Generic placeholder image

Dari Bawa Bekal Hingga Jadi Jomblo, Ini Tips Nabung untuk Mahasiswa

02 Sep 2021   Berita

Salah satu kemampuan yang harus diasah oleh mahasiswa adalah kemampuan dalam mengatur uang khususnya menabung. Banyak mahasiswa yang masih mengandalkan ‘subsidi’ orangtua untuk keperluan sehari-hari.

Kamu mahasiswa wajib menabung sehingga terhindar dari yang namanya selalu meminta uang ke orangtua. Kamu juga perlu menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak selalu bergantung kepada orangtuamu.

Berikut ini ada sejumlah cara yang bisa kamu ikuti agar bisa menabung. Berikut uraian tips menabung untuk mahasiswa:

Membawa botol minum

Bawa botol minum kemana-mana itu lumayan buat ngirit loh! Coba bayangkan air mineral satu botol berkisar harga Rp 4 ribu-5 ribu. Coba kamu tabung Rp 5 ribu selama sebulan. Lumayan kan? Selain membawa botol minum sendiri, tentu ada baiknya kamu membawa bekal makanan kemana-mana. Tentu menjadi irit dibandingkan kamu harus membeli makan di jalan. Buat kamu yang anak kost, bisa dengan memulai belajar memasak.

Tahan nafsu

Saat mata melihat sesuatu yang ‘wow’ kamu sudah harus mampu menahan nafsu untuk membelinya. Apalagi kalau liat promo di e-commerce! Bahaya! Ada baiknya belajar self control untuk hanya membeli barang yang seperlunya.

Cari pekerjaan sampingan

Jika kalian memiliki keterampilan tertentu bisa dijadikan cara untuk menghasilkan uang tambahan. Misalnya bisa gambar buka saja saja desain membuat logo dan semacamnya.

Menjalani Hidup Layaknya Seorang Mahasiswa

Jangan terpengaruh gaya hidup mewah orang lain dengan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu hal di luar kepentingan perkuliahan. Ingat tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar. Bukan bermaksud untuk melarangmu hangout dengan teman-temanmu. Namun, jangan terlalu sering.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

Jadi Jomblo

Percayalah tips ini bukan maksud menyindir kamu wahai kaum jomblo. Riset dari profesor Harvard yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa 9 dari 10 mahasiswa yang jomblo mampu menjadi pribadi yang budiman dan rajin menabung. Maka, jadi jomblo aja. Punya pacar perlu keluar biaya ngedate segala macem, coba uang buat ngedatenya ditabung kan udah berapa tuh saldo tabunganmu?! Saat ditanya kenapa masih jomblo kamu juga punya jawaban yang keren kok. Jawab saja “Aku mau fokus kuliah tepat waktu”. Sedap!

Demikian sejumlah tips yang bisa kamu ikuti untuk menabung bagi kamu mahasiswa. Salah satu tips di atas adalah dengan mencari pekerjaan sampingan. Selain bisa mendapatkan penghasilan tambahan, bekerja paruh waktu bagi mahasiswa juga bisa menambah pengalaman.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan Kampus IT di Bali memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk bisa kuliah sambil bekerja.

Salah satu mahasiswa STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali ini yang bekerja secara reguler adalah Septian Rimba Angkasa. Rimba, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa Teknik Informatika peminatan Desain Grafis dan Multimedia STIKI Indonesia angkatan 2017.

Rimba bekerja sebagai admin media sosial di perusahaan media Radar Bali yang terletak di Jl Hayam Wuruk, Denpasar. Bekerja sejak tahun 2019, Rimba bertugas membagikan berita-berita yang ada di situs Radar Bali ke media sosial seperti Instagram, Facebook dan Twitter.

“Untuk caption di media sosial saya menyalin beberapa paragraf dari berita untuk caption di media sosial Radar Bali,” Cerita Rimba menjelaskan alur kerja sebagai admin media sosial, Sabtu (13/2/2021).

Rimba menjelaskan bekerja sebagai admin media sosial memang memiliki waktu kerja yang fleksibel. Untuk mengunggah berita ke media sosial tak perlu datang ke kantor karena bisa mengerjakannya melalui smartphone.

Apalagi ditambah kebijakan Work From Home (WFH) yang membuat jam kerja bertambah fleksibel. Meski begitu, suatu ketika, Rimba bercerita pernah terjadi ‘bentrok’ antara jam kuliah dengan pekerjaan. Saat itu, dia harus menghadiri rapat di kantor. Namun, dosen STIKI Indonesia memang memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk bekerja.

