Generic placeholder image

Melestarikan Bumi Menjaga Langit

22 Apr 2021   Berita

Setiap tanggal 22 April diperingati Earth Day atau Hari Bumi. Untuk tahun ini mengambil tema Restore Our Earth atau Pulihkan Bumi Kita. Hari Bumi dimulai pada tahun 1970 saat gerakan lingkungan moderen dimulai.

Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap bumi. Dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 seorang pengajar lingkungan hidup.

Tanggal ini bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan Bumi utara) dan musim gugur di belahan Bumi selatan.

PBB sendiri merayakan hari Bumi pada 20 Maret sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969, adalah hari di mana matahari tepat di atas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.

Tema Hari Bumi tahun ini adalah Restore Our Earth. Dilansir dari laman earthday.org,  tema ini diambil berfokus pada proses alami, teknologi hijau yang muncul, dan pemikiran inovatif yang dapat memulihkan ekosistem dunia.

Dengan cara ini, tema tersebut menolak anggapan bahwa mitigasi atau adaptasi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi perubahan iklim. Terserah kita masing-masing untuk Memulihkan Bumi kita bukan hanya karena kita peduli dengan alam, tetapi karena kita hidup di atasnya.

Kita semua membutuhkan Bumi yang sehat untuk mendukung pekerjaan, mata pencaharian, kesehatan & kelangsungan hidup, dan kebahagiaan kita. Planet yang sehat bukanlah pilihan. Ini adalah kebutuhan.

Hari demi hari kita selalu membaca dan mendengar kabar banyak kejadian buruk yang terjadi di planet bumi. Mencairnya es di kutub, lautan yang penuh sampah sampai spesies yang terancam punah. Ini semua tidak terlepas dari faktor perubahan iklim serta pemanasan global yang semakin parah.

“Menyelamatkan bumi” terdengar sangat berat. Padahal kita bisa menjaganya dengan melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut di antaranya dikutip dari nationalgeographic.id:

Kampus IT di Bali

  • Jangan Membuang Sampah Sembarangan

Membuang sampah tidak pada tempatnya akan mengotori lingkungan dan berdampak pada ekosistem di sekitarnya. Selain itu, sampah yang tercecer–terutama yang sulit terurai–pada akhirnya akan terbawa ke lautan dan membahayakan hewan-hewan di sana. Mereka akan mengonsumsinya karena mengira itu makanannya. Hal ini dapat membuat banyak hewan laut mati akibat terjerat sampah, terutama plastik.

  • Daur Ulang

Beberapa jenis sampah seperti botol minuman dan kardus dapat kamu daur ulang. Kreasikan sampah tersebut menjadi hiasan atau barang lain yang dibutuhkan di rumah sehingga mengurangi jumlahnya di lingkungan.

  • Kurangi belanja online

Berbelanja daring secara tidak langsung akan menambah jumlah sampah. Pasalnya, barang-barang yang dikirim ke rumahmu, terkadang dibungkus dengan plastik. Salah satu cara untuk mengurangi konsumsi plastik adalah dengan membatasi pembelian online. Kamu bisa membeli kebutuhan di toko terdekat lalu membawanya dengan tote bag tanpa kantung plastik atau kemasan.

  • Beli barang preloved

Banyak barang bisa digunakan kembali dengan fungsi yang masih sama. Hal-hal yang memiliki manfaat penggunaan dalam waktu singkat akibat pertumbuhan, misalnya baju atau sepeda anak-anak, bisa didapatkan dari tangan kedua tanpa perlu membeli yang baru. Membeli barang bekas pakai atau secondhand dapat mengurangi jumlah dan kegiatan produksi sekaligus bisa menghemat uang.

  • Beli Produk Lokal

Jika memungkinkan, beli produk lokal. Dengan begitu, polusi kendaraan yang mengirim barang dari jarak jauh, bisa berkurang. Pastikan juga kamu membeli produk dengan bahan-bahan ramah lingkungan.

  • Matikan lampu saat tidak digunakan

Kamu tidak perlu menyalakan lampu jika tidak ada orang di rumah. Jadikan hemat energi menjadi kebiasaan yakni dengan mematikan lampu setiap kamu meninggalkan rumah.

