Generic placeholder image

Tracer Study Periode II Untuk Alumni SK, Berhadiah Pulsa!

13 Ags 2021   Berita

Dalam rangka Akreditasi Prodi Sistem Komputer (SK), serta memupuk Rasa Memiliki terhadap Almamater tercinta, kami harapkan teman-teman alumni Prodi Sistem Komputer (SK), tahun lulus 2016, 2017, 2018, 2019, dan 2020, untuk ikut berpartisipasi dalam mengisi kuesioner pada link :

https://tracerstudy.stiki-indonesia.ac.id/

Untuk periode II, pengisian kuesioner yaitu 5 s/d 20 Agustus 2021.

kampus IT di Bali, Kampus swasta di bali, kuliah di bali

Sebagai ucapan terima kasih, kami memberikan reward berupa Pulsa HP 25 ribu atas kepedulian teman-teman dalam mengisi kuesioner tersebut. Partisipasi serta Kesungguhan temen-temen merupakan andil besar dalam memajukan Kampus kita tercinta.

Terima Kasih!

NB:
- Wajib mencatumkan tahun lulus
- Mahasiswa yg sudah mengisi kuesioner pada periode I, tidak perlu mengisi lagi
- Kuesioner diisi oleh mahasiswa, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja
- Data Pengguna (Form Pengguna) diisi oleh atasan tempat anda bekerja

Generic placeholder image

Belajar Dari Steve Jobs: Berani Katakan “Tidak” Pada 1000 Hal

12 Ags 2021   Berita

Kehebatan Founder Apple Steve Jobs memang tidak perlu diragukan lagi. Jenius di bidang teknologi, Steve Jobs juga punya banyak pemikiran yang bisa membuat kita semua terinspirasi. Oleh sebab itu, kita semua harus banyak belajar dari pria yang lahir di San Fransisco, California ini. Salah satu nasihat yang paling populer adalah tentang bagaiamana keberanian untuk mengatakan “tidak” pada 1000 hal.

Dikutip dari mainmain.id, dalam sebuah konferensi pengembang Apple tahun 1997, Steve Jobs pernah berkata: “Orang-orang berpikir bahwa fokus berarti berkata ‘ya’ untuk hal-hal yang memang harus kamu fokuskan. Padahal artinya sama sekali bukan itu. (Fokus) artinya berkata ‘tidak’ kepada ratusan ide-ide bagus yang ada. Kamu harus memilih dengan hati-hati. Aku sama-sama bangga terhadap hal-hal yang belum aku lakukan dan hal-hal yang sudah aku lakukan,” kata Jobs.

Pemikiran Jobs tersebut menarik untuk diterapkan nggak hanya di dunia bisnis, tetapi juga di sekolah bila kamu ingin fokus pada tujuan dan cita-citamu. Karena, seperti kata Jobs, kalau kita memecah fokus kita pada banyak hal, perhatian kita pada tiap proyek nggak bakal maksimal.

“Inovasi adalah berkata ‘tidak’ pada 1.000 hal,” ucap Jobs.

Sebenarnya, dengan berkata ‘tidak’, ada beberapa keuntungan yang bisa kamu dapat. Tetapi perlu diingat ya, berkata ‘tidak’ bukan berarti kamu menutup diri. Kamu harus belajar membedakan di kondisi apa kamu patut berkata ‘tidak’ dan ‘iya’.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

Harus dipahami yang mana paling kita butuhkan dan hal mana yang kita inginkan. Belajar berkata tidak pada hal-hal yang kita inginkan. Saat Steve mengambil alih Apple tahun 1997, ia mengurangi 350 produk Apple menjadi 10. Ia menolak banyak hal, karena ia tahu pasti apa yang ia inginkan. Ingat, kualitas lebih baik dari kuantitas.

Selain belajar katakan ‘tidak’, masih banyak nasihat yang bisa kita pelajari dari mendiang Steve Jobs. Apa Saja itu? Simak uraiannya berikut ini dikutip dari IDNTimes:

1. Ubahlah dunia

Steve percaya pada kekuatan visi. Milikilah visi yang besar, mimpi untuk jangka waktu panjang, dan bukan jangka pendek. Steve pernah bertanya pada CEO Pepsi, “Apa kamu ingin menjual minuman bergula seumur hidup, atau ingin mengubah dunia dengannya?” Mungkin benar, saat ini pekerjaan kita adalah penjual, pedagang, guru, murid, dan sebagainya – tapi jangan lupa ini hanyalah langkah awal untuk visi yang lebih besar lagi.

