Generic placeholder image

Buku Karya Dosen STIKI: Kapita Selekta Citraleka Desain

07 Jun 2021   Berita

Buku Kapita Selekta Citraleka Desain merupakan buku karya dosen STIKI Indonesia yang berisikan 12 tulisan yang mengulas berbagai topik mengenai Desain pada era New Normal.

Diharapkan buku ini, mampu menjawab kekurangan tulisan-tulisan mengenai desain, seni, dan kebudayaan yang selama ini terjadi.

Buku ini merupakan keberlanjutan dari edisi terbitan sebelumnya yang bertajuk sama. Buku ini juga diharapkan menjadi momentum untuk terbitan buku-buku lainnya dengan topik-topik sejenis.

Editor buku ini adalah duet maut 2 dosen STIKI Indonesia yaitu I Nyoman Jayanegara, M.Sn dan I Nyoman Anom Fajaraditya Setiawan, S.Sn, M.Sn.

I Nyoman Jayanegara menjelaskan, buku ini dibuat salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa profesi desainer bukanlah sebuah profesi yang mudah untuk dijalankan. Para desainer sudah seharusnya dianggap sebagai satu profesi yang tidak dicap sebagai “tukang”.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kampus IT

“Masyarakat itu menkonotasikan desainer itu sebagai ‘tukang’, bukan ahli, diharapkan buku ini masyarakat bisa memahami yang ahli dalam bidangnya,” katanya saat ditemui, Rabu (2/6/2021).

Dosen yang akrab disapa Pak Jaya ini menambahkan, buku yang memuat 12 tulisan ini salah satunya berisi tentang desain di era normal. Dia mencontohkan ada memuat satu tulisan tentang desain interior yang akhirnya menyesuaikan dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti pada akhirnya semua menjadi sadar bahwa sudah seharusnya semua desain rumah didesain tak hanya sekadar untuk tempat tinggal dan tempat istirahat semata.

“Mendefinisikan soal rumah. Jadi sebenarnya mendefisinikan ulang rumah, seperti Pandemi kan di rumah, definisi ulang rumah sebagai tempat tinggal, sebagai kantor dan seterusnya. Begitu juga teman di Fashion masalah perkembangan masker dan sebagainya di era Pandemi,” katanya.

Buku ini merupakan terbitan tahun 2021 yang dapat dikatakan sebagai volume kedua berisikan 12 tulisan yang mengulas berbagai topik mengenai Desain pada era New Normal. Buku ini merupakan sebuah bunga rampai dan keberlanjutan dari edisi terbitan sebelumnya pada tahun 2020.

Generic placeholder image

Cara Jitu Pak Sujana Eka Bantu Digitalisasi Ekowisata Mangrove Wanasari

25 Mei 2021   Berita

Apabila ingin merasakan liburan yang berbeda dari umumnya di Bali mungkin Ekowisata Mangrove Wanasari di kawasan Tuban, Kuta bisa menjadi pilihan. Bali memang memiliki sejuta destinasi indah tak hanya pantai semata.

Tempat ini tepatnya berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai 1, kalau dari arah Kuta atau Denpasar lokasinya sebelah kiri sebelum masuk jalan Tol Bali Mandara, sebelah Timur Bandara Ngurah Rai.

Ekowisata ini memberikan tawaran wisata yang berbeda maka tak heran selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Namun, sejak Pandemi Covid-19 menghantam tempat ini sepi pengunjung. Memang tidak ada habisnya apabila mengeluhkan efek Pandemi, namun yang perlu dicari adalah solusi untuk kembali bangkit.

Salah satu solusi yang bisa diambil untuk membuat ekowisata ini bangkit adalah dengan menerapkan model digitalisasi. Ide ini digagas oleh I Gede Sujana Eka Putra S.T,M.T yang dituangkan dalam proposal yang lolos dalam seleksi Kegiatan Riset Kebencanaan “Ideathon Bali Kembali” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Model digitalisasi ini merupakan salah satu cara yang bisa diambil untuk kembali membantu ekowisata yang dikelola oleh Kelompok Nelayan Wanasari ini. Mode digitalisasi yang bisa diterapkan di ekowisata ini nantinya berupa buku digital yang berisi katalog wisata apa saja yang bisa dinikmati oleh wisatawan, e-ticketing sehingga dapat menerapkan sistem cashless dan visitor tracking.

“Itu yang bisa kami tawarkan. Karena selama ini semuanya masih manual. Tiket masuk masih menggunakan tiket biasa, tidak ada pendataan secara digital,” kata Sujana Eka saat berbincang, Jumat (21/5/2021).