  • Gunakan air secukupnya

Semakin sedikit air yang kamu gunakan, semakin sedikit pula limpasan dan limbah yang akhirnya berakhir di lautan.

  • Kurangi penggunaan sedotan plastik

Untuk membantu mengurangi sampah plastik, kamu bisa mengganti sedotan plastik dengan yang berbahan dasar bambu atau besi. Bawa sedotan ramah lingkungan tersebut setiap kamu pergi ke restoran sehingga tidak perlu menggunakan sedotan plastik sekali pakai.

  • Membawa botol minuman sendiri

Selalu bawa botol minuman sendiri ketika bepergian. Ini menghindari kamu membeli minuman dalam botol atau gelas plastik. Dengan begitu, sampah plastik pun dapat berkurang.

  • Kurangi makan daging

Kamu tidak perlu berhenti makan daging seumur hidup, tapi setidaknya berkomitmen untuk menguranginya. Sebab, diperlukan 2.500 galon air untuk memproduksi satu pound daging sapi.

Selain itu, banyak wilayah hutan yang beralih fungsi menjadi peternakan akibat permintaan konsumsi daging yang tinggi.

  • Bersepeda atau naik transportasi umum

Kedua cara ini bisa mengurangi emisi karbon yang berasal dari kendaraan pribadi. Emisi karbon sendiri merupakan penyebab utama perubahan iklim.

  • Cabut kabel elektronik

Cabut kabel pengering rambut, televisi, charger ponsel dan alat elektronik lainnya setiap selesai digunakan. Jika tetap terpasang, itu akan tetap menyedot energi meski tidak dipakai sama sekali.

  • Menanam pohon

Pohon menyediakan oksigen bagi makhluk hidup. Ia juga dapat membantu menyimpan energi, membersihkan air, dan membantu melawan perubahan iklim.

  • Membuat kompos

Olah sampah rumah Anda menjadi kompos. Ini akan membantu mengurangi jumlah limbah padat yang Anda hasilkan. Selain itu, kompos juga bermanfaat sebagai pupuk alami.

  • Bergabung ke komunitas peduli lingkungan

Kamu bisa bergabung dengan komunitas peduli lingkungan kemudian berkolaborasi dengan banyak orang untuk menjaga Bumi. Biasanya, mereka akan memikirkan gagasan serta melakukan aksi yang berdampak pada keberlangsungan hidup Bumi dan makhluk yang berada di dalamnya.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali sering melakukan kegiatan yang bertujuan melestarikan bumi menjaga langit. Lewat Pusat Informsai Konseling Mahasiswa (PIK-M) STIKI Indonesia pernah melakukan kegiatan Gerakan Satu Juta Pohon Sebagai wujud kepedulian terhadap alam.

Kegiatan Gerakan Satu Juta Pohon ini dilakukan di kawasan Ekowisata tuban – nelayan wanasari, Jalan ByPass Ngurah Rai, Tuban, Kuta, Kabupaten Badung.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali sekaligus technopreneur campus di Bali memiliki komitmen untuk terus ikut andil dalam menjaga bumi.

Tak hanya itu, Kampus IT di Bali ini melalui PIK-M terus pula ikut andil dalam mengkampanyekan bahaya seks bebas, kekerasan terhadap perempuan dan penyalahgunaan narkotika.

Generic placeholder image

Makna Perjuangan R.A Kartini Demi Emansipasi Wanita

21 Apr 2021   Berita

Sosok Raden Adjeng Kartini memang bukan pahlawan yang namanya besar karena ikut berjibaku mengangkat senjata dalam satu peperangan. Sosoknya dikenang karena berjasa melalui pemikiran, ide dan gagasan tentang emansipasi perempuan.

Kemajuan yang diraih perempuan Indonesia hingga titik ini merupakan buah dari pemikiran dan kepahlawanan Kartini.

Tokoh yang lahir 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah ini, dibesarkan oleh keluarga bangsawan Jawa. Ini menjadi alasan mengapa beliau mendapat gelar RA yang merupakan singkatan dari Raden Adjeng.

