Generic placeholder image

Dari Kaum Rebahan Jadi Kaum Perubahan

28 Ags 2021   Berita

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan dalam surveinya bahwa penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z dan generasi milenial. Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada kurun tahun 1997-2012 dan generasi milenial lahir pada kurun tahun 1981-1996.

Survei yang digelar oleh BPS sepanjang Februari-September 2020 didapati jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa (27,94%). Sebagai generasi denga populasi terbanyak Generasi Z dan milenial diidentikkan dengan kaum rebahan. Mereka tumbuh di tengah kemajuan teknologi maka tak bisa dijauhkan dengan teknologi khususnya gadget.

Dilansir detik.com, istilah “kaum rebahan” mulai muncul sejak aksi demo para mahasiswa pada September 2019 lalu dan menjadi bahan perbincangan hingga saat ini. Istilah tersebut merujuk pada orang-orang yang lebih memilih untuk bersantai dan berbaring di kasur daripada mengisi waktunya dengan hal yang positif dan produktif.

Sayangnya, istilah kaum rebahan justru menimbulkan stereotip negatif terhadap para milenial dan generasi Z. Malas, tidak produktif, melewatkan kesempatan, tidak mempunyai target, serba instan dan tidak menghasilkan apa-apa.”

Nyatanya, stereotip terhadap milenial dan generasi Z yang dianggap generasi pemalas sudah ada sejak 2013 melalui laporan yang dikeluarkan oleh Time.

Selain pemalas, para milenial juga sering dianggap enggan bekerja keras, narsis, menyukai sesuatu yang instan, bergantung pada teknologi, mengerjakan sesuatu tanpa keringat, ingin terdidik tetapi tidak juga lulus kuliah.

Riset yang dilakukan oleh Ipsos MORI Social Research Institute menunjukkan bahwa perbedaan usia pada tiap generasi menimbulkan persepsi yang kontras satu sama lain. Bobby Duffy, Managing Director dari lembaga riset tersebut menyatakan, “Generasi muda selalu menjadi target ejekan dari generasi yang lebih tua.”

Perbedaan persepsi yang menimbulkan stereotip tertentu adalah hal yang tidak dapat dihindari. Pasalnya, tiap-tiap generasi memiliki karakteristik, kebiasaan, nilai, pola pikir, dan budaya yang berbeda-beda.

Menurut Manheim (1952), generasi merupakan sebuah konstruksi sosial, yang di dalamnya terdapat sekelompok orang dengan kesamaan umur dan pengalaman historis. Generasi adalah sekelompok individu yang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian bersejarah dan fenomena budaya pada fase kehidupan mereka (Twenge, 2006).

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

Generasi millenial sendiri dibesarkan oleh kemajuan teknologi. Hal ini membuat para milenial melibatkan teknologi dalam berbagai aspek kehidupannya. Selain itu, generasi milenial juga memiliki pola pikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Lahir dan dibesarkan pada saat gejolak ekonomi, politik, dan, sosial melanda Indonesia membuat para milenial tumbuh sebagai generasi yang open minded, kritis, menjunjung tinggi kebebasan, dan berani (BPS, 2018).

Generasi milenial dapat dikatakan sebagai subkultur berdasarkan usia (Schiffman & Kanuk, 2010). Sebagai sebuah subkultur tentu generasi milenial memiliki identitas kolektif yang berbeda dari budaya dominan.

Identitas kolektif tersebut berguna untuk menepis stereotip negatif yang diberikan kepada milenial akibat munculnya istilah kaum rebahan.

Terdapat banyak riset yang membantah stereotip milenial sebagai generasi pemalas. Aktivitas berbaring di kasur bagi generasi milenial bukanlah hambatan untuk tetap produktif.

Dengan berkembangnya teknologi dan media internet, memungkinkan para milenial untuk menuntaskan tanggung jawabnya dimana pun dan dalam kondisi apapun, termasuk berbaring.

Sembari berbaring, para milenial dapat ber-multitasking, seperti belajar, belanja, bersosialisasi di satu waktu yang sama. Tidak hanya hal yang sifatnya menghibur, sambil berbaring para milenial juga mampu menjalankan bisnis secara online.

Berdasarkan riset, 7 dari 10 milenial mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi (IDN Research Institute, 2019). Tidak heran saat ini banyak bisnis online yang bermunculan.

Selain itu, banyak juga milenial yang beralih dari pekerjaan yang pergi pagi pulang petang menjadi pekerjaan yang lebih fleksibel seperti freelance. Laporan dari Freelancers Union dan Upwork menyebutkan bahwa sebanyak 47 persen pekerja generasi milenial memilih bekerja freelance.

