Generic placeholder image

Apa Perbedaan Front End dan Back End Developer?

11 Ags 2021   Berita

Bagi kamu yang berkeinginan menjadi developer harus tahu apa perbedaan dari Front End dan Back End Developer. Front End dan Back End Developer memegang peranan penting dalam website mau pun aplikasi. Dikutip dari glints, Front end developer adalah orang yang berperan mengembangkan tampilan situs atau aplikasi melalui HTML, CSS, dan JavaScript. Sementara, back end adalah orang yang berperan agar situs atau aplikasi dapat bekerja.

Apa perbedaan secara detail keduanya? Berikut uraiannya seperti dikutip dari glints:

Menurut Career Foundry, front end developer adalah orang yang bertugas untuk menghubungkan sebuah situs atau aplikasi dengan pengguna.

Secara umum, ia membuat teks, gambar, tombol, dan menu serta interaksi antara situs atau aplikasi dengan pengguna. Oleh karena itu, peran ini juga biasa disebut dengan client-side.

Front end tidak benar-benar merancang desain dari sebuah situs atau aplikasi. Pasalnya, hal tersebut adalah tugas UI designer.

Front end bertugas untuk memindahkan desain dari UI designer ke dalam bentuk yang interaktif dan membuat desain tersebut menjadi hidup.

Untuk membangun situs atau aplikasi, dibutuhkan pula seorang back end developer.

Ia bertugas untuk memastikan agar apa yang dibuat oleh front end developer atau sistem dan server di balik situs atau aplikasi dapat bekerja. Posisi ini biasa disebut server-side.

Back end amat dibutuhkan karena memiliki kemampuan mengolah sebuah situs atau aplikasi. Hal ini dikarenakan pengembangan dan perbaikan situs atau aplikasi akan terus terjadi.

Untuk melakukan itu, suatu situs atau aplikasi membutuhkan seorang back end.

Secara umum, perbedaan front end dan back end terlihat dari apa yang mereka buat, skill yang dibutuhkan, hingga waktu pengerjaan untuk masing-masing peran.

1. Cara kerja front end dan back end

Pada prinsipnya, front end bekerja untuk memastikan agar situs atau aplikasi dapat dilihat oleh pengguna. Mereka bertanggung jawab agar pengguna dapat mendapatkan informasi sampai berinteraksi dengan situs atau web secara nyaman.

Tugas tersebut membuat front end pada akhirnya fokus pada komposisi di dalam situs atau aplikasi.

Ia harus memastikan agar isi situs atau aplikasi, seperti gambar, tombol, konten, dan sebagainya tidak mengganggu kenyamanan pengguna.

Sementara itu, back end developer bertanggung jawab untuk memastikan agar situs atau aplikasi dapat bekerja semaksimal mungkin.

Dengan tugas tersebut, back end wajib memastikan agar semua sistem di dalam situs atau aplikasi dapat bekerja. Ia wajib memikirkan risiko-risiko yang mungkin hadir.

Ia misalnya harus memikirkan di mana muatan situs atau aplikasi disimpan, apakah data akan aman, hingga bagaimana jika pengguna melebihi kapasitas maksimal.

2. Skill yang dibutuhkan

Untuk menjadi seorang front end developer, dibutuhkan kemampuan dasar dalam tiga bahasa pemrograman berikut, HTML, CSS, dan Javascript.

Tiga kemampuan ini penting lantaran menjadi dasar dalam membuat situs atau aplikasi. HTML dan CSS adalah bahasa pemrograman dasar yang digunakan untuk membangun situs atau aplikasi.

Sementara, Javascript dipilih karena bahasa pemrograman ini mampu membuat elemen interaktif seperti menu atau form.

Selain dua bahasa pemrograman tersebut, untuk menjadi front end dibutuhkan kemampuan mengelola framework dan library.

Dua sumber yang sering kali digunakan adalah AngularJs, yang berfungsi untuk mengembangkan aplikasi, dan React.js, yang digunakan untuk membangun antarmuka pengguna.

