaran belum mau memikirkan langkah selanjutnya. Semua memang tergantung apakah sudah menemukan orang yang tepat atau tidak.

kampus IT di bali. kampus swasta di bali, kampus IT

Katanya jadi mahasiswa itu santai, tugasnya sedikit

Banyak yang beranggapan mahasiswa itu tidak terlalu banyak tugas atau PR seperti anak sekolah yang diberikan PR hampir setiap hari. Mahasiswa ketika tidak masuk kuliah juga tidak terlalu diperhatikan oleh dosennya. Belum tentu juga mahasiswa tugasnya tidak banyak. Mungkin memang tidak tiap hari dikasih, tetapi biasanya tugasnya itu susah dan perlu dikerjakan selama berhari-hari.

Katanya belum sah jadi mahasiswa kalau belum demo

Biasanya di tiap kampus ada kelompok mahasiswa aktivis yang suka menyampaikan aspirasinya. Namun, masyarakat masih menilai bahwa mahasiswa memang suka mengikuti demonstrasi. Padahal tidak semua mahasiswa ikut demonstrasi. Mahasiswa juga memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan aspirasi selain demonstrasi. Mereka bisa membuat seminar atau acara tertentu.

Katanya ke kampus harus mesti tampil kece

Beberapa kampus dan dosennya memang mewajibkan mahasiswanya untuk berpakaian tertentu. Namun, sejatinya penampilan mahasiswa bisa terlihat casual asal pakaiannya sopan. Banyak juga yang beranggapan bahwa ke kampus harus tampil trendi karena sebagai bentuk “balas dendam” akibat bosan selama sekolah setiap hari mengenakan seragam sekolah.

Kehidupan seputar mahasiswa memang menarik untuk dibahas. Namun, perlu diingat apa pun mitosnya harus diingat bahwa tujuan kuliah itu adalah satu langkah dalam menggapai masa depan dan cita-cita. Setelah lulus kuliah, kalian tinggal memilih apakah ingin bekerja atau membuka usaha sendiri.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) merupakan kampus IT di Bali sekaligus technopreneur campus. Mahasiswa akan diarahkan untuk menjadi profesional IT atau menjadi seorang wirausaha di bidang teknologi. Untuk menjadi seorang technopreneur, STIKI Indonesia memiliki Inkubator Bisnis (Inbis) yang bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan bisnis rintisan mereka.

Untuk yang ingin menjadi seorang profesional di bidang IT, STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali ini tak hanya fokus pada pengembangan hard skill semata. Namun, fokus pula pada pengembangan soft skill. Perusahaan saat ini membutuhkan pula orang-orang yang cakap dalam soft skill. Maka, soft skill menjadi fokus utama pula bagi STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT ini untuk diajarkan ke tiap mahasiswa.

Untuk informasi lebih lanjut terkait informasi pendaftaran mahasiswa baru bisa disimak di link berikut ini: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Generic placeholder image

Cara Jitu Pak Sujana Eka Bantu Digitalisasi Ekowisata Mangrove Wanasari

25 Mei 2021   Berita

Apabila ingin merasakan liburan yang berbeda dari umumnya di Bali mungkin Ekowisata Mangrove Wanasari di kawasan Tuban, Kuta bisa menjadi pilihan. Bali memang memiliki sejuta destinasi indah tak hanya pantai semata.

Tempat ini tepatnya berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai 1, kalau dari arah Kuta atau Denpasar lokasinya sebelah kiri sebelum masuk jalan Tol Bali Mandara, sebelah Timur Bandara Ngurah Rai.

Ekowisata ini memberikan tawaran wisata yang berbeda maka tak heran selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Namun, sejak Pandemi Covid-19 menghantam tempat ini sepi pengunjung. Memang tidak ada habisnya apabila mengeluhkan efek Pandemi, namun yang perlu dicari adalah solusi untuk kembali bangkit.

Salah satu solusi yang bisa diambil untuk membuat ekowisata ini bangkit adalah dengan menerapkan model digitalisasi. Ide ini digagas oleh I Gede Sujana Eka Putra S.T,M.T yang dituangkan dalam proposal yang lolos dalam seleksi Kegiatan Riset Kebencanaan “Ideathon Bali Kembali” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Model digitalisasi ini merupakan salah satu cara yang bisa diambil untuk kembali membantu ekowisata yang dikelola oleh Kelompok Nelayan Wanasari ini. Mode digitalisasi yang bisa diterapkan di ekowisata ini nantinya berupa buku digital yang berisi katalog wisata apa saja yang bisa dinikmati oleh wisatawan, e-ticketing sehingga dapat menerapkan sistem cashless dan visitor tracking.