Terkait dengan stereotip yang muncul bahwa generasi milenial adalah generasi yang enggan bekerja keras, riset oleh ManpowerGroup memberikan hasil yang mengejutkan. Riset tersebut menunjukkan bahwa para milenial bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.

Sebanyak 73 persen milenial di dunia bekerja 40 jam seminggu dan seperempatnya bekerja lebih dari 50 jam seminggu. Selain itu, sebanyak 26 persen di antaranya mempunyai lebih dari satu pekerjaan.

Orientasi bekerja antara milenial dengan generasi sebelumnya juga berbeda. Apabila generasi sebelumnya berorientasi pada gaji atau upah, milenial tidak bekerja semata-mata untuk gaji melainkan untuk mengejar tujuan.

Para milenial melihat pekerjaan sebagai proses pengembangan diri. Apabila pekerjaan dirasa tidak berdampak pada pengembangan diri, maka milenial akan memilih untuk mencari pekerjaan lain. Hal ini membuat fenomena turnover banyak terjadi di kalangan milenial, namun semata karena para milenial mencari pengembangan diri pada pekerjaannya.

Berdasarkan data-data tersebut, maka stereotip negatif yang muncul terhadap generasi milenial sebagai kaum rebahan tidak sepenuhnya benar. Namun, stereotip dari sekelompok orang terhadap orang lainnya memang hal yang tidak dapat dihindari.

Munculnya stereotip tidak lain karena tiap-tiap kelompok mempunyai perbedaan masing-masing sehingga menimbulkan cara pandang tertentu. Agar dapat meminimalisasi stereotip, maka tiap-tiap individu harus menyadari bahwa tiap-tiap kelompok mempunyai keunikan tersendiri sehingga tidak dapat disamakan dengan kelompok yang lain.

Oleh sebab itu, sudah saatnya predikat kaum rebahan harus hilang. Sebagai generasi dengan populasi terbanyak di negeri ini sudah tentu harus mampu menjadi kaum perubahan. Mari bergerak bersama wujudkan cita-cita yang gemilang.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali siap membantumu dalam meraih masa depan yang gemilang. STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali memiliki dua program studi, yaitu Teknik Informatika dan Sistem Komputer. Dua program studi yang paling populer dan dibutuhkan oleh industri kerja di Revolusi Industri 4.0.

Generic placeholder image

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca

26 Ags 2021   Berita

UNESCO menyebutkan Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dan memprihatinkan. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca.

Riset lain yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tahun 2016 bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat membaca.

Dilansir laman Kominfo, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran dalam hal kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia.

Jakarta kota paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris. Miris. Malas baca buku tapi sangat suka menatap layar gadget berjam-jam ditambah paling cerewet di media sosial.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

Membaca merupakan aktivitas yang mempunyai banyak manfaat. Buku merupakan sumber pengetahuan. Selain menambah wawasan, rutin membaca buku dipercaya dapat meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat hingga menangkal insomnia.

Lantas, apa tips meningkatkan minat membaca? Simak uraiannya berikut ini:

Manfaatkan waktu menunggu

Saat kamu sedang dalam kondisi menunggu. Baik itu sedang menunggu dijemput, di bank atau dalam kondisi apa pun mulai biasakan membawa buku dan membacanya. Apabila memang tidak membawa buku, kamu bisa memulai dengan membaca artikel di internet tentunya tulisan dari sumber terpercaya.

Meminta rekomendasi

Saat sudah memiliki niat untuk membaca sebaiknya mulai meminta rekomendasi buku dari temanmu. Biasanya tahap awal kita tidak tahu buku apa yang bagus dan mudah dipahami. Lewat rekomendasi teman kamu bisa memulai membaca buku.

Memilih tema yang diminati

Memulai membaca bisa dimulai dengan terlebih dahulu membaca tema yang kalian sukai. Contohnya apabila gemar dengan sepakbola kamu bisa membeli buku biografi tentang pemain sepakbola atau pelatih. Saat nanti sudah terbiasa membaca, maka minat baca akan tumbuh dan mulai bisa membuka membaca buku tema lain.

Tingkatkan rasa ingin tahu

Saat rasa ingin tahu besar otomatis kamu akan penasaran dengan satu hal. Maka, kamu akan mulai mencari sesuatu yang ingin kamu ketahui tersebut. Maka, sangat penting untuk memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Membaca saat sebelum tidur

Membaca saat dalam kondisi ingin tidur merupakan waktu yang paling efisien. Sebelum tidur, mulai membaca buku untuk beberapa menit sampai rasa kantuk sudah tak tertahan.

Sering berdiskusi

Ketika sering berdiskusi maka referensi bahan bacaanmu akan bertambah. Maka, tidak salahnya bertukar informasi bahan bacaan meski tema bukunya tidak kamu suka. Tak apa belum dibaca yang penting kamu sudah mendapatkan rekomendasi buku yang bagus.