Gagasan dan pemikiran RA Kartini banyak mengubah pola pikir masyarakat Belanda terhadap perempuan di Indonesia. Beliau juga mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu.

Bahkan, tulisan-tulisannya juga menjadi inspirasi tokoh-tokoh Indonesia seperti W.R Soepratman yang menciptakan lagu dengan judul “Ibu Kita Kartini”.

Melalui pemikiran yang ia tuangkan dalam tulisan, Kartini banyak membahas soal perjuangan kaum wanita untuk memperoleh kebebasan, persamaan hukum, dan pendidikan yang layak.

Perjuangannya dalam “membebaskan” kaum perempuan Indonesia nyatanya tetap dikenang hingga kini. WR. Supratman bahkan membuat lagu khusus untuk mengenang perempuan itu dan terus dilestarikan hingga sekarang.

Berikut ini beberapa penggal kisah untuk mengenang perjuangan RA Kartini dikutip dari merdeka.com:

  • Sejarah singkat RA Kartini

RA Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. Dia berasal dari keluarga kelas priyayi Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, merupakan seorang Bupati Jepara. Sedangkan ibunya M.A Ngasirah, berasal dari keluarga yang kental nilai agamanya.

Pada usia 12 tahun, Kartini disekolahkan di Europese Lagere School (ELS). Di sekolah inilah Kartini mulai belajar Bahasa Belanda. Saat sekolah di ELS itu Kartini mulai tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Belanda.

Dari situlah timbul niatnya untuk memajukan perempuan pribumi yang menurutnya berada pada status sosial yang rendah.

Sebelum berumur 20 tahun, Kartini banyak membaca dan menulis untuk surat kabar berbahasa Belanda. Dia juga suka berkirim surat dengan teman korespondennya di Belanda. Perhatian Kartini tak hanya soal emansipasi wanita, namun juga masalah sosial umum lainnya.

Pada usia 24 tahun Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Suaminya itu mendukung perjuangan Kartini untuk mendirikan sebuah sekolah wanita di Kota Rembang.

Namun perjuangan Kartini harus berakhir lebih cepat. Dia meninggal pada 17 September 1904, empat tahun setelah melahirkan anak pertamanya.

Tiap tanggal kelahirannya kini diperingati sebagai Hari Kartini yang menyimbolkan kebangkitan perempuan Indonesia.

  • Cerita Kartini Menentang Ajaran Kiai

RA Kartini dulu ternyata pernah menjalani pendidikan di pondok pesantren. Saat berusia remaja, Kartini diperintahkan untuk belajar mengaji pada pondok pesantren milik KH Sholeh Darat di Demak.

Pada saat menjadi santri, Kartini sering memprotes ajaran sang guru. Salah satu protesnya, Kartini meminta sang guru ngaji untuk menerjemahkan Al Qiran dalam bahasa Jawa. Karena tak pernah berhenti memprotes Sang Kiai, Kartini akhirnya dibawa Kiai Soleh Darat untuk belajar mengaji kepada seorang ulama besar lainnya di Demak.

Di saat belajar mengaji kepada ulama Demak itu, Kartini juga mendebat seputar kenapa poligami diperbolehkan dalam Islam. Setelah mendapat penjelasan dari ulama Demak itu, Kartini mengalah dan kemudian berhenti menjadi Santri.

Selain itu Kartini juga pernah mendebat kenapa wanita menstruasi tidak boleh menjalankan ibadah sholat, puasa, dan ibadah lainnya dalam Islam. Kartini dinilai sebagai santri yang menonjol dan kritis oleh Kiay Sholeh Darat waktu itu, ujar Muhammad Sahid, juru kunci makam RA Kartini.

Kampus IT di Bali

  • Masa Dewasa

Dikutip dari Tirto, Kartini dewasa menjadi seseorang yang semakin matang. ia juga masih membaca buku-buku serta surat kabar.

Hal ini juga didukung sang ayah yang memberikannya lesstrommel yang berisikan buku-buku bahasa Belanda, Jerman, dan Prancis yang menambah wawasannya tentang Eropa serta pandangan dunia, hak asasi manusia (HAM(, serta keadilan untuk semua orang.

