Generic placeholder image

Memanusiakan Manusia

27 Mei 2021   Berita

Konsep Memanusiakan manusia berpegang kepada nilai-nilai keadilan, kesetaraan dan nilai persaudaraan. Hak atas pelayanan, kesejahteraan, berpendapat dan beraktivitas menjadi salah satu cara memanusiakan manusia. Seorang yang dianggap gila sekali pun tidak hilang haknya sebagai manusia.

Istilah memanusiakan manusia merupakan upaya untuk membuat manusia menjadi berbudaya dan atau berakal budi. Sesama manusia harus saling menghargai, menghormati dan tidak mengadili. Tidak ada tindakan yang merendahkan, mencibir atau hal lain yang membuat sakit hati dan sebagainya.

Kata “Memanusiakan Manusia” sering ditujukan pada pelayanan pemerintah kepada rakyat melalui pelayanan publik. Padahal Memanusiakan Manusia menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia.

Pada dasarnya Memanusiakan Manusia merupakan bagian dari humanisme. Humanisme berasal dari kata Latin humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti manusia. Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia (A.Mangunhardjana dalam Haryanto Al-Fandi, 2011:71).

Humanisme adalah paham yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik.

Dalam aplikasinya, humanisme tidak memandang bangsa, agama, daerah, suku, warna kulit dan sejenisnya. Seorang yang memanusiakan manusia akan berusaha membantu siapa pun tidak memandang apa pun.

Seperti kata Presiden keempat Indonesia Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur bahwa: “Tidak penting apa pun agamamu, kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, mereka tidak akan pernah tanya apa agamamu.”

Gus Dur juga berkata: “Tuhan tidak perlu dibela, dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”

Dilansir Kompasiana, ada juga pengertian Memanusiakan Manusia adalah menjadi manusia seutuhnya. Artinya adalah tatkala kita sebagai manusia dapat menjadikan sesama manusia lebih terdidik, lebih bermartabat, lebih sukses, lebih pintar dan lebih baik hidupnya. Lewat hal ini baru seseorang benar-benar dapat memperoleh gelar “kemanusiaaan”.

kampus IT di bali, kampus swasta di bali, kuliah di bali, kampus IT, kampus desain, kampus akuntansi

Selama kepintaran, keterdidikan, kesuksesan, kekayaan dan semua kelebihan dimiliki hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri sendiri berarti belum menjadi manusia seutuhnya.

Peran pendidikan dalam memanusiakan manusia

Manusia yang dianugerahkan kesempurnaan oleh Tuhan membuat manusia mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya. Dalam pendidikan yang telah diperolehnya manusia diberi pilihan untuk membangu dan mengembangkan atau menghancurkan.

Dilansir Wikipedia, jika pendidikan mempunyai tujuan untuk masa depan dan bukan pada kemanusiaan manusia maka akan dapat terjadi pendidikan makin menjauhkan manusia dari rasa kemanusiaannya.

Pendidikan hanya menjadi sarana bagi manusia misalnya hanya untuk menghasilan uang, mencari keuntungan dan kenyamanan. Menurut Rose dan Nicholl masa depan yang sebenarnya tak seorang pun dapat menggambarkannya dengan pasti. Kita hanya dapat memprediksi berdasarkan apa yang telah dijalani selama ini .

Pendidikan sebaiknya berperan bukan hanya mempersiapkan masa depan saja, tetapi dapat menjadikan manusia dapat hidup guna melaksanakan tugas kemanusiaannya yaitu mampu menemukan kesempurnaannya sebagai manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan, mengembangkan karena manusia, bertumbuh dan berkembang guna mencapai perkembangan secara maksimal, dan menunjukkan,karena manusia butuh diakui sebagai manusia di antara sesamanya serta eksistensinya sebagai manusia yang sempurna.

Hal-hal inilah yang menjadi tugas manusia dalam melaksanakan tugas kemanusiaannya sebagai manusia khususnya dalam memanusiakan manusia dalam dunia pendidikan.

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) sebagai kampus IT di Bali terus berupaya memberikan pendidikan yang dapat memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, STIKI Indonesia yang merupakan kampus swasta di Bali ini memiliki tagline ‘Friendly Campus”.

Baik dosen, mau pun staf berupaya menjadi “teman” dengan mahasiswa. Maka, tak ada pembatas atau harus kaku ke mahasiswa sehingga mereka takut untuk menyampaikan keluh kesahnya.

Generic placeholder image

STIKI: Kampus Swasta di Bali Pemberi Solusi

29 Mar 2021   Berita

Kamu belum lulus masuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2021 jangan kecewa. Jalan masih terbuka lebar untuk kamu menimba ilmu di mana pun.

Banyak yang bilang kuliah di kampus negeri lebih baik dibandingkan dengan kuliah di kampus swasta. Persepsi seperti ini harus dihilangkan. Padahal mau kuliah di negeri atau di swasta sama saja asalkan kamu punya niat serius untuk belajar. Bayangkan, kuliah di negeri tetapi kamu malas kuliah? Kan menjadi percuma sudah masuk perguruan tinggi negeri.