Menurut Sujana Eka, setelah model digitalisasi bisa diterapkan maka proses pendataan jumlah pengunjung bisa disusun dengan mudah. Lewat digital, tentu ekowisata ini nantinya akan mampu meraup pasar yang lebih luas. Selama ini, pengelola hanya fokus pada pemanfaatan media sosial semata untuk marketingnya. Lewat Model digitalisasi nantinya ada pula buku digital yang bisa diakses oleh siapa pun karena akan tersedia secara online.

“Saya sempat ngobrol dengan Sekretaris Kelompok Nelayan Wanasari mereka cukup senang dengan program yang akan kita buat karena di awalnya mereka sendiri mereka mengakui untuk promosi susah. Namun, di sisi digitalisasi, mungkin informasi mereka tidak struktur, jadi informasi deskripsinya tidak ada, jadi bisa nanti contohnya membuka katalog-katalog mengenai objek wisata yang ditawarkan,” kata Sujana Eka yang merupakan salah satu dosen di STIKI Indonesia ini.

Penggunaan e-ticketing juga ada makna lain di baliknya. Penggunaan e-ticketing dapat meminimalisir interaksi antara pengunjung dengan karyawan di ekowisata. Hal ini tentu bertujuan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan karena masih berkaitan dengan COVID-19.

Keberadaan Ekowisata Mangrove Wanasari memberikan tawaran wisata yang beragam. Selain bisa menikmati rindangnya hutan bakau sebagai paru-paru kota, tempat ini ditawarkan juga wisata edukasi seperti tata cara budidaya kepiting yang dilakukan oleh nelayan setempat.

Saat air laut sedang pasang kamu juga bisa menikmati acara tour dengan perahu tradisional, sama seperti paket wisata mangrove di Nusa Lembonga. Pengunjung juga bisa bermain kano sambil menikmati indahnya alam laut dan pesona hutan bakau. Ekowisata Mangrove Wanasari ini cocok untuk semua kalangan, baik itu anak-anak maupun kalangan dewasa.

Penelitian yang dilakukan oleh I Gede Sujana Eka Putra ini merupakan salah satu proposal yang lolos hibah seleksi Kegiatan Riset Kebencanaan “Ideathon Bali Kembali”. Penelitian berjudul “Model Digitalisasi Ekowisata di Masa Pandemi COVID-19 ini dan empat proposal dari pengajar STIKI Indonesia masuk ke dalam 50 proposal yang lolos dan diumumkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada (27/4/2021).

Lima proposal STIKI Indonesia merupakan terbanyak yang lolos dalam Kegiatan tersebut. Untuk lebih lanjut bisa dibaca di link berikut ini: STIKI Kampus IT Terbanyak se-Indonesia Loloskan Proposal Ideathon Bali Kembali.

Generic placeholder image

Ideathon Bali Kembali: Perjuangan Membantu Biro Perjalanan Wisata

23 Mei 2021   Berita

Kabar berhembus kencang bahwa pariwisata Bali akan dibuka bagi wisatawan mancanegara pada bulan Juli-Agustus mendatang. Kabar ini berhembus usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau kegiatan vaksinasi di Gianyar, Bali pada Selasa (16/3/2021) lalu.

Pariwisata Bali bisa dibuka lebih cepat pada Juli 2021 asalkan kondisi dan penanganan pandemi COVID-19 kian membaik. Untuk menyambut wacana tersebut sudah banyak persiapan yang telah dilakukan oleh pemerintah mau pun pelaku industri pariwisata Bali.

Salah satu cara yang dilakukan untuk membantu industri pariwisata Bali agar kembali bangkit adalah dengan membuat program Soft Loan sebagai Stimulus Pemulihan Ekonomi pada Biro Perjalanan Wisata Bali.

Ini merupakan tema penelitian yang diambil oleh Emmy Febriani Thalib, S.H.,M.H yang merupakan salah satu penerima hibah kegiatan Riset Kebencanaan “Ideathon Bali Kembali” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Emmy bercerita alasan mengambil tema tersebut, dia mengaku melihat sendiri bagaimana pelaku Biro Perjalanan Wisata sangat terpukul dengan dampak Pandemi COVID-19 yang membuat pariwisata Bali terhenti.

“Saya melihat sendiri bagaimana mereka (Biro Perjalanan Wisata) struggling, menderita. Bisa survive saja bersyukur. Program ini bentuk keprihatinan ke Biro Perjalanan Wisata walau pun mereka sendiri sudah ada usaha-usaha yang telah dijalankan. Nah kita dari sisi akademisi kalau kita bisa ya kita bantu perjuangkan,” kata Emmy saat berbincang, Senin (17/5/2021) lalu.