Kartini juga belajar dari bangsa Koja dan Tionghoa yang membuat wawasannya semakin luas. Ia juga masih sering mengirimkan surat kepada teman-temannya seperti Abendanon (Belanda) dan Stella Zeehandelar (Belanda).

Melalui surat-suratnya, Kartini bertukar pandangan tentang buku-buku tentang pergerakan perempuan. Pada tahun 1902, Kartini berkenalan dengan van Kol, dan Nelly, istrinya.

Tanggal 26 November 1902, Van Kol mendapatkan janji dari minister jajahan dan menyampaikan bahwa Kartini dan saudaranya, Rukmini akan mendapatkan beasiswa untuk belajar ke Belanda.

Pada 25 Januari 1903, Abendanon berkunjung ke Jepara. Kedatangannya bermaksud untuk membicarakan kemungkinan mednidikan sekolah perempuan Bumi Putra. Abendanon ingin mengetahui pendapat para bupati, termasuk ayah Kartini. Sebelum menyampaikannya ke atasannya. Kartini juga berdiskusi dengan istri Abendanon untuk menyampaikan gagasannya tentang pendirian sekolah bagia para perempuan pribumi.

Gagasan ini disetujui oleh ayah Kartini, namun pendirian sekolah tidak terlaksana karena ayahnya sakit parah dan para bupati yang dimintai pendapat tidak menyetujui pendirian sekolah untuk pribumi perempuan.

Kartini akhirnya bertekad untuk menjadi dokter karena keinginannya sebagai guru tidak bisa direalisaikan lantaran sekolah yang tidak jadi didirikan. Kartini akhirnya meminta izin kepada sang ayah.

Sang ayah memberikan izin, namun keinginannya tidak bisa ia lakukan karena keterbatasan biaya. Akhirnya Kartini mengajukan beasiswa kepada pemerintah Hindia Belanda. Permohonan beasiswa akhirnya disetujui oleh pemerintah Hindia Belanda.

Namun, Kartini tidak mengambil beasiswa tersebut karena ia akan menikah. Kartini menikah dengan R.M. Joyohadingkrat yang merupakan seorang bupati Rembang. R.M. Joyohadingkrat dikenal sebagai seseorang yang ingin memajukan rakyat dan pernah menempuh pendidikan di Belanda. R.M. Joyohadingkrat juga mendukung cita-cita Kartini untuk memajukan rakyat, khususnya kaum wanita dengan memberikan pendidikan kepada anak perempuan seperti yang pernah dilakukan Kartini di Jepara. Pada 8 November 1903, Kartini resmi menjadi istri Bupati Rembang.

Akhirnya sekolah yang ia pernah rintis dengan sang adik, Kardinah dilanjutkan di Rembang. Namun pada 17 September 1904, atau tepat sepuluh hari setelah ia melahirkan, Kartini meninggal dunia.

Kartini dikenal dengan surat-suratnya yang mampu menggerakkan hati para pembacanya. Gaya, ungkapan, serta ketajaman surat yang Kartini tulis mencerminkan kecerdasan pribadinya yang peka dengan persoalan kemanusiaan di sekitarnya.

Berkat kegigihannya, kemudian didirikan Sekolah Wanita bernama Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, lalu di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Yayasan Kartini merupakan yayasan yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Peringatan Hari Kartini dirayakan setelah 2 Mei 1964. Keputusan ini dikeluarkan oleh presiden Soekarno berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Melalui keputusan tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Generic placeholder image

STIKI Indonesia Menangkan Hibah Bantuan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka

20 Apr 2021   Berita

Dua Program Studi STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) dinyatakan lolos sebagai penerima Bantuan Kerjasama Kurikulum dan Implementasi Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2021.

Pengumuman oleh Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada 15 April lalu dan STIKI Indonesia menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang proposalnya dinyatakan lolos untuk didanai dalam Program MBKM.

