Generic placeholder image

Ayo Jadi Technopreneur Biar Masa Depan Gak Keblinger

30 Mar 2021   Berita

Sadarkah kamu jika miliarder dunia sebagian besar didominasi oleh para technopreneur? Sebut saja miliader dunia seperti Jeff Bezos yang sukses menjadi technopreneur lewat e-commerce Amazon, Bill Gates lewat Microsoft, Mark Zuckeberg dengan Facebooknya. Tentu miliarder dunia paling populer saat ini Elon Musk yang merupakan CEO SpaceX, PayPal dan Tesla.

Sosok Technopreneur di Indonesia sendiri yang populer adalah Nadiem Makariem (Gojek) yang kini menjadi Mendikbud, William Tanuwijaya (Tokopedia) dan Achmad Zaky (Bukalapak) dan Fery Unardi yang merupakan pendiri Traveloka.

Dilansir dari 101entreprenurship.org, technopreneur adalah perpaduan dari dua kata technology dan entrepreneur yang dapat diartikan adalah bisnis berbasis teknologi. Technopreneur tentang bagaimana memanfaatkan perkembangan teknologi sedang berkembang pesat menjadi sebuah peluang bisnis. Technopreneur bukan berbicara tentang ‘penemuan’ namun berbicara soal ‘inovasi’ dalam rangka menggapai kesuksesan.

Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki pengaruh besar dalam Technopreneur. Sejumlah perusahaan raksasa lahir di Negeri Paman Sam, sebut saja Apple, Google, Micorosoft, Amazon, Facebook, eBay dan masih banyak lagi sederet perusahaan berbasis teknologi.

Perbedaan Enterpreneur dan Technopreneur

Dilansir qwords.com,  technopreneur sebenarnya merupakan bagian dari enterpreneur. Namun, dalam prakteknya technopreneur lebih memanfaatkan teknologi sebagai core utama bisnis. Sementara,  enterpreneur lebih mengedepankan transaksi konvensional berupa barang atau jasa.

Selain itu, tingkat persaingan juga bisa menjadi perbedaan antara enterpreneur dan technopreneur. Hal ini terjadi karena biasanya seorang technopreneur menawarkan ide baru atau substitusi dari produk konvensional dimana tingkat persaingan pasarnya masih rendah.

Ada sejumah keuntungan Menjadi Technopreneur apabila kamu memang punya mimpi untuk memulainya. Simak urainnya seperti dikutip dari qwords.com:

Bisa memulai dengan modal kecil

Dalam dunia technopreneur, modal yang paling berharga adalah ide awal, kemudian dari ide tersebut dilakukan eksekusi dengan cara membuat minimum viable product (MVP) sebagai uji pasar.

Seluruh eksekusi ini biasanya dimulai dari tahap startup, sehingga bisa dilakukan hampir tanpa modal. Anda hanya butuh menemukan team yang terdiri dari Co-Founder, CFO, CTO, dan bussines development yang bersedia untuk dibayar menggunakan saham.

Tidak perlu kantor besar

Kamu cukup ingat bagaimana Steve Jobs memulai membangun Apple dari garasi kecil di rumahnya yag terletak di California. Nah, untuk memulai bisnis di bidang teknologi sebenarnya bisa di mana saja. Semua bisa dimulai asalkan ada laptop/PC dan koneksi internet. Team yang mendukung pun bisa diatur untuk bekerja secara remote dari rumah masing-masing, jadi menghemat biaya sewa gedung untuk operasional bisnis di awal-awal perusahaan berkembang.

Potensi dapat valuasi besar

Meski baru menjadi trend beberapa dekade terakhir, perusahaan startup teknologi saat ini sudah banyak yang sukses dari segi valuasi. Bahkan, Gojek sudah menyandang gelar decacorn. Gelar ini didapat keberhasilan Gojek yang telah memiliki valuasi lebih dari 10 miliar dollar AS. Sementara itu, Indonesia telah mmeiliki 5 startup yang menyandang gelar unicorn dari 400 unicorn di seluruh dunia per Desember 2019. Unicorn merupakan startup yang memiliki valuasi lebih dari US$ 1 Miliar.

Era Teknologi informasi yang semakin pesat memudahkan technopreneur untuk memulai tanpa perlu modal yang besar atau memiliki ide besar pula. Technopreneur bisa dimulai dari keberanian serta inovasi untuk memecahkan masalah yang ada di kehidupan sehari-hari.  Ayo jadi technopreneur biar masa depan enggak keblinger. Meski entrepreneur dan technopreneur memiliki perbedaan namun dasarnya adalah tentang bagaimana menguasai ilmu wirausaha. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali memiliki kurikulum wirausaha yang bisa menjadi modal bagi mahasiswa untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausaha.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali ini menginginkan mahasiswa tidak hanya fokus menjadi profesional di bidang IT. Namun, berharap para lulusan yang kuliah di STIKI dapat menjadi seorang wirausaha apalagi di bidang technopreneur. STIKI Indonesia juga merupakan technopreneur campus di Bali yang ingin mencetak pendiri startup bahkan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi yang mampu menyelesaikan masalah di kehidupan masyarakat.

Bagi kamu yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang STIKI Indonesia sekaligus tentang informasi pendaftaran mahasiswa bisa dicek di link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali dan memiliki niat untuk kuliah di Bali jangan ragu untuk memilih Pulau Dewata sebagai tempatmu menimba ilmu. Kamu bisa mendapatkan banyak keuntungan apabila memutuskan kuliah di Bali. Salah satu keuntungan kuliah di Bali adalah kamu bisa merasakan keindahan toleransi yang tinggi. Masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi perbedaan. Kamu juga tidak perlu berlibur ke Bali yang merupakan pusat pariwisata Indonesia. Kamu bisa ke pantai yang indah kapan pun kamu mau!

Keuntungan lain yang bisa didapat apabila memutuskan kuliah di Bali adalah kamu bisa mempelajari budaya khususnya budaya Bali. STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT di Bali ini tidak hanya fokus pada kurikulum berbasis teknologi informasi semata. Namun, fokus pula pada pembelajaran budaya Bali. Keuntungan lain yang didapat apabila kamu memutuskan kuliah di Bali bisa kamu cek di link berikut: Kuliah di Bali.