Kamu tidak perlu berkecil hati apabila tidak lolos seleksi SNMPTN. Kamu masih bisa lihat masih banyak sosok-sosok hebat di negeri ini yang bisa menjadi ‘orang’ meski kuliah di kampus swasta. Contohnya Founder Tokopedia William Tanuwijaya yang merupakan alumnus jurusan Teknik Informatika tahun 1999 Universitas Bina Nusantara (Binus) yang merupakan kampus swasta di Jakarta.

Ada pula nama besar lainnya yang merupakan lulusan kampus swasta. Nama Wali Kota Bogor Bima Arya merupakan lulusan kampus swasta. Bima Arya merupakan lulusan Universitas Parahyangan Bandung (Unpar). Ada pula pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang merupakan lulusan Unpar. Siapa yang tidak kenal dengan Hotman Paris?

Masih banyak lagi orang-orang hebat di negeri ini yang merupakan lulusan kampus swasta. Dari mereka kita belajar untuk menjadi orang besar dan bisa meraih mimpi bisa didapat di mana pun. Salah satu caranya dengan tidak ragu memutuskan kuliah di kampus swasta.

Kampus IT di Bali, kampus swasta

STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) memiliki kurikulum yang tidak hanya fokus pada pengembangan hard skill. Namun, fokus pula membina soft skill mahasiswanya. Sebagai kampus swasta di Bali, STIKI paham betul soft skill sangat penting dan harus seimbang dengan hard skill bagi mahasiswa yang akan menghadapi dunia kerja. Perkembangan teknologi dan ekonomi digital yang semakin pesat saat ini tentu tidak hanya dibutuhkan hard skill semata. Menguasai soft skill berarti setiap orang diminta dapat memiliki kemampuan kerja yang berkualitas. Untuk yang mau tahu apa alasan pentingnya menguasai soft skill bisa dicek di link berikut: Pentingnya Soft Skill.

Selain mengedepankan keseimbangan antara hard skill dan soft skill, STIKI yang merupakan kampus IT di Bali ini juga memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk dapat kuliah sambil bekerja. STIKI yang merupakan kampus swasta di Bali paham betul mahasiswa memang membutuhkan uang tambahan sekaligus pengalaman kerja.

Salah satu mahasiswa STIKI Indonesia merasakan diberikan fleksibilitas untuk bisa bekerja sembari kuliah. Cerita mahasiswa yang diberikan kemudahan membagi waktu antara kuliah dan bekerja bisa dicek di link berikut: STIKI Permudah Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja.

kampus IT di Bali, kampus swasta di bali

STIKI juga satu-satunya kampus IT di Bali yang menerima pendanaan penelitian di perguruan tinggi non badan hukum tahun anggaran 2021 untuk skema Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT). Penelitian berjudul Model Smart Business: Pengembangan Business Intelligence System Pada Industri Ritel di Bali.

Hal ini membuktikan STIKI mengikuti imbauan dari Kemenristek/BPIN yang meminta setiap perguruan tinggi baik negeri mau pun swasta untuk tidak hanya fokus pada pengajaran. Namun, harus pula fokus pada bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Untuk mengetahui tentang STIKI yang menjadi satu-satunya kampus IT di Bali yang menerima hibah PTUPT tahun 2021 secara lengkap bisa dicek link berikut: STIKI satu-satunya kampus IT di Bali terima Hibah PTUPT.

Bagi kamu yang tidak tinggal di Bali dan berniat kuliah di Bali jangan ragu untuk menetap di Pulau Dewata. Kamu bisa mendapatkan banyak keuntungan apabila memutuskan kuliah di Bali. Salah satu keuntungan kuliah di Bali adalah kamu bisa merasakan keindahan toleransi yang tinggi. Masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi perbedaan.

Keuntungan lain yang bisa didapat apabila memutuskan kuliah di Bali adalah kamu bisa mempelajari budaya khususnya budaya Bali. STIKI Indonesia yang merupakan kampus IT di Bali ini tidak hanya fokus pada kurikulum berbasis teknologi informasi semata. Namun, fokus pula pada pembelajaran budaya Bali.

Kamu tentu ingin mempelajari budaya Bali yang dikenal beragam dan penuh keunikan. Sehingga kamu tidak perlu repot-repot mengulik sendiri tentang budaya Indonesia. STIKI Indonesia memang kampus swasta di Bali pemberi solusi. Untuk informasi lebih lanjut tentang pendaftaran mahasiswa dan informasi lainnya bisa dicek di link berikut ini: sip.stiki-indonesia.ac.id

Keuntungan lain yang didapat apabila kamu memutuskan kuliah di Bali bisa kamu cek di link berikut: Kuliah di Bali.

Generic placeholder image

Belajar Toleransi dari Bali

20 Mar 2021   Berita

Memiliki panorama alam yang indah. Budaya yang kental. Memiliki Seribu pura. Pulau Bali namanya. Meski masyarakatnya mayoritasnya beragama Hindu, namun toleransi antar umat beragama di Bali sangat tinggi.

