Generic placeholder image

Mau Keren? Coba Tingkatkan Peluang Kerja Sambil Kuliah

10 Jul 2021   Berita

Apabila kamu masih kuliah tidak ada salahnya untuk mencoba mencari uang jajan tambahan dengan sambil bekerja. Selain bisa mendapatkan uang, bekerja juga bisa menambah pengalaman. Sangat penting bagi seorang mahasiswa untuk bisa mendapatkan banyak pengalaman sebelum nanti lulus dan terjun secara langsung ke dunia kerja.

Saat sudah mendapatkan banyak pengalaman selama kuliah, maka perusahaan akan melihat kamu sebagai sosok yang “hebat” karena mampu membagi waktu dengan baik antara kuliah dan bekerja.

Apalagi di era teknologi informasi yang berkembang begitu pesat seperti sekarang banyak sekali pekerjaan yang bisa dikerjakan secara remote. Remote merupakan istilah untuk kegiatan yang tanpa harus datang dan duduk di kantor.

Salah satu kunci terbesar untuk kamu bisa memulai bekerja sambil kuliah adalah time management yang baik. Memang ini hal sulit bagi siapa pun namun bisa dijalankan apabila kamu sudah menemukan kuncinya.

Kuncinya adalah kamu harus bisa multitasking. Saat ada waktu luang gunakan untuk belajar, membuat tugas mau pun mencicil bahan presentasi tugasmu. Apabila tidak terburu-buru, maka kamu bisa mencicilnya pelan-pelan. Selain memanfaatkan waktu, cara ini juga bisa menghindarimu dari stres.

Kunci utama lain untuk bisa bekerja sambil kuliah adalah kompromi dengan pihak kampus. Tentu namanya menjalankan dua hal sekaligus pasti suatu saat akan mengalami yang namanya bentrok. Kamu ada mata kuliah yang wajib kamu ikuti sedangkan di kantor ada meeting yang mewajibkanmu hadir. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk memilih kampus yang mampu memberikan fleksibilitas apabila ingin bisa bekerja sambil kuliah.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, Kampus IT

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan Kampus IT di Bali memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk bisa bekerja sambil kuliah. Salah satu mahasiswa yang bekerja secara reguler adalah Septian Rimba Angkasa. Rimba, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa Teknik Informatika peminatan Desain Grafis dan Multimedia STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) angkatan 2017.

Rimba bekerja sebagai admin media sosial di perusahaan media Radar Bali yang terletak di Jl Hayam Wuruk, Denpasar. Bekerja sejak tahun 2019, Rimba bertugas membagikan berita-berita yang ada di situs Radar Bali ke media sosial seperti Instagram, Facebook dan Twitter.

“Untuk caption di media sosial saya menyalin beberapa paragraf dari berita untuk caption di media sosial Radar Bali,” Cerita Rimba menjelaskan alur kerja sebagai admin media sosial.

Rimba menjelaskan bekerja sebagai admin media sosial memang memiliki waktu kerja yang fleksibel. Untuk mengunggah berita ke media sosial tak perlu datang ke kantor karena bisa mengerjakannya melalui smartphone. Apalagi ditambah kebijakan Work From Home (WFH) yang membuat jam kerja bertambah fleksibel. Meski begitu, suatu ketika, Rimba bercerita pernah terjadi ‘bentrok’ antara jam kuliah dengan pekerjaan. Saat itu, dia harus menghadiri rapat di kantor. Namun, dosen STIKI Indonesia memang memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk bekerja.

“Saya absen dulu di mata kuliah tersebut selang beberapa menit saya meminta izin ke dosennya karena ada keperluan di kantor dan untungnya dosennya mengizinkan jadi kuliah di STIKI ini istilahnya enggak terlalu ribet. Jadi lebih mudah mengatur waktu antara kuliah dan kerja,” kata Rimba.

Lewat fleksibilitas yang diberikan oleh pihak kampus, Rimba berujar dapat dengan mudah membagi waktu sehingga dapat tetap fokus meski ‘hidup’ di dua dunia antara bekerja dengan kuliah. “Sangat menguntungkan jadi tak hanya terfokus di kuliah atau di kerja jadi bisa membagi waktu dengan baik.”