2. Buat koneksi sebanyak mungkin

Jangan menganggap remeh kekuatan koneksi atau hubungan kita dengan orang lain. Kamu tidak pernah tahu, bahwa tetanggamu, temanmu, atau saudaramu akan menjadi partner bisnismu suatu saat nanti. Jangan hidup dalam ruanganmu sendiri. Lihatlah dunia, temui orang-orang, belajarlah dari banyak hal dan sambungkan semua itu untuk mendukung mimpimu.

3. Buat pengalaman baru

Steve tidak berhenti sampai menciptakan produk Apple saja, ia bahkan menjadikan Apple Store menjadi sebuah tempat dimana orang-orang dapat mendapat pelajaran dan pengalaman unik tentang Apple. Ia tidak fokus pada barang yang ia jual saja, tapi juga dengan cara penjualannya, dan itulah yang membuatnya pengatur bisnis yang luar biasa.

4. Menjual mimpi bukan produk

Steve dapat menggali imajinasi kita karena ia kenal keinginan para pelanggannya. Ia tahu bahwa kerumitan tidak akan membantu imajinasi kita, maka dari itu ia menciptakan iPad yang bahkan anak umur dua tahun bisa memakainya. Pelanggan anda tidak peduli pada produk anda, mereka peduli pada diri mereka sendiri, ambisi mereka, dan mimpi mereka masing-masing. Steve mengajarkan kia bahwa saat kita membantu pelanggan kita meraih mimpi mereka, maka kita akan memenangkan hati mereka.

Steve selalu mendorong semua orang untuk bermimpi lebih besar. Mungkin itulah nasihat terbaik yang bisa kita terima darinya. Carilah kejeniusan dalam kegilaanmu, percayalah pada dirimu sendiri, percayalah pada visi dan mimpimu, dan selalulah bersiap untuk bertarung untuk itu semua.

Generic placeholder image

Apa Perbedaan Front End dan Back End Developer?

11 Ags 2021   Berita

Bagi kamu yang berkeinginan menjadi developer harus tahu apa perbedaan dari Front End dan Back End Developer. Front End dan Back End Developer memegang peranan penting dalam website mau pun aplikasi. Dikutip dari glints, Front end developer adalah orang yang berperan mengembangkan tampilan situs atau aplikasi melalui HTML, CSS, dan JavaScript. Sementara, back end adalah orang yang berperan agar situs atau aplikasi dapat bekerja.

Apa perbedaan secara detail keduanya? Berikut uraiannya seperti dikutip dari glints:

Menurut Career Foundry, front end developer adalah orang yang bertugas untuk menghubungkan sebuah situs atau aplikasi dengan pengguna.

Secara umum, ia membuat teks, gambar, tombol, dan menu serta interaksi antara situs atau aplikasi dengan pengguna. Oleh karena itu, peran ini juga biasa disebut dengan client-side.

Front end tidak benar-benar merancang desain dari sebuah situs atau aplikasi. Pasalnya, hal tersebut adalah tugas UI designer.

Front end bertugas untuk memindahkan desain dari UI designer ke dalam bentuk yang interaktif dan membuat desain tersebut menjadi hidup.

Untuk membangun situs atau aplikasi, dibutuhkan pula seorang back end developer.

Ia bertugas untuk memastikan agar apa yang dibuat oleh front end developer atau sistem dan server di balik situs atau aplikasi dapat bekerja. Posisi ini biasa disebut server-side.

Back end amat dibutuhkan karena memiliki kemampuan mengolah sebuah situs atau aplikasi. Hal ini dikarenakan pengembangan dan perbaikan situs atau aplikasi akan terus terjadi.

Untuk melakukan itu, suatu situs atau aplikasi membutuhkan seorang back end.

Secara umum, perbedaan front end dan back end terlihat dari apa yang mereka buat, skill yang dibutuhkan, hingga waktu pengerjaan untuk masing-masing peran.

1. Cara kerja front end dan back end

Pada prinsipnya, front end bekerja untuk memastikan agar situs atau aplikasi dapat dilihat oleh pengguna. Mereka bertanggung jawab agar pengguna dapat mendapatkan informasi sampai berinteraksi dengan situs atau web secara nyaman.

Tugas tersebut membuat front end pada akhirnya fokus pada komposisi di dalam situs atau aplikasi.

Ia harus memastikan agar isi situs atau aplikasi, seperti gambar, tombol, konten, dan sebagainya tidak mengganggu kenyamanan pengguna.

Sementara itu, back end developer bertanggung jawab untuk memastikan agar situs atau aplikasi dapat bekerja semaksimal mungkin.

Dengan tugas tersebut, back end wajib memastikan agar semua sistem di dalam situs atau aplikasi dapat bekerja. Ia wajib memikirkan risiko-risiko yang mungkin hadir.

Ia misalnya harus memikirkan di mana muatan situs atau aplikasi disimpan, apakah data akan aman, hingga bagaimana jika pengguna melebihi kapasitas maksimal.