Di lain pihak, back end developer diharuskan mahir dalam bahasa pemrograman yang akan ditampilkan di sisi server situs atau aplikasi. Bahasa pemrograman back end yang paling populer adalah PHP, Ruby, dan Python.

Selain itu, back end juga harus menguasai penggunaan perangkat lunak seperti MySQL, Oracle, dan SQL Server. Perangkat lunak ini penting untuk mereka kuasai karena p digunakan untuk pengembangan berbasis database.

Sama halnya dengan front end, dalam back end juga dibutuhkan kemampuan menggunakan framework dan library. Pada umumnya, perusahaan mensyaratkan kemampuan menggunakan Express, Django, C#, dan GO.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

3. Kapan front end dan back end bekerja?

Front end developer mulai bekerja setelah UI designer menyelesaikan desain. Apabila tidak ada perubahan, desain ini – yang biasa diunggah di Sketch – akan langsung diaplikasikan oleh front end ke HTML, CSS, dan Javascript.

Desain yang telah dipindahkan oleh front end akan diatur sistemnya oleh back end. Back end akan menentukan instruksi-instruksi yang akan dijalankan oleh situs atau aplikasi ini. Peran mereka akan berat karena tidak boleh ada kesalahan logika di setiap instruksi yang dibuat.

Haruskah Mempelajari Keduanya?

Sebenarnya, beberapa perusahaan tidak memiliki syarat seseorang harus menguasai kedua posisi ini. Terlepas dari itu, Career Foundry punya gambaran tentang perlukah mempelajari keduanya.

Apabila developer yang bersangkutan memiliki skill front end, ia tidak diwajibkan untuk piawai menjalankan back end. Hal serupa juga berlaku sebaliknya.

Ada pula perusahaan yang mensyaratkan kandidatnya untuk setidaknya memahami masing-masing peran.

Hal ini disebabkan agar masing-masing peran tidak saling membebani, baik secara tugas maupun ketika mengembangkan aplikasi.

Bagi pelamar, alangkah lebih baik apabila fokus di salah satu peran. Apabila kamu tertarik dengan desain dan menciptakan pengalaman terbaik bagi pengguna, cobalah bekerja di sisi front end.

Sebaliknya dengan back end. Apabila tertarik dengan data, menggunakan algoritma tertentu untuk memecahkan masalah dan mengoptimalkan sistem yang kompleks, mungkin kamu akan lebih cocok bekerja sebagai back end.

Nah, apabila kamu merasa menyukai dua peran tersebut, mungkin kamu perlu mencoba untuk menjadi full stack developer.

Meski begitu, lagi-lagi ini kembali ke kebijakan perusahaan. Pasalnya, ada perusahaan yang secara khusus membagi developer ke dalam tiga bagian, front end, back end, dan full stack.

Begitu perbedaan keduanya bagi kamu yang ingin bercita-cita menjadi seorang developer. Untuk mewujudkan cita-citamu menjadi seorang developer tentu kamu perlu belajar di tempat yang tepat. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) yang merupakan Kampus IT di Bali siap membantumu dalam mewujudkannya.

STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali memiliki dua program studi yaitu Teknik Informatika dan Sistem Komputer. Tentu dua program studi tersebut merupakan pilihan yang tepat untuk mewujudkan cita-citamu menjadi seorang developer atau profesional IT. Selain itu, STIKI Indonesia meski Kampus IT di Bali tetap mengedepankan kurikulum berbasiskan budaya khususnya budaya Bali.

Sangat cocok bagi kamu yang tidak tinggal di Pulau Bali untuk belajar tentang budaya Bali. Selain bisa mempelajari budaya bali, kamu juga bisa mendapatkan banyak keuntungan apabila memutuskan kuliah di Bali. Apa saja keuntungannya? Simak di link berikut ini: Kuliah di Bali.