Saat bekerja di Radar Bali, Rimba bercerita telah memiliki bekal yang didapat dari kampus sehingga tidak kaku saat baru masuk ke perusahaan media yang merupakan grup Jawa Pos tersebut.

“Ada mata kuliah softskill itu saya terapkan di tempat kerja seperti cara berpakaian yang baik, cara berkomunikasi yang baik antara karyawan dengan yang lain. Mata kuliah seperti desain animasi dan video itu juga beberapa hal yang saya terapkan di beberapa pekerjaan saya,” ujarnya.

Mendapatkan ilmu softskill yang didapat di kampus membuar Rimba dapat bersosialisasi dengan mudah dengan rekan kerja di kantor. Bahkan, di tempat kerja juga dengan mudah dapat berbaur dengan atasan meski memiliki perbedaan umur yang jauh.

“Saya lebih rileks jadi saya bertemu dengan karyawan lain istilahnya tidak kaku. Seperti ngobrol sama teman. Jadinya meski ada jarak usia tapi bisa akrab gtu dan lebih akrab dengan karyawan lain,” ujarnya.

Kurikulum STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali ini menonjolkan softskill untuk menunjang kemampuan business communication yang semakin dibutuhkan di era teknologi informasi seperti sekarang.

Bagi kamu yang ingin bekerja sembari kuliah tentu sangat tepat apabila bergabung dengan STIKI Indonesia. Kampus IT terpopuler di Bali ini memberikan fleksibilitas bagi mahasiswanya untuk bekerja dan kuliah. Kami paham betul, ilmu tidak seluruhnya berasal dari bangku kuliah.

Namun, ilmu juga didapat melalui terjun langsung ke dunia kerja. Oleh sebab itu, kami memberikan fleksibilitas ke mahasiswa untuk kuliah sambil bekerja. Bagi kamu yang ingin lebih dalam mengetahui informasi tentang STIKI Indonesia simak link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.

Kami juga punya tips bagi kamu yang ingin kuliah sembari kerja paruh waktu. Ada sejumlah tips pekerjaan yang mungkin cocok untuk kamu. Simak link berikut: Tips Kerja Sampingan untuk Mahasiswa.

Generic placeholder image

Open Campus: Trial Class STIKI Indonesia

04 Jun 2021   Kegiatan

STIKI Indonesia membuka kesempatan bagi para calon mahasiswa baru untuk mendapatkan pengalaman secara langsung bagaimana situasi dan kondisi perkuliahan melalui acara Open Campus – Trial Class STIKI Indonesia. Acara ini digelar pada Senin (31/5/2021) lalu.

(Selengkapnya…)

Generic placeholder image

Mengingat Gerakan Mahasiswa, Panjang Umur Perjuangan!

24 Mei 2021   Berita

Gerakan mahasiswa selalu melekat dengan sejarah perubahan di negeri ini. Perjalanan politik kebangsaan kita tak pernah lepas dengan peran pemuda dan mahasiswa.

Gerakan pemuda dan mahasiswa terbagi dalam dua tahapan, tahap pra-kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan. Dilansir Kompas, tahap pra-kemerdekaan ditandai dengan tiga fase sejarah. Pertama, berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi kepemudaan yang menjadi ikon pergerakan pemuda tahun 1908 dan disebut juga sebagai era perintis terhadap upaya menyadarkan pemuda kala itu.

Fase kedua adalah peristiwa Sumpah Pemuda 1928 yang kemudian dikenal sebagai era penggerak. Kesadaran kebangkitan bangsa ini kemudian diteruskan oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan, seperti Soekarno dan Hatta, yang kemudian mengantarkan bangsa ini ke gerbang kemerdekaan pada 1945.

Dari fase di atas, jelas sekali model gerakan di tahap pra-kemerderkaan ini lebih menghadapkan pemuda dengan pemerintahan kolonial lewat gerakan politik diplomasi.