Alasan lain di balik pembuatan program ini adalah Biro Perjalanan Wisata tidak terlalu dititikberatkan untuk menerima bantuan pemulihan ekonomi bagi pelaku pariwisata. Selama ini, skema bantuan lebih mengarah kepada perhotelan, restoran dan sebagainya.

Oleh sebab itu, program soft loan ini dikhususkan untuk membantu pelaku Biro Perjalanan Wisata untuk dapat mempersiapkan operasionalnya dalam menyambut wacana kembali dibukanya pariwisata Bali. Bantuan dana yang didapat dari soft loan ini nantinya dapat digunakan untuk membiayai operasional.

“Soft loan diharapkan bisa cair sebelum pariwisata resmi dibuka. Jadi untuk persiapan, Misalnya ada biro wisata yang dulu belum ada gedung untuk kantor nanti bisa digunakan untuk bayar sewa gedung. Intinya soft loan dapat digunakan untuk modal kerja untuk persiapan,” kata Emmy yang merupakan salah satu pengajar di STMIK STIKOM Indonesia (STIKI).

pariwisata bali, ideathon bali

Untuk tahap awal setidaknya ada sekitar 141 Biro Perjalanan Wisata yang direncanakan akan mendapatkan bantuan dari Program Soft loan ini. Namun, jumlah tersebut masih bisa berkurang karena sampai saat ini masih dalam proses pendataan. Sebab, untuk mendapatkan program soft loan ini setidaknya Biro Perjalanan Wisata harus memenuhi sejumlah syarat. Syarat menerima program soft loan ini adalah sebagai berikut:

  • Pengusaha-pengusaha lokal atau memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Provinsi Bali di sektor pariwisata dan sektor pendukung pariwisata lainnya yang terkena dampak Pandemi Covid-19.

  • Plafon pinjaman kepada masing-masing pengusaha sebesar maksimal sesuai kontribusi pengusaha terhadap pajak (PHR, PPN, pajak hiburan) di tahun 2019 serta tidak masuk daftar hitam nasional.

  • Terdapat jangka waktu pinjaman dengan grace period kelonggaran pembayaran angsuran pokok dan bunga selama dua tahun dan dapat diperpanjang menjadi tiga tahun apabila kondisi pariwisata setelah tahun kedua belum pulih minimal 50 persen dari kondisi normal.

  •  Suku bunga maksimal sebesar 3 persen per tahun di mana bunga pada masa grace period diakumulasikan pada tahun-tahun berikutnya.

  • Harus mendapatkan rekomendasi dari instansi terkait dan asosiasi yang menaungi usaha tersebut.

  • Pinjaman hanya digunakan untuk modal kerja yang tidak dapat digunakan untuk melunasi atau mengangsur pinjaman di bank atau perusahaan pembiayaan. 

Tema yang diambil oleh Emmy tak hanya bertujuan untuk membantu Biro Perjalanan Wisata di Bali. Namun, bertujuan untuk merangsang pertumbuhan pariwisata Bali untuk kembali bangkit sehingga berdampak pada perekonomian.

“Sesuai dengan judul saya ada kata ‘stimulus’ yang punya tujuan untuk merangsang penggiat industri ini agar dapat dana segar jadi berdampak pada perekonomian juga. Karena sekarang banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan, ada utang di bank dan lain sebagainya,” ujarnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Emmy ini diharapkan dapat memberikan input kepada pembuat kebijakan dalam proses dan perumusan kebijakan publik sebagai solusi permasalahan yang efektif dan diterima di lapangan karena melibatkan pihak terkait yaitu Biro Perjalanan Wisata di Bali, yang juga memberikan kontribusi besar mendatangkan devisa negara di mana kegiatan usahanya terdampak oleh pandemi COVID-19.

Penelitian Emmy yang berjudul “Kebijakan Terkait Program Soft Loan sebagai Stimulus Pemulihan Ekonomi pada Biro Perjalanan Wisata Bali” menjadi salah satu proposal yang lolos hibah seleksi Kegiatan Riset Kebencanaan “Ideathon Bali Kembali”. Penelitian Emmy dan empat proposal dari pengajar STIKI Indonesia masuk ke dalam 50 proposal yang lolos dan diumumkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada (27/4/2021).

Lima proposal STIKI Indonesia merupakan terbanyak yang lolos dalam Kegiatan ini. Untuk lebih lanjut bisa dibaca di link berikut ini: STIKI Kampus IT Terbanyak se-Indonesia Loloskan Proposal Ideathon Bali Kembali.