“Saya absen dulu di mata kuliah tersebut selang beberapa menit saya meminta izin ke dosennya karena ada keperluan di kantor dan untungnya dosennya mengizinkan jadi kuliah di STIKI ini istilahnya enggak terlalu ribet. Jadi lebih mudah mengatur waktu antara kuliah dan kerja,” kata Rimba.

Lewat fleksibilitas yang diberikan oleh pihak kampus, Rimba berujar dapat dengan mudah membagi waktu sehingga dapat tetap fokus meski ‘hidup’ di dua dunia antara bekerja dengan kuliah. “Sangat menguntungkan jadi tak hanya terfokus di kuliah atau di kerja jadi bisa membagi waktu dengan baik.”

Saat bekerja di Radar Bali, Rimba bercerita telah memiliki bekal yang didapat dari kampus sehingga tidak kaku saat baru masuk ke perusahaan media yang merupakan grup Jawa Pos tersebut.

“Ada mata kuliah softskill itu saya terapkan di tempat kerja seperti cara berpakaian yang baik, cara berkomunikasi yang baik antara karyawan dengan yang lain. Mata kuliah seperti desain animasi dan video itu juga beberapa hal yang saya terapkan di beberapa pekerjaan saya,” ujarnya.

Mendapatkan ilmu softskill yang didapat di kampus membuar Rimba dapat bersosialisasi dengan mudah dengan rekan kerja di kantor. Bahkan, di tempat kerja juga dengan mudah dapat berbaur dengan atasan meski memiliki perbedaan umur yang jauh.

“Saya lebih rileks jadi saya bertemu dengan karyawan lain istilahnya tidak kaku. Seperti ngobrol sama teman. Jadinya meski ada jarak usia tapi bisa akrab gtu dan lebih akrab dengan karyawan lain,” ujarnya.

Meski Kampus IT di Bali, STIKI Indonesia juga memiliki kurikulum menonjolkan softskill untuk menunjang kemampuan business communication yang semakin dibutuhkan di era teknologi informasi seperti sekarang.

Menawarkan konsep kuliah modern sesuai standar dunia bisnis didukung fasilitas komputer tercanggih, serta kombinasi teori dan praktek. Disusun berdasarkan tiga kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Ketiga hal tersebut adalah:

Knowledge

Menyajikan materi pembelajaran yang mengacu pada teori akademis terdepan, pergembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kondisi perubahan pasar.

Skill

Materi mendukung potensi dan kompetensi teknis; seperti manajemen dan organisasi, personality development, entrepreneurship, salesmanship, dan pembekalan bahasa asing.

Attitude

Membentuk kepribadian yang tangguh, berintegritas, mandiri, proaktif, pantang menyerah, dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

Bagi kamu yang ingin bekerja sembari kuliah tentu sangat tepat apabila bergabung dengan STIKI Indonesia. Kampus IT terpopuler di Bali ini memberikan fleksibilitas bagi mahasiswanya untuk bekerja dan kuliah. Kami paham betul, ilmu tidak seluruhnya berasal dari bangku kuliah.

Namun, ilmu juga didapat melalui terjun langsung ke dunia kerja. Oleh sebab itu, kami memberikan fleksibilitas ke mahasiswa untuk kuliah sambil bekerja. Bagi kamu yang ingin lebih dalam mengetahui informasi tentang STIKI Indonesia simak link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Generic placeholder image

IPK Tinggi Tidak Menjamin, Apalagi Rendah?

01 Sep 2021   Berita

Salah satu perdebatan di seputar kehidupan perkuliahan adalah IPK besar bakal menjamin kesuksesan setelah lulus. Ada yang bilang IPK tinggi bagus untuk karir. Sebaliknya ada yang bilang IPK tidak bakal menjamin kesuksesan.

IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) adalah gabungan nilai dari semester yang dijalani tiap mahasiswa di perkuliahan. Skala nilai IPK di Indonesia adalah 0.00 sampai 4.00.

Banyak mahasiswa “bertarung” untuk mendapatkan IPK tinggi karena menganggap itu merupakan sebuah prestasi dan modal berharga untuk mencari kerja.

Bahkan, perdebatan terkait IPK tinggi sempat menjadi bahan perbincangan netizen di Indonesia hingga menjadi trending topic di Twitter.