Generic placeholder image

Waspada! Cari Tahu 5 Jenis Serangan Siber

06 Ags 2021   Berita

Potensi serangan siber patut diwaspadai di era semakin meningkatnya digitalisasi. Serangan siber merupakan jenis serangan yang menyasar sistem komputer perorangan, perusahaan atau instansi yang biasanya dilakukan oleh peretas demi mendapatkan keuntungan berupa uang atau hanya demi kepuasan semata.

Dikutip dari aqi.co.id, serangan siber dilaporkan semakin meningkatkan selama Pandemi Covid-19 di awal tahun 2020. Pandemi Covid19 memaksa setiap individu untuk berdiam diri dan melaksanakan segala aktivitas dari rumah, termasuk untuk urusan pekerjaan.

Tak heran di tahun 2020 terjadi lonjakan kenaikan pengguna internet. Kenaikan pengguna internet ini turut meningkatkan jumlah serangan siber di Indonesia. Untuk itu, penting bagi setiap individu, perusahaan, atau instansi untuk mengetahui apa saja jenis-jenis serangan siber yang ada saat ini.

Berikut lima jenis serangan siber dikutp dari aqi.co.id:

DoS

Tahun 2018, Github, yang menjadi platform untuk manajemen proyek dan sistem versioning code sekaligus platform jaringan sosial bagi para developer, diketahui sempat down akibat serangan peretas. Jenis serangan yang dialami Github kala itu adalah DoS.

DoS kependekan dari Denial of Service, yaitu jenis serangan yang berusaha melumpuhkan sebuah website agar tidak bisa diakses pengguna. Peretas akan melakukan serangan secara bertubi-tubi agar situs down sampai kemudian lumpuh total.

Malware

Malware adalah sebuah perangkat lunak yang berbahaya karena dirancang untuk merusak sistem komputer. Malware juga mengandung virus. Ketika malware berhasil masuk ke sebuah perangkat, maka dengan cepat malware mampu merusak sistem dalam perangkat tersebut.

Selain merusak sistem, kemampuan lain malware adalah mencuri data. Bayangkan jika malware masuk ke komputer perusahaan yang menyimpan data penting, tentu amat bahaya.

Biasanya malware menyusup ke perangkat manakala pengguna mengunduh file kemudian menginstallnya di perangkat. Malware dikategorikan sebagai serangan siber yang paling berbahaya.

kuliah IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali

Phishing

Phishing seringkali digunakan untuk mencuri data penting. Data-data penting yang dimaksud misalnya PIN, password, dan username. Seperti kita tahu, dengan memperoleh username, password, dan PIN, maka si pencuri bisa masuk ke akun kita dan mengambil alih kendali atas akun tersebut.

Bayangkan bila akun yang dicuri adalah akun perbankan, akun email, akun sosial media, dan akun ecommerce, tentu bisa fatal akibatnya. Peretas bisa mendapatkan kendali atas akun tersebut dan kita akan kehilangan kendali, yang selanjutnya bisa mengakibatkan kerugian finansial.

Phishing dilakukan dengan menyebarkan email berisikan attachment atau link. Link tersebut akan mengarahkan target ke sebuah halaman tipuan yang bisa terlihat kredibel atau resmi. Misalnya saja, link untuk pembelian produk handphone terbaru dengan diskon super murah. Penerima email yang tertarik dengan promosi tersebut mungkin bermaksud memesan kemudian mengisikan data-data kartu kreditnya di laman tipu-tipu tersebut. Akhirnya peretas berhasil mendapatkan data penting pengguna untuk digunakan kejahatan selanjutnya.

Credential Reuse

Jenis serangan siber ini memanfaatkan kredensial yang mirip di beberapa akun. Misalnya anda menggunakan username dan pasword yang mirip di akun email, akun sosial media, akun ecommerce, dsb. Kondisi tersebut menjadi sasaran empuk serangan siber.