“Itu yang bisa kami tawarkan. Karena selama ini semuanya masih manual. Tiket masuk masih menggunakan tiket biasa, tidak ada pendataan secara digital,” kata Sujana Eka saat berbincang, Jumat (21/5/2021).

Menurut Sujana Eka, setelah model digitalisasi bisa diterapkan maka proses pendataan jumlah pengunjung bisa disusun dengan mudah. Lewat digital, tentu ekowisata ini nantinya akan mampu meraup pasar yang lebih luas. Selama ini, pengelola hanya fokus pada pemanfaatan media sosial semata untuk marketingnya. Lewat Model digitalisasi nantinya ada pula buku digital yang bisa diakses oleh siapa pun karena akan tersedia secara online.

“Saya sempat ngobrol dengan Sekretaris Kelompok Nelayan Wanasari mereka cukup senang dengan program yang akan kita buat karena di awalnya mereka sendiri mereka mengakui untuk promosi susah. Namun, di sisi digitalisasi, mungkin informasi mereka tidak struktur, jadi informasi deskripsinya tidak ada, jadi bisa nanti contohnya membuka katalog-katalog mengenai objek wisata yang ditawarkan,” kata Sujana Eka yang merupakan salah satu dosen di STIKI Indonesia ini.

Penggunaan e-ticketing juga ada makna lain di baliknya. Penggunaan e-ticketing dapat meminimalisir interaksi antara pengunjung dengan karyawan di ekowisata. Hal ini tentu bertujuan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan karena masih berkaitan dengan COVID-19.

Keberadaan Ekowisata Mangrove Wanasari memberikan tawaran wisata yang beragam. Selain bisa menikmati rindangnya hutan bakau sebagai paru-paru kota, tempat ini ditawarkan juga wisata edukasi seperti tata cara budidaya kepiting yang dilakukan oleh nelayan setempat.

Saat air laut sedang pasang kamu juga bisa menikmati acara tour dengan perahu tradisional, sama seperti paket wisata mangrove di Nusa Lembonga. Pengunjung juga bisa bermain kano sambil menikmati indahnya alam laut dan pesona hutan bakau. Ekowisata Mangrove Wanasari ini cocok untuk semua kalangan, baik itu anak-anak maupun kalangan dewasa.

Penelitian yang dilakukan oleh I Gede Sujana Eka Putra ini merupakan salah satu proposal yang lolos hibah seleksi Kegiatan Riset Kebencanaan “Ideathon Bali Kembali”. Penelitian berjudul “Model Digitalisasi Ekowisata di Masa Pandemi COVID-19 ini dan empat proposal dari pengajar STIKI Indonesia masuk ke dalam 50 proposal yang lolos dan diumumkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada (27/4/2021).

Lima proposal STIKI Indonesia merupakan terbanyak yang lolos dalam Kegiatan tersebut. Untuk lebih lanjut bisa dibaca di link berikut ini: STIKI Kampus IT Terbanyak se-Indonesia Loloskan Proposal Ideathon Bali Kembali.

Generic placeholder image

Work From Bali, Langkah Pulihkan Ekonomi?

25 Mei 2021   Berita

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berencana membuat program bekerja dari Bali atau Work From Bali bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) di tujuh kementerian di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Adanya program ini dianggap dapat menaikkan permintaan bagi sektor pariwisata di Pulau Dewata Program ini akan diikuti tujuh kementerian lembaga di Bawah Kemenko Marves, yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kemenparekraf, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian

Dikutip dari CNBCIndonesia.com, sebanyak 16 hotel yang berada dalam kawasan The Nusa Dua telah berkoordinasi dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengelola kawasan pariwisata The Nusa Dua untuk melakukan kerjasama dalam penyediaan akomodasi dan fasilitas hotel dengan Kemenko Marves.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan program Work From Bali ditargetkan sebagai pertolongan pertama untuk sektor pariwisata Bali. Dikutip dari Kompas.com, Sandiaga menjelaskan bahwa kunjungan wisatawan Nusantara ke Pulau Dewata turun drastis selama dua minggu sebelumnya akibat larangan mudik dan pembatasan. Namun, per hari Senin (24/5/2021), kunjungan wisata Bali sudah kembali ke level di 5.000-6.000 orang.

“Tingkat hunian kamar untuk hotel bintang adalah di bawah 10 persen, tepatnya 8,99 persen, dan hotel non-bintang lebih rendah lagi, 7,7 persen,” kata Sandiaga saat Weekly Briefing, Senin (24/5/2021) di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat.