Nah bagaimana dengan Divisi Sumber Daya Manusia atau Human Resources Department (HRD) dalam menentukan merekrut karyawan?

Salah satu yang rupanya paling sering jadi saringan pertama dalam seleksi calon karyawan adalah IPK. Banyak perusahaan mensyaratkan IPK pelamar minimal 3, atau paling rendah 2,75.

Praktisi pengembangan SDM, Audi Lumantoruan, mengungkapkan IPK memang jadi penilaian awal terhadap kompetensi karyawan. Meski IPK diakui juga bukan parameter kalau itu benar-benar mencerminkan pencapaian akademik selama di bangku kuliah.

“IPK bagi HRD lebih sering dipakai sebagai filter awal. Dalam perekrutan, perusahaan biasanya tidak mau direpotkan dengan banyaknya lamaran yang masuk,” jelas Audi kepada Kompas.com.

Suka tidak suka, meski karyawan tersebut punya kompetensi yang diharapkan, namun biasanya sulit lolos jika memang IPK tak sesuai dengan persyaratan. Apalagi, jika sistem perekrutan menggunakan sistem online.

“Apalagi jika pendaftaran lamaran menggunakan sistem online, sudah pasti biasanya gagal kalau IPK di bawah yang disyaratkan. Meski, IPK biasanya tidak masuk penilaian bagi HRD untuk diloloskan ke tahap selanjutnya,” ujarnya.

Menurutnya, saat sudah dinyatakan lolos seleksi administrasi, IPK bisa dikatakan tak pernah jadi pertimbangan dalam penerimaan. “Karena kita bukan cari pelamar yang pintar akademis, tapi apa kemampuan yang dibutuhkan perusahaan. Dan itu baru bisa diketahui di tahapan wawancara dan assesment,” kata dia.

kampus IT di Bali, Kampus swasta di bali, kuliah di bali

“Intinya lebih ke soft skill ketimbang nilai akademis, kita lebih prefer orang yang bisa berkomunikasi dengan baik, bagaimana dia bersosialisasi, ketelitian dia, leadership, bagaimana dia kasih solusi, kognitifnya, dan sebagainya,” tambahnya.

Audi yang juga Head of People and Organization Capability Development Division Siloam Hospital ini menuturkan, dari pengalamannya, banyak sekali ditemui pelamar dengan IPK tinggi, namun kompetensinya jauh dari harapan.

“Kalau kasus pengalaman saya sebagai HRD, karyawan yang mental juga banyak dari mereka yang IPK sangat tinggi, berhenti karena memang kemampuannya tak sesuai dengan pekerjaannya. Jadi akhirnya tidak betah,” ucap Audi. Dia menekankan, selain untuk filter, IPK hampir tak pernah jadi pertimbangan HRD. Dalam kasus lainnya, dirinya juga seringkali menemukan kandidat dengan IPK tinggi namun kurang kompeten saat proses wawancara.

“Beberapa kali, kandidat datang dari kampus yang bagus dengan IPK 3,5 ke atas. Terkadang ada beberapa sangat ambisius, misalnya saja kandidat bercerita ingin jadi manajer dalam 2 tahun, padahal lulusan baru,” kata Audi.

“Jadi kebanyakan HRD tidak pernah melihat IPK selain sebagai filter di awal, tapi melihat saat proses wawancara dan assesment. Jadi HRD tidak menilai kualitas dari IPK tinggi atau rendah,” imbuhnya.

Kendati tak jadi bahan pertimbangan, Audi menyarankan agar sebaiknya bagi yang masih berstatus mahasiswa tetap berupaya mengejar nilai IPK, mengingat nilai akademis jadi saringan awal. “Percuma saja pintar dan kompetensinya bagus, tapi tak lolos administrasi hanya karena IPK tak memenuhi syarat,” ujarnya.

Perdebatan soal IPK tinggi penting atau tidak memang bakal terus terjadi. Namun, sesuai penjelasan di atas yang dikutip dari kompas.com menyebutkan bahwa terpenting bagi mahasiswa setelah lulus adalah pentingnya menguasai soft skill.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali memiliki kurikulum yang juga fokus pada pengembangan soft skill sehingga tidak hanya fokus pada hard skill.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali memiliki komitmen lulusannya dapat bersaing dengan lulusan dari kampus lain. Oleh sebab itu, pembelajaran soft skill juga diutamakan.