2. Skill yang dibutuhkan

Untuk menjadi seorang front end developer, dibutuhkan kemampuan dasar dalam tiga bahasa pemrograman berikut, HTML, CSS, dan Javascript.

Tiga kemampuan ini penting lantaran menjadi dasar dalam membuat situs atau aplikasi. HTML dan CSS adalah bahasa pemrograman dasar yang digunakan untuk membangun situs atau aplikasi.

Sementara, Javascript dipilih karena bahasa pemrograman ini mampu membuat elemen interaktif seperti menu atau form.

Selain dua bahasa pemrograman tersebut, untuk menjadi front end dibutuhkan kemampuan mengelola framework dan library.

Dua sumber yang sering kali digunakan adalah AngularJs, yang berfungsi untuk mengembangkan aplikasi, dan React.js, yang digunakan untuk membangun antarmuka pengguna.

Di lain pihak, back end developer diharuskan mahir dalam bahasa pemrograman yang akan ditampilkan di sisi server situs atau aplikasi. Bahasa pemrograman back end yang paling populer adalah PHP, Ruby, dan Python.

Selain itu, back end juga harus menguasai penggunaan perangkat lunak seperti MySQL, Oracle, dan SQL Server. Perangkat lunak ini penting untuk mereka kuasai karena p digunakan untuk pengembangan berbasis database.

Sama halnya dengan front end, dalam back end juga dibutuhkan kemampuan menggunakan framework dan library. Pada umumnya, perusahaan mensyaratkan kemampuan menggunakan Express, Django, C#, dan GO.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

3. Kapan front end dan back end bekerja?

Front end developer mulai bekerja setelah UI designer menyelesaikan desain. Apabila tidak ada perubahan, desain ini – yang biasa diunggah di Sketch – akan langsung diaplikasikan oleh front end ke HTML, CSS, dan Javascript.

Desain yang telah dipindahkan oleh front end akan diatur sistemnya oleh back end. Back end akan menentukan instruksi-instruksi yang akan dijalankan oleh situs atau aplikasi ini. Peran mereka akan berat karena tidak boleh ada kesalahan logika di setiap instruksi yang dibuat.

Haruskah Mempelajari Keduanya?

Sebenarnya, beberapa perusahaan tidak memiliki syarat seseorang harus menguasai kedua posisi ini. Terlepas dari itu, Career Foundry punya gambaran tentang perlukah mempelajari keduanya.

Apabila developer yang bersangkutan memiliki skill front end, ia tidak diwajibkan untuk piawai menjalankan back end. Hal serupa juga berlaku sebaliknya.

Ada pula perusahaan yang mensyaratkan kandidatnya untuk setidaknya memahami masing-masing peran.

Hal ini disebabkan agar masing-masing peran tidak saling membebani, baik secara tugas maupun ketika mengembangkan aplikasi.

Bagi pelamar, alangkah lebih baik apabila fokus di salah satu peran. Apabila kamu tertarik dengan desain dan menciptakan pengalaman terbaik bagi pengguna, cobalah bekerja di sisi front end.

Sebaliknya dengan back end. Apabila tertarik dengan data, menggunakan algoritma tertentu untuk memecahkan masalah dan mengoptimalkan sistem yang kompleks, mungkin kamu akan lebih cocok bekerja sebagai back end.

Nah, apabila kamu merasa menyukai dua peran tersebut, mungkin kamu perlu mencoba untuk menjadi full stack developer.

Meski begitu, lagi-lagi ini kembali ke kebijakan perusahaan. Pasalnya, ada perusahaan yang secara khusus membagi developer ke dalam tiga bagian, front end, back end, dan full stack.

Begitu perbedaan keduanya bagi kamu yang ingin bercita-cita menjadi seorang developer. Untuk mewujudkan cita-citamu menjadi seorang developer tentu kamu perlu belajar di tempat yang tepat. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan Kampus IT di Bali siap membantumu dalam mewujudkannya.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali memiliki dua program studi yaitu Teknik Informatika dan Sistem Komputer. Tentu dua program studi tersebut merupakan pilihan yang tepat untuk mewujudkan cita-citamu menjadi seorang developer atau profesional IT. Selain itu, STIKI Indonesia meski Kampus IT di Bali tetap mengedepankan kurikulum berbasiskan budaya khususnya budaya Bali.

Sangat cocok bagi kamu yang tidak tinggal di Pulau Bali untuk belajar tentang budaya Bali. Selain bisa mempelajari budaya bali, kamu juga bisa mendapatkan banyak keuntungan apabila memutuskan kuliah di Bali. Apa saja keuntungannya? Simak di link berikut ini: Kuliah di Bali.