Generic placeholder image

Fakta: Grup WhatsApp Keluarga Berpotensi Pengaruhi Kesehatan Mental

07 Ags 2021   Berita

Kita semua pasti risih dengan grup WhatsApp keluarga karena ada saja topik percakapan yang membuat geleng-geleng kepala. Biasanya membahas berita yang belum valid atau kabar hoaks.

Akibatnya kita semua cenderung mengabaikan pesan dalam grup bahkan tidak pernah membukanya. Mau menegur takut apalagi mau keluar dari grup WhatsApp keluarga.

Menurut penelitian dari American Psychological Association, saat seseorang sering memeriksa pesan atau e-mail pada ponsel atau komputer berkaitan dengan tingkat stres seseorang.

Apa yang dikonsumsi di layar ponsel atau monitor adalah mater-materi yang menimbulkan kegelisahan hingga gangguan mental.

Di dalam penelitian yang melakukan survei kepada peserta ini, para peneliti membuat poin 1-10. Angka 1 artinya sedikit atau tidak stres dan angka 10 adalah stres berat.

Hasilnya, rata-rata angka yang didapatkan dari peserta yang menjawab survei adalah 5,3. Sementara itu, bagi mereka yang jarang memeriksa ponselnya memiliki poin yang lebih rendah, yaitu 4,4.

Mengapa grup WhatsApp keluarga termasuk grup obrolan yang memengaruhi kesehatan mental? Alasannya, grup keluarga kadang menimbulkan perasaan tak nyaman kepada penggunanya. Misalnya, dalam grup itu tidak ikut mengucapkan selamat ulang tahun atau duka.

Di grup keluarga juga kadang banyak anggotanya senang berbagi informasi hal-hal yang mungkin menurut anak muda tidak penting. Nah, sangat melelahkan bagi peserta grup lain untuk mengabaikannya karena merasa tidak enak. Akibatnya, tidak jarang grup WhatsApp keluarga yang terpaksa dibaca tersebut memengaruhi kesehatan mental Anda.

kuliah IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah IT

Kondisi berbeda dengan grup percakapan kantor. Anda tidak perlu merasa tidak enak untuk mengabaikannya karena kadang itu bukan bagian dari tugas Anda. Jadi, tingkat stres-nya pun berbeda.

Bagaimana dengan maraknya berita bohong di grup keluarga?

Sebenarnya, salah satu faktor yang menyebabkan grup WhatsApp keluarga berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang adalah berita bohong. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hoaks atau berita bohong sering disebarkan oleh anggota keluarga di WhatsApp.

Sebagai contoh, ketika masa pemilihan umum berlangsung, tidak jarang berita-berita yang menjatuhkan salah satu calon pasangan beredar di grup atau media sosial. Di antara ratusan berita yang disebarkan, jumlah berita yang berisi kebohongan ternyata cukup banyak.

Membaca berita hoaks alias berita bohong ternyata dapat memengaruhi kesehatan mental meskipun hanya membacanya dari media sosial. Dilansir dari Psycom, dengan banyaknya informasi yang salah dianggap sebagai kebenaran, tidak sedikit orang yang mengalami stres akibat dari judul sebuah berita.

Hoaks memang dirancang untuk memanipulasi opini masyarakat, terutama mereka yang jarang memeriksa kebenarannya di sumber lain. Selain itu, berita bohong juga sering menimbulkan perasaan marah, curiga, dan cemas yang mampu memengaruhi pemikiran Anda.

Terlebih lagi, ketika berita dari grup WhatsApp tersebut ternyata terbukti palsu juga memunculkan perasaan marah dan frustrasi. Kondisi ini biasanya berlaku pada pembaca yang merasa tidak berdaya ketika menghadapi berita palsu untuk memanipulasi opini publik.

Oleh karena itu, ketika menerima kabar bohong atau berita hoaks yang tersebar di grup WhatsApp keluarga, tidak jarang Anda merasa frustasi dan kesehatan mental pun terganggu.

Tips menjaga kesehatan mental di era kemajuan teknologi
Tidak hanya grup keluarga di WhatsApp yang dapat memengaruhi kesehatan mental Anda, ternyata media sosial lainnya pun juga memberikan dampak yang sama. Menghindari grup chat mungkin akan mudah, tetapi bagaimana dengan media sosial lainnya?

Berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan dalam menjaga kesehatan mental di era kemajuan teknologi.

Mengurangi waktu penggunaan

Salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dan terhindar dari grup chat media sosial adalah mengurangi waktu penggunaan.