STIKI Indonesia sebagai Kampus IT di Bali mengajukan proposal sebagai bentuk nyata menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat serta menyiapkan kompetensi mahasiswa yang harus siap dengan kebutuhan zaman.

Wakil Ketua I STIKI Indonesia Aniek Suryanthi Kusuma, S.Kom., M.Kom menjelaskan pihaknya mengajukan proposal pendanaan Kampus Merdeka sebagai upaya memberikan mahasiswa untuk lebih mampu mengembangkan minat dan bakatnya.

“Mahasiswa nantinya tidak hanya bergerak di dunia IT tapi dia bisa ke lapangan secara utuh. Sisi lain keuntungan Kampus Merdeka bertujuan untuk mahasiswa menguasai dunia kerja. Kalau dulu Kerja Praktek 3 SKS tapi sekarang bisa pure 1 semester kerja dengan 20 SKS,” kata Aniek melalui keterangan tertulis, Senin (19/4/2021).

 Berdasarkan Permendikbud No 3 Tahun 2020 Pasal 15 ayat (1), kegiatan yang dapat dilakukan di dalam program studi dan di luar program studi dalam Kampus Merdeka meliputi 8 bentuk kegiatan pembelajaran, di antaranya Pertukaran Pelajar, Magang/Praktik Kerja, Asistensi Mengajar di Satuan Pendidikan, Penelitian/Riset, Proyek Kemanusiaan, Kegiatan Wirausaha, Studi/Proyek Independen dan Membangun Desa/Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT).

Perguruan Tinggi yang berhak lolos dalam pengajuan proposal setidaknya mampu mengajukan tiga dari delapan kegiatan tersebut. STIKI Indonesia dalam proposal menyertakan tiga hal yang akan difokuskan di Tahun Ajaran Baru yang dimulai September tahun ini yaitu Magang/Praktik Kerja, Pertukaran pelajaran dan kegiatan Wirausaha.

Aniek menjelaskan tiga hal tersebut diambil dan difokuskan terlebih dahulu karena pihaknya melihat tiga hal ini sudah berjalan dan tinggal dibutuhkan merubah kurikulumnya ketika pendanaan sudah cair.

Untuk kegiatan Magang/Praktik Kerja Kampus IT terpopuler di Bali ini sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah stakeholder, seperti Pegadaian, perusahaan GMedia, Ibinet dan Biznet. Nantinya mahasiswa bisa melakukan magang/praktik kerja di seluruh tempat tersebut.

“Untuk kegiatan pertukaran mahasiswa kami telah melakukan MoU dengan Institut Asia Malang. Mahasiswa STIKI nantinya bisa belajar di sana,” jelas Aniek.

Untuk kegiatan wirausaha STIKI Indonesia memiliki Inkubator Bisnis (Inbis) yang dapat memfasilitasi mahasiswa untuk berwirausaha. Inbis STIKI Indonesia memiliki visi mampu menghasilkan entrepreneur yang tangguh, mandiri, penuh determinasi demi tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.

Menurut Aniek, pihaknya akan mendorong mahasiswa untuk lebih aktif masuk ke Inbis dengan harapan mendapatkan hibah untuk usaha yang mahasiswa jalankan.

 ”Mahasiswa nanti digenjot untuk berwirausaha, kita kerjasama dengan Inbis. Sekalian nanti kita atur untuk memenuhi SKS-nya,” ujar Aniek.

Aniek menambahkan setelah 3 prioritas kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. Nantinya kemungkinan besar STIKI Indonesia mampu memenuhi lima bentuk kegiatan bepembelajaran lain sehingga menjadi lengkap dapat memenuhi 8 bentuk kegiatan.

Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menyebutkan Perguruan Tinggi wajib memfasilitasi hak bagi mahasiswa (dapat diambil atau tidak) untuk:

a) Dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS.

b) Dapat mengambil SKS di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak 1 semester atau setara dengan 20 SKS.

Maka dari itu, perlu ditekankan mahasiswa tidak diwajibkan mengikuti program ini. Namun, seluruh Perguruan Tinggi yang sudah berstatus Kampus Merdeka wajib memfasilitasi mahasiswa apabila ingin mengikutinya.