Sementara pada tahapan pasca-kemerdekaan, perubahan politik yang menonjol lebih banyak dihiasi gerakan mahasiswa yang lahir sebagai kekuatan penekan dan berhadapan dengan pemerintahan Indonesia. Gerakan mahasiswa 1966 menjadi penanda awal bagaimana mahasiswa menjadi oposisi di era pemerintahan Soekarno.

Era 1966 ditandai juga dengan lahirnya sejumlah organisasi kemahasiswaan ekstrakampus, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI).

Organisasi-organisasi ini kemudian membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang kemudian menjadi motor penekan terhadap pemerintahan Soekarno. Peristiwa Tritura yang berisi pembubaran PKI, perombakan kabinet Dwikora, dan penurunan harga pangan lahir dari generasi awal gerakan mahasiswa yang memilih model gerakan di jalanan sebagai kekuatan penekan.

Cerita sukses gerakan mahasiswa 1966 tentu menjadi pelajaran berharga bagi kekuasaan. Pasca-Soekarno, gerakan mahasiswa pun kemudian dibatasi ruang geraknya oleh rezim Soeharto. Kebijakan Mendikbud Daoed Joesoef terkait Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) menjadi tembok pembatas bagi ruang gerak mahasiswa kala itu.

Otoritatianisme Orde Baru melupakan pendidikan dan penyadaran politik yang sebenarnya tetap berlangsung di dalam kampus. Salah satunya pers kampus yang menjadi media alternatif karena dikelola mandiri oleh mahasiswa dan secara umum kontennya lebih banyak menjadi oposan terhadap pemerintahan Orde Baru.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, Kampus IT

Puncaknya, krisis ekonomi yang terjadi kemudian memicu lahirnya gerakan mahasiswa 1998. Krisis ekonomi yang dipicu oleh meningkatnya harga kebutuhan pokok membuat mahasiswa, yang kala itu baru saja mengalami proses transisi turun ke jalan, bergerak menyuarakan aspirasi rakyat.

Transisi yang dimaksud, dari era Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi yang sebelumnya dibentuk oleh pihak kampus menjadi era Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang relatif mandiri (ketua/presiden BEM dipilih langsung melalui pemilu raya kampus).

Di fase inilah terjadi peristiwa tragis terbunuhnya empat mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998. Peristiwa ini justru semakin memicu gerakan mahasiswa yang lebih besar dan pada akhirnya membuat Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden.

Gerakan Pascareformasi

Pascareformasi, komitmen gerakan mahasiswa terhadap agenda kepentingan publik relatif tetap terjaga. Menariknya, gerakan mahasiswa kali ini juga dihiasi oleh gerakan awal yang masif di media sosial.

Terbukti, aksi mahasiswa pada 23 September 2019 yang memakai tagar #ReformasiDikorupsi mampu menggerakkan ribuan mahasiswa, baik di Ibu Kota maupun di daerah. Salah satu yang fenomenal adalah tagar #GejayanMemanggil yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta.

Aksi turun ke jalan berlanjut hingga seminggu kemudian. Eskalasi dari gerakan mahasiswa ini membuat penanganan di lapangan cenderung memicu ketegangan dan represif. Bahkan, dalam unjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara, 26 September 2019, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo meninggal.

Menariknya, aksi mahasiswa kali ini mampu menularkan gerakannya hingga lahirlah gerakan pelajar sekolah menengah kejuruan. Tentu saja ini mengagetkan publik karena menjadi fenomena baru dalam gerakan demonstrasi. Munculnya aksi lanjutan dari para pelajar SMK ini, menurut analisis sosiolog kritis Asef Bayat, merupakan tindakan para non-demonstran.

Hasil jajak pendapat Kompas yang diselenggarakan pada 25-26 September 2019 juga mengungkapkan, sebagian besar responden meyakini apa yang dilakukan oleh mahasiswa adalah untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Pada akhirnya, sejarah perjalanan bangsa membuktikan, gerakan mahasiswa hadir ketika lembaga-lembaga demokrasi tidak bekerja baik, korupsi mewabah, moral politik bobrok, dan kebijakan ekonomi negara tidak menuju kesejahteraan sosial.