Mengurangi penggunaan media sosial hingga 10 sampai 30 menit sehari ternyata dapat menurunkan tingkat kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Walaupun demikian, Anda tidak perlu mengurangi penggunaan media sosial secara drastis untuk menjaga kesehatan mental.

Mengalihkan perhatian

Selama ‘berpuasa’ dari media sosial, tidak jarang keinginan untuk membuka kembali ponsel cukup besar karena tidak melakukan apapun. Maka itu, menjaga kesehatan mental agar terhindar dari grup WhatsApp dan platform lainnya dapat dilakukan dengan mengalihkan perhatian.

Mengalihkan perhatian dari keinginan membuka media sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

Menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman, seperti bertemu langsung

Melakukan hobi atau menemukan hobi baru, seperti melukis atau membaca

Mengisi waktu dengan hal-hal yang sehat, seperti rutin berolahraga

Menenangkan dan merilekskan pikiran dengan dikelilingi oleh alam
Walaupun demikian, grup Whatsapp keluarga tidak selalu berdampak buruk terhadap kesehatan mental anggotanya. Terkadang, Anda bisa mendapatkan manfaat dari media sosial untuk kesehatan, baik mendapatkan informasi maupun berkomunikasi dengan orang lain.

Sumber: hellosehat

Generic placeholder image

Waspada! Cari Tahu 5 Jenis Serangan Siber

06 Ags 2021   Berita

Potensi serangan siber patut diwaspadai di era semakin meningkatnya digitalisasi. Serangan siber merupakan jenis serangan yang menyasar sistem komputer perorangan, perusahaan atau instansi yang biasanya dilakukan oleh peretas demi mendapatkan keuntungan berupa uang atau hanya demi kepuasan semata.

Dikutip dari aqi.co.id, serangan siber dilaporkan semakin meningkatkan selama Pandemi Covid-19 di awal tahun 2020. Pandemi Covid19 memaksa setiap individu untuk berdiam diri dan melaksanakan segala aktivitas dari rumah, termasuk untuk urusan pekerjaan.

Tak heran di tahun 2020 terjadi lonjakan kenaikan pengguna internet. Kenaikan pengguna internet ini turut meningkatkan jumlah serangan siber di Indonesia. Untuk itu, penting bagi setiap individu, perusahaan, atau instansi untuk mengetahui apa saja jenis-jenis serangan siber yang ada saat ini.

Berikut lima jenis serangan siber dikutp dari aqi.co.id:

DoS

Tahun 2018, Github, yang menjadi platform untuk manajemen proyek dan sistem versioning code sekaligus platform jaringan sosial bagi para developer, diketahui sempat down akibat serangan peretas. Jenis serangan yang dialami Github kala itu adalah DoS.

DoS kependekan dari Denial of Service, yaitu jenis serangan yang berusaha melumpuhkan sebuah website agar tidak bisa diakses pengguna. Peretas akan melakukan serangan secara bertubi-tubi agar situs down sampai kemudian lumpuh total.

Malware

Malware adalah sebuah perangkat lunak yang berbahaya karena dirancang untuk merusak sistem komputer. Malware juga mengandung virus. Ketika malware berhasil masuk ke sebuah perangkat, maka dengan cepat malware mampu merusak sistem dalam perangkat tersebut.

Selain merusak sistem, kemampuan lain malware adalah mencuri data. Bayangkan jika malware masuk ke komputer perusahaan yang menyimpan data penting, tentu amat bahaya.

Biasanya malware menyusup ke perangkat manakala pengguna mengunduh file kemudian menginstallnya di perangkat. Malware dikategorikan sebagai serangan siber yang paling berbahaya.

kuliah IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

Phishing

Phishing seringkali digunakan untuk mencuri data penting. Data-data penting yang dimaksud misalnya PIN, password, dan username. Seperti kita tahu, dengan memperoleh username, password, dan PIN, maka si pencuri bisa masuk ke akun kita dan mengambil alih kendali atas akun tersebut.

Bayangkan bila akun yang dicuri adalah akun perbankan, akun email, akun sosial media, dan akun ecommerce, tentu bisa fatal akibatnya. Peretas bisa mendapatkan kendali atas akun tersebut dan kita akan kehilangan kendali, yang selanjutnya bisa mengakibatkan kerugian finansial.

Phishing dilakukan dengan menyebarkan email berisikan attachment atau link. Link tersebut akan mengarahkan target ke sebuah halaman tipuan yang bisa terlihat kredibel atau resmi. Misalnya saja, link untuk pembelian produk handphone terbaru dengan diskon super murah. Penerima email yang tertarik dengan promosi tersebut mungkin bermaksud memesan kemudian mengisikan data-data kartu kreditnya di laman tipu-tipu tersebut. Akhirnya peretas berhasil mendapatkan data penting pengguna untuk digunakan kejahatan selanjutnya.

