Generic placeholder image

Work From Bali, Langkah Pulihkan Ekonomi?

25 Mei 2021   Berita

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berencana membuat program bekerja dari Bali atau Work From Bali bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) di tujuh kementerian di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Adanya program ini dianggap dapat menaikkan permintaan bagi sektor pariwisata di Pulau Dewata Program ini akan diikuti tujuh kementerian lembaga di Bawah Kemenko Marves, yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kemenparekraf, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian

Dikutip dari CNBCIndonesia.com, sebanyak 16 hotel yang berada dalam kawasan The Nusa Dua telah berkoordinasi dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengelola kawasan pariwisata The Nusa Dua untuk melakukan kerjasama dalam penyediaan akomodasi dan fasilitas hotel dengan Kemenko Marves.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan program Work From Bali ditargetkan sebagai pertolongan pertama untuk sektor pariwisata Bali. Dikutip dari Kompas.com, Sandiaga menjelaskan bahwa kunjungan wisatawan Nusantara ke Pulau Dewata turun drastis selama dua minggu sebelumnya akibat larangan mudik dan pembatasan. Namun, per hari Senin (24/5/2021), kunjungan wisata Bali sudah kembali ke level di 5.000-6.000 orang.

“Tingkat hunian kamar untuk hotel bintang adalah di bawah 10 persen, tepatnya 8,99 persen, dan hotel non-bintang lebih rendah lagi, 7,7 persen,” kata Sandiaga saat Weekly Briefing, Senin (24/5/2021) di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat.

Sandiaga melanjutkan, rata-rata lama menginap pada Februari 2021 untuk hotel bintang adalah 2,67 hari dan untuk hotel non-bintang adalah 1,89 hari.

“Dengan hadirnya kami di Bali, diharapkan ada peningkatan tingkat keterhunian karena multiplayer-nya sangat besar. Bukan hanya dari perhotelan, restoran, tapi juga dari produk-produk ekonomi kreatif,” ujar Sandiaga.

Ia menambahkan, realisasi anggaran belanja pemerintah akan dikawal agar tidak terjadi pemborosan.Sebelum Covid-19 mewabah, kedatangan wisatawan mancanegara mampu berkontribusi terhadap 55 persen dari penghasilan devisa dan pariwsata.

“Jika kita bisa mendapatkan 75 persen replacement atau penggantian dari wisatawan mancanegara dengan wisatawan nusantara dengan tingkat kualitas belanja maupun lamanya tinggal di Bali mendekati, maka harapan kita bahwa Bali bisa positif pertumbuhan ekonominya,” tutur Sandi.

Kampus IT di Bali, Kampus swasta di Bali, Kuliah di Bali

Dalam program WFB ini, tercatat 25 persen ASN diusulkan untuk mengikutinya. Program ini juga sedang dalam tahap finalisasi Kemenko Marves. Diharapkan, program ini dapat membawa pertumbuhan positif terhadap perekonomian Bali di akhir Q3 dan Q4 tahun ini.

Program Work From Bali ini juga dianggap sekaligus mampu mendorong kesiapan Indonesia terkait Digital Nomad. Digital Nomad merupakan sesorang yang bekerja tanpa terikat waktu dan tempat.

Kondisi Bali Memprihatinkan

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves, Odo R.M Manuhutu menjelaskan program ini sudah dibahas dari beberapa bulan lalu. Melihat ekonomi Bali yang masih terkontraksi mencapai 9,36% di tahun 2020.

“Di mana tingkat kunjungan Bali minim, tingkat okupansi hotel hanya 10%, hotel tidak cukup bayar gaji karyawan, maintenance juga tidak cukup,” jelasnya dikutip dari CNBCIndonesia.com.

Odo bercerita banyak karyawan pelaku industri pariwisata yang dirumahkan juga. Kondisinya saat ini, dari total 140 ribu kamar di Bali yang terisi hanya 10%. Sementara untuk menjalankan operasional paling tidak tingkat keterisian hotel mencapai 30% – 40%.

Rencana Work From Bali yang dicanangkan lebih dulu oleh pemerintah ini diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata. Pemerintah meyakini perusahaan-perusahaan swasta bakal mengikuti kebijakan tersebut seumpama program ini berjalan.

“Kemarin sudah ada satu-dua industri yang menyatakan tertarik untuk work from Bali, Jadi intinya kita akan membangun kepercayaan itu,” kata Odo dikutip dari Tempo.

Dia mengatakan rencana Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk bekerja dari Bali atau work from Bali tak terlepas dari salah satu upaya pemerintah membangkitkan perekonomian Pulau Dewata. Upaya serupa, kata dia, pernah dilakukan saat Bali menghadapi penurunan kunjungan wisatawan akibat peristiwa terorisme pada 2002 lalu.

“Kita belajar 15-20 tahun lalu ketika ada terorism bom di bali, ada penurunan jumlah wisatawan sangat dalam, yang dilakukan pemerintah saat itu adalah mengadakan berbagai konferensi internasional,” katanya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Bali, Trisno Nugroho menjelaskan wisatawan domestik dan mancanegara turun drastis. Kuartal I tahun ini turun 99%, hanya 349 ribu year on year. Sementara wisatawan domestik hanya 417 ribu turun 57,97% yoy.

“Tingkat Dana Pihak Ketiga (DPK) Bali juga melambat di Bali, artinya banyak masyarakat di Bali yang sudah makan tabungan, dan perusahaan sudah banyak ambil giro, beda dengan arah provinsi lain,” jelasnya.

Trisno melanjutkan kredit restrukturisasi di Bali juga sudah besar mencapai 30% dari portofolio kredit di Bali yang mencapai Rp 105 triliun. Artinya perusahaan yang tergantung dari pariwisata sudah melakukan restrukturisasi.

“Tingkat pengangguran di Bali juga naik, pada 2020 Bali itu terendah hanya 1,52%, sekarang dari nomor satu terkecil menjadi nomor 25. Karena banyak hotel merumahkan pekerja,” jelasnya.