Peretas mungkin mendapatkan username and password satu akun anda, tapi karena anda menggunakannya di beberapa akun lain, maka peretas akan bisa dengan mudah mengambil alih akun lain anda. Maka dari itu, disarankan untuk menggunakan username dan password yang berbeda untuk tiap-tiap akun. Bila khawatir lupa, anda bisa mencatatnya di memo dan menyimpannya dengan aman di rumah.

SQL Injection

Jenis serangan yang selanjutnya adalah SQL Injection. Serangan ini harus diwaspadai oleh tiap-tiap IT perusahaan. SQL Injection bisa karena ada celah yang tidak bisa ditutupi oleh sistem keamanan dari database tersebut.

Hacker akan memasukkan kode seperti titik, petik tunggal, dan strip. Ketika kode tersebut berhasil, maka seluruh data dalam sebuah database akan terhapus dan data tersebut digunakan oleh hacker untuk melakukan tindakan lain yang bisa merugikan sebuah perusahaan.

Generic placeholder image

Fitur Close Friend Instagram, Perlu Atau Tidak?

03 Ags 2021   Berita

Fitur Close Friend Instagram akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan. Mungkin banyak juga dari kamu yang heran ketika mengetahui dijadikan close friend oleh temanmu padahal kamu enggak terlalu akrab.

Mungkin saja kamu dianggap dekat meski kamu biasa saja. Tetapi itu tandanya kamu dipercaya dan bisa menjaga rahasia.

Alasan lain mungkin saja kamu dianggap cuek dan enggak kepo dengan urusan temanmu. Dianggap kamu enggak akan kasih komentar yang aneh-aneh makanya kamu menjadi salah satu close friend temannya di Instagram.

Selain itu, bisa saja kamu dianggap sebagai orang yang open minded. Bisa jadi kamu masuk circle “close friend” karena dianggap less judgy. Apa pun yang teman kamu lakukan kamu enggak akan berkomentar.

Nah, sebelum membahas lebih jauh tentang fitur Close Friend Instagram, ada baiknya kita mengetahui fakta-fakta tentang fitur tersebut. Berikut uraiannya dikutip dari suara.com:

Akun yang masuk Close Friend tidak ada pemberitahuan

Dilansir dari laman Guiding Tech, pihak Instagram tidak memberikan pemberitahuan lebih lanjut pada akun atau orang yang menambahkan atau menghapus akun tersebut dari fitur close friend.

Tak Bisa Mendaftar untuk Masuk Close Friend

Seseorang tak bisa mendaftarkan dirinya untuk masuk dan menjadi daftar close friend akun Instagram orang lain. Mereka hanya bisa didaftarkan seorang yang membuat daftar close friend tersebut.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kampus IT

Bisa Highlight Instagram Story

Hampir sama dengan Instagram Story lainnya, unggahan di close friend juga bisa di tempatkan di fitur highlight story khusus Close Friend.

Tak Ada Pemberitahuan Apabila discreenshot

Hal yang paling membahayakan adalah unggahan Instagram Story close friend tak ada pemberitahuan apabila story miliknya di screenshot. Sehingga pemiliki tak bisa mengetahui siapa saja yang menyimpang unggahan tersebut.

Tidak Bisa Keluar dari Daftar Close Friend

Terakhir, kamu tidak bisa keluar begitu saja dari daftar Close Friend seseorang. Namun baiknya, kamu bisa mute story orang tersebut, sehingga tak perlu melihat story mereka lagi.

Itulah hal-hal penting yang perlu kamu ketahui mengenai unggahan Instagram Story Close Friend. Nah, setelah mengetahui lebih jauh tentang fitur Close Friend, sebenarnya fitur ini perlu atau tidak?

Perlu tidak perlu sebenarnya kita semua sudah harus bijak dalam menggunakan Instagram mau pun media sosial lainnya. Meski dianggap Close Friend sekali pun bukan berarti teman kita bisa menjaga rahasia dari seluruh postingan yang kita unggah. Untuk menghindari “kericuhan” ada baiknya kita semua bijak dalam menggunakan media sosial kita.