Credential Reuse

Jenis serangan siber ini memanfaatkan kredensial yang mirip di beberapa akun. Misalnya anda menggunakan username dan pasword yang mirip di akun email, akun sosial media, akun ecommerce, dsb. Kondisi tersebut menjadi sasaran empuk serangan siber.

Peretas mungkin mendapatkan username and password satu akun anda, tapi karena anda menggunakannya di beberapa akun lain, maka peretas akan bisa dengan mudah mengambil alih akun lain anda. Maka dari itu, disarankan untuk menggunakan username dan password yang berbeda untuk tiap-tiap akun. Bila khawatir lupa, anda bisa mencatatnya di memo dan menyimpannya dengan aman di rumah.

SQL Injection

Jenis serangan yang selanjutnya adalah SQL Injection. Serangan ini harus diwaspadai oleh tiap-tiap IT perusahaan. SQL Injection bisa karena ada celah yang tidak bisa ditutupi oleh sistem keamanan dari database tersebut.

Hacker akan memasukkan kode seperti titik, petik tunggal, dan strip. Ketika kode tersebut berhasil, maka seluruh data dalam sebuah database akan terhapus dan data tersebut digunakan oleh hacker untuk melakukan tindakan lain yang bisa merugikan sebuah perusahaan.

Generic placeholder image

Satu-Satunya di Bali! Inbis STIKI Raih Hibah IBT dari BRIN

02 Ags 2021   Berita

Inkubator Bisnis (Inbis) STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) meraih dana Bantuan Pemerintah Berupa Pengembangan Inkubator Bisnis Teknologi Perguruan Tinggi dalam Bentuk Bantuan Operasional dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).

Proposal yang diajukan oleh Inbis STIKI Indonesia berjudul: “Pengembangan Kelembagaan Inkubator Teknologi Berupa Bantuan Operasional dalam Peningkatan UMKM Denpasar Bersama Inkubator Bisnis STIKI Indonesia”. Proposal dinyatakan lolos dan berhak mendapatkan dana bantuan sebesar Rp 190.000.000.

Kepala Inbis STIKI Indonesia, Made Leo Radhitya, S. Kom., M. Cs menjelaskan dana hibah tersebut akan dipergunakan untuk menjalankan sejumlah kegiatan. Salah satunya adalah untuk membantu Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak Pandemi Covid-19.

UMKM yang dibantu adalah UMKM yang baru memulai beroperasi bahkan bantuan akan diberikan bagi mereka yang “terpaksa” bergelut menjadi UMKM.

“Misalnya terpaksa menjadi UMKM misalnya dulu dia bergerak di bidang pariwisata dan saat Pandemi misalnya berjualan kopi pakai gerobak,” kata Made Leo ditemui Jumat (30/7/2021) lalu.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali, kampus IT

Inbis STIKI Indonesia akan fokus membantu para UMKM dalam bentuk ilmu. Dia mencontohkan, Inbis STIKI Indonesia akan membantu UMKM yang memiliki kelemahan dari segi produksi, marketing khususnya secara digital.

Hal ini dikarenakan tidak semua para pelaku UMKM memahami hal tersebut. Oleh sebab itu, UMKM nantinya akan mengikuti pelatihan yang disediakan oleh Inbis STIKI Indonesia.

“Fokus yang diberikan adalah Digital Marketing. Karena itu yang penting untuk UMKM. Enggak semua orang ngerti di situ, supaya mereka lebih baik lagi dalam hal tersebut,” kata Leo.

UMKM nantinya tak akan disaring terlalu ketat. Hal ini dikarenakan Pandemi Covid-19 yang menyebabkan UMKM harus dibantu karena terdampak dari segi penjualannya.

“Kalau enggak ada Pandemi kita bakal seleksi dengan ketat. Kita pilih usaha yang unik yang prospeknya bagus, tapi yang kita prioritaskan yang baru dan memang membutuhkan biar mereka bisa bersaing. Itu yang kita cari,” ujarnya.

Dana hibah dari BRIN untuk kategori bantuan operasional ini total ada delapan Inbis Universitas yang mendapatkannya di seluruh Indonesia. Untuk Pulau Bali, Inbis STIKI Indonesia menjadi satu-satunya yang mendapatkannya. Good Job Inbis STIKI Indonesia!