Sandiaga melanjutkan, rata-rata lama menginap pada Februari 2021 untuk hotel bintang adalah 2,67 hari dan untuk hotel non-bintang adalah 1,89 hari.

“Dengan hadirnya kami di Bali, diharapkan ada peningkatan tingkat keterhunian karena multiplayer-nya sangat besar. Bukan hanya dari perhotelan, restoran, tapi juga dari produk-produk ekonomi kreatif,” ujar Sandiaga.

Ia menambahkan, realisasi anggaran belanja pemerintah akan dikawal agar tidak terjadi pemborosan.Sebelum Covid-19 mewabah, kedatangan wisatawan mancanegara mampu berkontribusi terhadap 55 persen dari penghasilan devisa dan pariwsata.

“Jika kita bisa mendapatkan 75 persen replacement atau penggantian dari wisatawan mancanegara dengan wisatawan nusantara dengan tingkat kualitas belanja maupun lamanya tinggal di Bali mendekati, maka harapan kita bahwa Bali bisa positif pertumbuhan ekonominya,” tutur Sandi.

Kampus IT di Bali, Kampus swasta di Bali, Kuliah di Bali

Dalam program WFB ini, tercatat 25 persen ASN diusulkan untuk mengikutinya. Program ini juga sedang dalam tahap finalisasi Kemenko Marves. Diharapkan, program ini dapat membawa pertumbuhan positif terhadap perekonomian Bali di akhir Q3 dan Q4 tahun ini.

Program Work From Bali ini juga dianggap sekaligus mampu mendorong kesiapan Indonesia terkait Digital Nomad. Digital Nomad merupakan sesorang yang bekerja tanpa terikat waktu dan tempat.

Kondisi Bali Memprihatinkan

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves, Odo R.M Manuhutu menjelaskan program ini sudah dibahas dari beberapa bulan lalu. Melihat ekonomi Bali yang masih terkontraksi mencapai 9,36% di tahun 2020.

“Di mana tingkat kunjungan Bali minim, tingkat okupansi hotel hanya 10%, hotel tidak cukup bayar gaji karyawan, maintenance juga tidak cukup,” jelasnya dikutip dari CNBCIndonesia.com.

Odo bercerita banyak karyawan pelaku industri pariwisata yang dirumahkan juga. Kondisinya saat ini, dari total 140 ribu kamar di Bali yang terisi hanya 10%. Sementara untuk menjalankan operasional paling tidak tingkat keterisian hotel mencapai 30% – 40%.

Rencana Work From Bali yang dicanangkan lebih dulu oleh pemerintah ini diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata. Pemerintah meyakini perusahaan-perusahaan swasta bakal mengikuti kebijakan tersebut seumpama program ini berjalan.

“Kemarin sudah ada satu-dua industri yang menyatakan tertarik untuk work from Bali, Jadi intinya kita akan membangun kepercayaan itu,” kata Odo dikutip dari Tempo.

Dia mengatakan rencana Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk bekerja dari Bali atau work from Bali tak terlepas dari salah satu upaya pemerintah membangkitkan perekonomian Pulau Dewata. Upaya serupa, kata dia, pernah dilakukan saat Bali menghadapi penurunan kunjungan wisatawan akibat peristiwa terorisme pada 2002 lalu.

“Kita belajar 15-20 tahun lalu ketika ada terorism bom di bali, ada penurunan jumlah wisatawan sangat dalam, yang dilakukan pemerintah saat itu adalah mengadakan berbagai konferensi internasional,” katanya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Bali, Trisno Nugroho menjelaskan wisatawan domestik dan mancanegara turun drastis. Kuartal I tahun ini turun 99%, hanya 349 ribu year on year. Sementara wisatawan domestik hanya 417 ribu turun 57,97% yoy.

“Tingkat Dana Pihak Ketiga (DPK) Bali juga melambat di Bali, artinya banyak masyarakat di Bali yang sudah makan tabungan, dan perusahaan sudah banyak ambil giro, beda dengan arah provinsi lain,” jelasnya.

Trisno melanjutkan kredit restrukturisasi di Bali juga sudah besar mencapai 30% dari portofolio kredit di Bali yang mencapai Rp 105 triliun. Artinya perusahaan yang tergantung dari pariwisata sudah melakukan restrukturisasi.

“Tingkat pengangguran di Bali juga naik, pada 2020 Bali itu terendah hanya 1,52%, sekarang dari nomor satu terkecil menjadi nomor 25. Karena banyak hotel merumahkan pekerja,” jelasnya.