Coba lakukan tips di atas agar minat bacamu meningkat dan tak hanya berkutat menghabiskan waktu dengan gadget.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali memiliki kesadaran untuk bisa membantu meningkatkan minat membaca di kalangan mahasiswa. Salah satu caranya adalah lewat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Literasi STIKI.

UKM ini beranggotakan mahasiswa-mahasiswi yang memiliki minat bakat dan minat dalam bisang literasi, seperti membaca, menulis, puisi dan debat bahasa Indonesia.

Kegiatan yang sering diadakan adalah dengan menggelar seminar tentang pentingnya literasi. Salah satu seminar yang pernah digelar adalah dengan mengundang musisi Robi Navicula yang mengambil tema pentingnya literasi dalam berkarya.

UKM Literasi STIKI seringpula mengadakan lomba karya tulis ilmiah yang bertujuan untuk merangsan minat literasi di kalangan remaja di era globalisasi seperti sekarang.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali paham betul pentingnya literasi bagi mahasiswa. Oleh sebab itu, pihak kampus selalu mendukung segala kegiatan UKM ini. Mari bersama-sama meningkatkan budaya membaca!

Generic placeholder image

Bersiaplah! Ini Profesi Bidang IT yang Paling Dicari 5 Tahun Ke Depan

24 Ags 2021   Berita

World Economic Forum dalam laporan The Future of Jobs Report memperkirakan bakal ada 85 juta pekerjaan baru yang muncul pada tahun 2025. Pada bidang teknologi dan informasi disebutkan dalam laporan tersebut bahwa ada sejumlah profesi di bidang IT yang paling dicari terhitung dari tahun 2020 sampai tahun 2025.

Pekerjaan yang disebut banyak dicari hingga tahun 2025 adalah data analyst, ilmuwan, spesialis AI dan machine learning, teknisi robotik, pengembang softaware dan aplikasi dan juga spesialis transformasi digital.

Selain itu, ada juga pekerjaan yang paling banyak dicari nantinya yaitu spesialis otomasi proses, analis keamanan informasi, spesialis internet of things. Termasuk pula pekerjaan seperti Database and network professionals, robotics engineers, strategic advisors, management and organization analysts, fintech engineers, spesialis pengembangan organizational serta spesialis manajemen risiko juga menjadi ‘bintang’ pada tahun 2025.

Dalam survei juga disebutkan, perusahaan bakal mencari keterampilan pekerja yang memiliki pemikiran analitis, kreatif dan fleksibel. Berdasarkan faktor tersebut, sudah seharusnya menjadi pertimbangan bagi generasi sekarang untuk memikirkan karir yang cerah di masa depan. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah dengan memilih program studi yang tepat seusai lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA).

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan kampus IT di Bali memiliki peran besar dalam menciptakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri. STIKI mempunyai kewajiban memberikan fasilitas dan memberikan pendidikan berkualitas kepada lulusan untuk bisa berkompetisi dan membentuk mereka menjadi lulusan kompeten di bidang teknologi dan informasi.

Tujuan lain STIKI adalah mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat yang bermanfaat dan tepat guna. Hal ini tentu melihat kesadaran hadirnya revolusi industri 4.0 sehingga STIKI dapat berperan mencetak sumber daya manusia demi membawa negara Indonesia dapat bersaing dengan negara lain.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali memiliki dua program studi, yaitu Sistem Komputer dan Teknik Informatika. Sistem komputer memiliki tujuan menciptakan lulusan sarjana yang profesional di bidang sistem komputer, memiliki kemampuan menguasai hardware dan software yang berimbang dan sangat menunjang profesi di bidang: IT, EDP Perhotelan Pariwisata, Mobile Programmer, Technical Support, Network Administrator, Automation System dan Smart Robotic System.

Sementara, program studi Teknik Informatika memiliki misi melaksanakan pendidikan yang berfokus pada kebutuhan pengembangan ilmu dan teknologi berbasis komputer untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah serta menganalisa sistem informasi, multimedia, dan memanfaatkan teknologi terkini dalam mendukung perkembangan industri.

Memilih jurusan adalah langkah penting bagi mahasiswa dalam menentukan masa depannya. Tentu setelah lulus dari kuliah, mahasiswa dapat dengan mudah masuk ke industri atau justru dapat menciptakan industri itu sendiri.

Bagi kamu yang memiliki keinginan kuliah di Bali ada sejumlah keutungan yang kamu dapat. Keuntungan memutuskan kuliah di Bali bisa kamu simak di link berikut ini: Kuliah di Bali.

Untuk informasi lebih lanjut terkait pendaftaran mahasiswa bisa disimak di link berikut ini: sip.stiki-indonesia.ac.id