Bukti nyata kerukunan umat beragama di Bali adalah adanya Pusat Peribadatan Puja Mandala yang berada di kawasan Nusa Dua. Tempat ini terdapat 5 tempat ibadah sekaligus dalam satu tempat.

Pusat Peribadatan tersebut terdapat Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Wihara Budhida Guna, Gereja Kristen Protestan Bukit Doa dan Pura Jagatnatha.

Dikutip dari phinemo.com, Pusat Peribadatan Puja Mandala Dibangun di atas tanah seluas 2 hektar, 5 bangunan ini didirikan dengan adil. Bangunan memiliki luas dan tinggi yang sama.

Tidak ada pembatas antar satu bangunan dengan yang lain. Memiliki 1 halaman dengan pintu masuk yang sama, mereka bisa saling berbaur walaupun menuju tempat yang berbeda untuk beribadah.

Contoh toleransi di tempat ini adalah ketika sebelum memasuki adzan sholat dzuhur, kamu akan mendengar lonceng terdengar lebih dulu dari gereja. Setelah lonceng benar-benar berhenti, barulah muadzin akan segera mengumandangkan adzan. Bangunan peribadatan satu dengan yang lain tak akan saling berebut. Berjalan beriringan dan saling menghormati.

puja-mandala-bali-03-28bb5483e10d4b08ccc29b12be8c47c7_600x400

Bukti toleransi lain adalah Bali dijadikan tempat belajar pemuda negara-negara ASEAN. Dikutip dari Republika, sebanyak 22 pemuda mengunjungi desa Dalung, Kuta Utara, Badung pada November 2018 lalu. Mereka merupakan peserta ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2018 yang datang untuk belajar bagaimana toleransi berjalan di desa itu.

Para pemuda yang kebanyakan masih mahasiswa itu dikumpulkan di Gedung Serbaguna Banjar Bhineka Nusa Kauh, yang juga merupakan gedung olah raga (GOR) dengan beberapa lapangan bulutangkis.

Meski segalanya terasa sederhana, para peserta AYIC tampak bersemangat mengikuti diskusi yang dipimpin oleh Tokoh Masyarakat I Made Ngurah. Mereka tampak antusias mengamati arca arca di sekitar gedung hingga kekompakan para pecalang yang mengamankan acara mereka.

Acara pun berlangsung, para pemuda ASEAN itu mendengarkan penjelasan yang disampaikan Ngurah dan tokoh masyarakat lainnya. Ngurah menyampaikan bagaimana desa Dalung dapat hidup rukun meski terdiri dari berbagai agama dan suku masyarakatnya.

“Di sini semua agama enam-enamnya (agama) ada, bahkan yang kepercayaan juga ada, nah kita hidup bareng-bareng, kenapa bisa berdampingan, karena kita semua keluarga,” ucap Ngurah.

Kebersamaan itu, kata Ngurah ditunjukkan dengan kegiatan masyarakat yang selalu dilakukan bersama, misalnya saat ada orang meninggal dari agama apapun.

Bahkan, kata dia, pecalang atau penjaga desa yang di desa-desa Bali lainnya beragama Hindu, di Dalung para pecalang memiliki agama yang berbeda.

“Pecalang saja lintas agama di sini, lintas suku, ada yang Islam ada yang Kristen, ada yang dari Flores, semuanya bareng,” kata Ngurah.

Para pemuda pun diberi kesempatan untuk menanyakan untuk berbagai hal. Kesempatan itu tidak dilewatkan begitu saja oleh para pemuda dari negara Asia Tenggara itu.

Pertanyaan yang diajukan pun beragam, mulai dari pertanyaan seputar dekorasi di Bali hingga bagaimana kehidupan bermasyarakat di desa Dalung.

Masih banyak lagi bukti bahwa Pulau Bali memang tempat yang sangat nyaman untuk kita tinggal. Alam yang indah, toleransi yang tinggi membuat masyarakatnya hidup dengan damai.

Bagi kamu yang ingin tinggal di Bali tentu harus ikut melestarikan budaya ini. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Selain toleransi yang tinggi, ada keuntungan lain yang bisa kamu dapat apabila memilih kuliah di Bali. Kamu yang berada di luar Bali bisa cek di link berikut tentang sederet keuntungan kuliah di Bali: Kuliah di Bali.

Salah satu keuntungan yang bisa didapat apabila memilih kuliah di Bali adalah kamu dapat mempelajari budaya Bali. STMIK STIKOM Indonesia (STIKI) memiliki kurikulum yang berbasis budaya khususnya budaya Bali. Maka dari itu, kamu bisa sekaligus mempelajari tentang budaya Bali. Sebagai kampus swasta di bali, STIKI memang ingin mencetak lulusan yang juga dapat melestarikan budaya. Informasi lebih lanjut tentang pendaftaran mahasiswa bisa kamu cek di link berikut: sip.stiki-indonesia.ac.id.